Hasilnya, pasien Covid-19 lebih banyak mengalami kehilangan penciuman.
Para pasien ini kurang bisa mengenali bau dan sama sekali tidak bisa membedakan rasa pahit atau manis.
"Tampaknya memang ada fitur pembeda yang membedakan virus corona dari virus penyakit pernapasan lainnya."
"Ini sangat menarik karena itu berarti tes bau dan rasa dapat digunakan untuk membedakan antara pasien Covid-19 dan orang dengan pilek atau flu biasa," jelas Prof Philpott yang bekerja untuk membantu orang dengan gangguan penciuman dan perasa.
Dia mengatakan orang bisa melakukan tes penciuman dan rasa sendiri di rumah.
Caranya adalah dengan menggunakan produk seperti kopi, bawang putih, jeruk atau lemon, dan gula.
Kendati demikian, dia menekankan bahwa tes swab tenggorokan dan hidung masih penting untuk meyakinkan status positif atau negatif Covid-19.
Lebih lanjut, indera perasa dan penciuman dari pasien corona ini akan kembali sekira beberapa minggu setelah pulih.
Selain Prof Philpott, Prof Andrew Lane dari Universitas John Hopkins yang merupakan pakar hidung dan sinus turut mendalami gejala Covid-19 satu ini.
Baca: Sekeluarga di Magelang Positif Corona, Ayah Nyeri Kepala dan Ibu Anak Hilang Indera Penciuman
Baca: Remaja Ini Cerita Saat-saat Dinyatakan Positif Corona: Pilek hingga Kehilangan Indera Penciuman
Dia dan timnya mempelajari sampel jaringan dari bagian belakang hidung untuk memahami bagaimana virus corona dapat menghilangkan penciuman dan menerbitkan temuannya itu di European Respiratory Journal.
Mereka mengidentifikasi tingkat enzim yang sangat tinggi yang hanya ada di area hidung yang berkaitan langsung dengan indera penciuman.
Enzim yang disebut ACE-2 (angiotensin converting enzyme II), dianggap sebagai 'titik masuk' yang memungkinkan virus corona masuk ke dalam sel tubuh dan menyebabkan infeksi.
Hidung merupakan salah satu tempat masuknya virus SARS-CoV-2 ke dalam tubuh.
"Kami sekarang melakukan lebih banyak eksperimen di laboratorium untuk melihat apakah virus memang menggunakan sel-sel ini untuk mengakses dan menginfeksi tubuh."
"Jika itu masalahnya, kami mungkin dapat mengatasi infeksi dengan terapi antivirus yang diberikan langsung melalui hidung," jelasnya.
(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)