TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Haji dan Umrah menyiapkan skema baru dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M guna memaksimalkan pelayanan pada fase puncak haji.
Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah penempatan petugas yang telah memiliki pengalaman berhaji langsung di kawasan Mina.
Baca juga: Banyak yang Alami Dehidrasi & Lelah Pasca Armuzna, Jemaah Haji Diimbau Jaga Kesehatan Jelang Pulang
Kepala Satuan Operasional (Kasatop) Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) 2025, Harun Al Rasyid, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi penguatan layanan di kawasan Armuzna, khususnya Mina yang menjadi titik krusial pergerakan jemaah.
"Rencana tahun ini, petugas baik dari unsur perlindungan jemaah (linjam) maupun layanan lainnya yang sudah berhaji akan langsung kita tempatkan dari pemondokan di Makkah menuju Mina," ujar Harun melalui keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
Penempatan petugas dilakukan seiring pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah.
Dengan skema ini, petugas sudah lebih dulu bersiaga di Mina untuk menyambut dan memantau arus jemaah saat bergerak dari Arafah ke Muzdalifah hingga kembali ke Mina.
Menurut Harun, kebijakan tersebut akan membuat pemantauan dan pemberian bantuan kepada jemaah menjadi lebih efektif.
"Sehingga pos-pos yang menjadi tanggung jawab petugas PPIH bisa maksimal dalam melakukan pemantauan, peninjauan, dan memberikan bantuan yang dibutuhkan jemaah," jelasnya.
Pada pelaksanaan haji tahun ini, petugas PPIH akan mengisi 10 pos layanan di Mina serta 10 pos di jalur pergerakan jemaah.
Selain itu, petugas linjam dan petugas lainnya juga akan disiagakan dalam Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat, khususnya di lantai atas dan lantai 3 yang terdiri dari lima pos.
"Jarak antara tenda Mina dengan pos di Jamarat cukup jauh. Karena itu, petugas sudah kita tempatkan langsung di lokasi agar saat jemaah tiba, petugas sudah siap dan tenaga mereka tidak terkuras," kata Harun.
Pada malam pertama pergerakan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina dan Jamarat, potensi kepadatan serta kelelahan jemaah sangat tinggi, sehingga kebutuhan akan pertolongan cepat sangat mungkin terjadi.
"Di situlah kita anggap lebih efektif jika petugas yang sudah berhaji ditempatkan langsung di pos-pos tersebut," ujarnya.
Kebijakan ini, kata Harun, merupakan hasil evaluasi dari penyelenggaraan haji pada tahun-tahun sebelumnya.
Meski secara umum pelaksanaan berjalan baik, Kementerian Haji dan Umrah terus melakukan penyempurnaan.
Baca tanpa iklan