TRIBUNNEWS.COM - Penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M menjadi momentum penting yang kembali memperlihatkan kesiapan Indonesia dalam melayani jutaan tamu Allah.
Berdasarkan Rencana Perjalanan Ibadah Haji (RPH), rangkaian keberangkatan dimulai sejak 21 April 2026 (4 Dzulqa’dah 1447 H), saat para jemaah mulai memasuki asrama haji untuk menjalani proses pemeriksaan, pembinaan, hingga persiapan akhir sebelum terbang ke Tanah Suci.
Keberangkatan jemaah dibagi dalam dua gelombang.
Gelombang pertama mulai diterbangkan pada 22 April 2026 dengan tujuan Madinah Al-Munawwarah, sebelum kemudian secara bertahap diberangkatkan ke Makkah pada 1 Mei 2026.
Sementara itu, gelombang kedua dijadwalkan berangkat langsung menuju Makkah Al-Mukarramah pada 7 Mei 2026 (20 Dzulqa’dah 1447 H).
Skema ini dirancang untuk mengatur arus jemaah agar lebih tertib serta memaksimalkan pelayanan di dua kota suci.
Pelepasan kloter pertama dilakukan oleh Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, dari Asrama Haji Jakarta.
Sebanyak 391 jemaah asal Jakarta Timur yang tergabung dalam kloter JKG-01 menjadi rombongan awal yang memulai perjalanan spiritual menuju Arab Saudi melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Tidak hanya dari sisi transportasi, kesiapan juga terlihat pada sistem akomodasi jemaah di Arab Saudi yang telah dirancang secara terstruktur dan terintegrasi.
Mengutip dari haji.go.id, pemerintah Indonesia telah mengontrak seluruh hotel yang akan digunakan jemaah, yakni 177 hotel di Makkah dan 100 hotel di Madinah.
Di Madinah, penginapan terkonsentrasi di kawasan Markaziyah yang dekat dengan Masjid Nabawi, sedangkan di Makkah tersebar di sejumlah wilayah strategis seperti Syisyah, Raudhah, Misfalah, Jarwal, dan Aziziyah.
Baca juga: 8 Hal yang Dilarang Dilakukan Saat di Masjidil Haram, Berikut Etika yang Harus Dipatuhi Jemaah Haji
Seluruh hotel tersebut tidak hanya dipilih berdasarkan kapasitas, tetapi juga telah disesuaikan dengan kebutuhan layanan jemaah, mulai dari konsumsi, transportasi, hingga akses menuju Masjidil Haram.
Bahkan, setiap penginapan telah dikonfigurasi sesuai kloter dan diintegrasikan ke dalam aplikasi Nusuk, yang menjadi syarat penting dalam proses penerbitan visa.
Sistem ini memungkinkan pengelolaan jemaah menjadi lebih rapi, transparan, dan terpantau secara digital.
Untuk mempermudah pengendalian di lapangan, khususnya di Makkah, seluruh hotel dibagi ke dalam 10 sektor layanan.
Baca tanpa iklan