TRIBUNNEWS.COM, MINA - Karena jarak maktab dengan jamarat (tempat melontar jumrah) terlalu jauh, ribuan jamaah haji lebih memilih melakukan mabit atau bermalam di dekat Jamarat. Selain itu juga untuk alasan keamanan.
Mabit dan melontar jumroh di Mina merupakan salah satu wajib haji. Proses ibadah ini harus dilakukan jamaah bila tidak ingin terkena dam atau denda. Mabit di Mina dilakukan setelah sebelumnya jamaah mabit di Muzdalifah dan mengambil kerikil batu untuk melempar jumroh.
Di Mina ada dua hal yang dilakukan para jamaah. Pertama, melontar jumroh. Pada hari Nahar (penyembelihan), jamaah hanya melontar jumroh Aqobah. Sementara pada hari Ayyamut Tasyrik (hari tasyrik) melontar jumroh Ula, Wustho, dan Aqobah.
Selain melempar jumroh, jamaah juga mabit yaitu tinggal dan menginap di Mina selama malam Ayyamut Tasyrik. Selama mabit di mina, jamaah dianjurkan banyak zikir, dan berdoa.
Jamaah sudah mulai mabit di Mina sejak Selasa (16/11/2010) sore.Selain tinggal di tendanya masing-masing, banyak jamaah yang memilih mabit dengan menggelar tikar atau sajadah di jalanan menuju jamarat. Ada juga yang memasang tenda untuk berlindung dari cuaca.
Di jalan-jalan menuju Jamarat Mina, misalnya dari depan Kantor Misi Haji
Indonesia Makkah menuju Mina, ribuan jamaah duduk-duduk ataupun tidur begitu saja di alam terbuka. Beberapa lainnya juga mengisi Mabit dengan berjalan-jalan atau pun bersendagurau dengan kerabat ataupun sahabat di dekatnya. (MCH)
Jamaah Lebih Memilih Mabit di Dekat Jamarat
Editor: Anita K Wardhani
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan