Catatan Wartawan Tribunnews.com, Dahlan Dahi
INILAH memang ayat suci kaum politisi: Tidak ada kawan yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan.
Hal itu tercermin dengan jelas pada sikap Amerika Serikat melalui Menlu Hillary Clinton terhadap Aljazeera, stasiun TV Arab yang bermarkas di Doha, Qatar.
"Aljazeera telah menjadi pemimpin dalam mengubah opini dan sikap. Dan suka atau tidak suka, itu (Aljazeera) sungguh efektif," kata Hillary, seperti dikutip situs Aljazeera, Kamis (3/3/2011).
Hillary tentu saja melihat bagaimana stasiun televisi yang sangat berpengaruh di Arab itu ikut mendorong revolusi Arab: Dari Tunisia, Mesir, dan kini Libya.
Saya mengunjungi kantor perwakilan Aljazeera di tepi Sungai Tigris, Bagdad, Irak, tidak lama setelah mesin perang Amerika Serikat membunuh Tareq Ayyub, wartawan Aljazeera di Bagdad, 2003.
Ketika itu, Aljazeera adalah kanal bagi warga Arab yang menentang agresi militer sepihak Amerika Serikat di Irak.
Tareg Ayyub, yang tinggal di Amman, Yordania, meninggalkan anaknya yang masih kecil, ketika mesin perang itu mencabut nyawanya.
Saya mengunjungi pemakamannya di Amman dan menyaksikan orang-orang menangis. Sekiranya masih hidup, Tareq Ayyub akan menertawai Hillary dan membenarkan adagium ini: Tidak ada kawan yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan.
Inilah sebagian reportase yang satu tulis ketika itu:
JASIM, 52, bukan polisi seperti Abu Farrah. Orang tua bertubuh tinggi dan agak kurus ini menemukan suasana psikologis untuk melawan, bukan untuk bertekuk lutut. Pasalnya, ia menyaksikan sendiri bagaimana kejamnya tentara AS.
Ia melihat sendiri bagaimana Tariq Ayub, yang berlumuran darah, meradang kesakitan setelah helikopter tempur Amerika memuntahkan peluru dari atas Sungai Tigris ke arah kantor stasiun televisi populer Arab, Al Jazeera.
Jasim bekerja sebagai tenaga non redaksi di kantor perwakilan stasiun televisi Al Jazeera di Baghdad. Terdiri atas bangunan dua lantai, kantor itu terletak persis di tepi Sungai Tigris. Di sinilah reporternya, Tariq Ayoub, melaporkan perkembangan perang dari jam ke jam.
Di lantai paling atas, stasiun yang berbasis di Qatar itu membangun studio mini. Di tepi pagar, karung-karung berisi pasir disusun, membentuk lingkaran. Di sanalah Tariq bersembunyi manakala ia merasa dalam bahaya, ketika pesawat-pesawat tempur AS memuntahkan bom-bom pencabut nyawa.
Selasa pukul tujuh pagi, beberapa menit setelah Tariq Ayoub melaporkan secara live, pesawat tempur AS tanpa diduga menggempur kantor Al Jazeera. Hanya terpaut sekitar 10 meter, kantor Abu Dhabi TV juga ikut digempur. Kantor stasiun televise tersebut, yang lebih mirip rumah tinggal, terletak di kawasan pemukiman penduduk.
Kedua stasiun ini, bersama Al Arabiya, melaporkan perkembangan perang dari sudut yang membuat para pengambil keputusan nun jauh di Washington sana kegerahan. Televisi Al Jazeera dan Abu Dhabi seringkali melaporkan sisi kemanusian perang, menayangkan gambar-gambar korban di pihak sipil, sesuatu yang dengan sengaja amat jarang ditayangkan televisi Barat seperti CNN dan Fox News.
Jasim bercerita, sambil menunjukkan ceceran darah Tariq Ayoub di lantai yang sudah mengering, mula-mula AS mengebom sebuah bangunan kecil sekitar dua meter dari bangunan utama kantor Al Jazeera. Bangunan mirip WC itu adalah pusat generator. Begitu digempur, lampu padam total. Seketika, Tariq Ayub, yang sudah sekarat, tak bisa lagi mengirimkan laporan-laporan live ke kantor pusatnya di Qatar.
AS belum puas dengan hanya melumpuhkan aliran listrik. Dinding-dinding kantor Al Jazeera penuh lubang-lubang besar bekas tembakan. Salah satu tembakan mengenai bagian perut Tariq Ayoub. Jurnalis ayah satu putri itu mengerang kesakitan, dan mati. Ia terlahir 34 tahun lalu dan mati menjadi saksi kekejaman tentara AS.
Amerika membela diri dengan menyebut penyerangan membabi buta itu sebagai kecelakan. Namun, Jasim dan kru Al Jazeera lainnya sulit mempercayai bualan Petagong. Masalahnya, di sekitar kantor Al Jazeera sama sekali tidak ada target militer yang sah seperti bangunan pemerintah, istana Saddam, pusat telekomunikasi, atau instalasi militer.
Sebelum kantornya dibom, mobil Al Jazeera diberondong tembakan. Sopirnya luka-luka. Beberapa hari setelah Ayub pergi, mobil warna biru itu masih nampak di depan kantor. Beberapa lubang bekas tembakan tampak di kaca depannya.
Stasiun Al Jazeera juga digempur pasukan AS pada perang Afganistan tahun 2001. Stasiun itu, yang disebut juga sebagai CNN-nya Arab, merupakan penyebar berita yang dianggap memiliki kredibilitas tinggi di tanah Arab.
* Reportase ini dan laporan lainnya dari Irak dan negara-negara Arab bisa disimak di dahlandahi.blogspot.com
Abu Farrah, Saksi Kekejaman AS terhadap Aljazeera
Penulis: Dahlan Dahi
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan