News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Moammar Khadafi Tewas

Khadafi Banyak Habiskan Waktu Mengaji di Persembunyian

Editor: Prawira
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mansour Dhao Ibrahim, pengawal setia Moammar Khadafi, dalam tahanan di Misrata.

TRIBUNNEWS.COM, MISRATA - Hari-hari terakhir mantan pemimpin Libya, Moammar Khadafi, dilalui dengan segala keterbatasan dan ancaman bom para pemberontak yang mengepungnya.

Dalam pengakuannya kepada New York Times, komandan Pengawal Rakyat, Mansour Dhao Ibrahim, Sabtu (22/10/2011), mengatakan, pemimpin berusia 69 tahun itu kabur dari Tripoli pada 21 Agustus, tepat saat ibu kota Libya itu jatuh ke tangan pemberontak.

Dengan rombongan kecil yang berjumlah 10 orang, Khadafi lari menuju Surt. Mereka melewati Tarhuna dan Bani Walid, dua benteng pertahanan Khadafi yang dianggap sangat kuat. “Dia sangat takut pada NATO,” kata Ibrahim yang bergabung dengan Khadafi sepekan kemudian.

Tinggal di Surt merupakan keputusan Mutassim, salah satu anak Khadafi, dengan alasan, kota yang selama ini dikenal sebagai basis pendukung Khadafi dan sudah dibombardir NATO adalah tempat terakhir yang akan diubek-ubek pemberontak.

Mutassim yang berangkat ke Surt dalam rombongan terpisah dari ayahnya, khawatir telepon satelitnya telah dilacak.

Di luar telepon satelit yang kerap digunakan sang kolonel untuk memberikan pernyataan melalui televisi nasional, Khadafi benar-benar terputus dari dunia luar. Ia tidak punya laptop yang terhubung dengan internet. Bahkan ia lebih sering hidup tanpa listrik. Menurut Ibrahim, Khadafi banyak menghabiskan waktunya membaca Alquran.

Selama beberapa pekan, para pemberontak menembakkan mortir secara sembarang ke wilayah kota. Mereka berharap ada peluru yang benar-benar mengenai sasaran, atau syukur-syukur menghantam Khadafi. “Di mana-mana terjadi penembakan mortir secara acak,” kata Ibrahim.

Dalam salah satu insiden, mortir-mortir itu berhasil mengenai tiga pengawal Khadafi. Tak hanya itu, juru masak Khadafi yang selama ini selalu ikut kemanapun mereka kabur, juga terluka. “Setelah itu semua orang mendapat giliran tugas memasak,” kata Ibrahim.(The New York Time/Surya)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini