Laporan Wartawan Tribunnews.com, Samuel Febriyanto
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Argentina kembali menasionalisasi perusahaan minyak terbesar YPF, dengan mengusir perusahaan minyak asal Spanyol, Repsol, selaku pemegang saham mayoritas.
Hal itu menyusul, langkah Presiden Argentina Cristina Fernandez (51), yang mengajukan anggaran ke Kongres untuk memiliki 51 persen saham YPF.
Dengan berapi-api, Cristina mengumumkan kebijakannya itu melalui televisi nasional Argentina, Selasa (17/4/2012), seraya mengatakan dirinya tidak akan tunduk pada tekanan asing.
"Saya adalah seorang kepala negara, bukanlah seorang penjahat," ujarnya seperti dikutip dari CNN, Selasa pagi.
Langkah Cristina itu akan mengakibatkan Repsol kehilangan 57,43 persen dari seluruh total saham YPF.
Hal itu membuat Pemerintah Spanyol menggelar rapat darurat, dimana menurut Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Garcia-Margallo, pihaknya tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk melawan Argentina yang akan mengumuman rencananya itu dalam beberapa hari mendatang.
"Ini telah mematahkan hubungan baik antara Spanyol dan Argentina," kata Jose.
Karena gagal berinvestasi pada tahun lalu, YPF memaksa Pemerintah Argentina untuk membayar lebih dari 9 miliar USD untuk mengimpor bahan bakar.
Saham YPF pada penutupan terakhir di bursa New York turun sebanyak 21 persen, sementara di Buenos Aires, perdagangan saham itu telah turun sebanyak 2,4 persen.
Nasionalisasi YPF akan menjadi sejarah, karena nasionalisasi terbesar dalam industri sumber daya alam, setelah Pemerintah Rusia mengambil alih Yukos di awal 2000-an. 51 persen saham YPF dilego di pasar seharga 5 miliar USD, menurut perkiraan analis.
Baca tanpa iklan