Seorang manajer perusahaan tambang asal Cina tewas dalam kerusuhan yang melibatkan pekerja tambang di Zambia pada hari Sabtu (04/08) waktu setempat.
Laporan menyebutkan para pekerja mendorong kereta pengangkut hasil tambang dan ditabrakan ke arah sang manajer hingga tewas.
Aksi tersebut juga mengakibatkan satu pekerja Cina lainnya mengalami luka.
"Wu Shengzai yang berusia 50 tahun tewas akibat para pekerja yang melakukan aksi menabrakan kereta pengangkut batubara kepadanya saat berusaha melarikan diri ke dalam lokasi pertambangan bawah tanah untuk bersembunyi," kata pejabat kepolisian setempat Fred Mutondo kepada kantor berita milik pemerintah, ZNIS.
"Dia meninggal di lokasi kejadian, sementara rekannya mengalami luka dan sekarang berada di rumah sakit."
Kerusuhan yang melibatkan pekerja tambang di Zambia terjadi menyusul protes kebijakan perusahaan yang menunda aturan penerapan upah minimum baru.
Gaji para pekerja tambang di Zambia menurut sejumlah laporan masih jauh lebih rendah dari para penjaga toko di negara itu.
Mereka mengatakan gaji pekerja tambang berada di bawah pekerja toko yang setiap bulannya mendapat upah £140 atau sekitar Rp1,9 juta lebh.
Perlakuan buruk
Untuk meredakan situasi di kawasan ini, pemerintah Zambia telah mengirim menteri tenaga kerjanya ke lokasi tempat perusahaan pertambangan batubara asal Cina, Collum beroperasi.
Saat ini sejumlah perusahaan asal Cina memang menguasai banyak lokasi pertambangan di wilayah selatan Afrika, selain batubara mereka juga megelola tambang biji tembaga.
Zambia sendiri saat ini mengandalkan pemasukannya lewat ekspor hasil tambang biji tembaga.
Angka ekspor biji tembaga saat ini nilainya mencapai tiga perempat dari nilai ekspor keseluruhan negara itu.
Namun saat ini hanya sedikit dari lokasi pertambangan itu dikuasai oleh perusahaan lokal, sebagaian pertambangan di Zambia kebanyakan dikuasai oleh perusahaan asing dan perusahaan Cina adalah salah satu yang terbesar di antara mereka.
Saat ini Cina telah melakukan investasi bisnis pertambangan di Zambia sebesar £250 juta atau sekitar Rp3,5 triliun lebih.
Meski demikian banyak dari perusahaan asal Cina itu menerapkan standar kerja yang buruk bagi karyawannya.
Laporan Human Right Watch pada tahun 2011 mengatakan perlakuan perusahaan tambang asal Cina kepada pekerjanya jauh lebih buruk dari perusahaan tambang asing lain di Zambia.
Baca tanpa iklan