News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mulai Tinggalkan Amerika, Duterte Pilih Berkoalisi dengan China dan Rusia

Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Filipina Rodrigo Duterte di Istana Merdeka saat melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, Jakarta, Jumat (9/9/2016). Kunjungan Presiden Duterte ke Indonesia untuk membahas penyanderaan WNI, keamanan laut Sulu, calon jemaah haji ilegal yang menggunakan paspor Filipina, dan pemberantasan narkoba. TRIBUNNEWS/HERUDIN

TRIBUNNEWS.COM, MANILA - Filipina akan mengupayakan kebijakan luar negeri dan militer yang "independen" dari kepentingan Amerika Serikat di kawasan.

Presiden Filipina Rogrido Duterte pun telah mengumumkan penghentian partroli bersama dengan AS, sebagaimana dilaporkan Russia Today, Rabu (14/9/2016).

Langkah Duterte itu dilakukan setelah ia sebelumnya menghina Presiden Barack Obama sebagai “anak pelacur”. Ia juga mengusir pasukan AS yang bertugas di Mindanao, Filipina selatan.

Duterte mengindikasikan akan membeli senjata baru dari China dan Rusia untuk menangani persoalan terorisme dan pemberontakan di bagian selatan negaranya.

Pada April lalu, Angkatan Laut (AL) Filipina memulai patroli bersama AS di kawasan sengketa Laut China Selatan (LCS) sebagai respon atas pembangunan pulau buatan di wilayah tersebut oleh Beijing.

"Kami tidak menghentikan persekutuan militer (dengan AS). Namun kami akan mengupayakan kebijakan luar negeri dan militer yang independen," kata Duterte kepada Russia Today.

Langkah pertama menuju independensi tersebut adalah dengan menghentikan kebijakan patroli bersama di LCS karena Filipina "tidak menginginkan keributan" dengan Beijing.

Sebagai langkah kedua, Duterte mengindikasikan bahwa Filipina mungkin akan mengakhiri ketergantungan terhadap pasokan senjata dari AS dengan mengalihkan sebagian pembelian ke Rusia dan China.

Duterte mengatakan bahwa kedua negara itu telah berkomitmen memberi Filipina pinjaman lunak selama 25 tahun untuk membeli peralatan militer.

Menurut lembaga penelitian Stockholm International Peace Research Institute, sekitar 75 persen impor senjata oleh Filipina sejak 1950 datang dari Amerika Serikat.

Saat mengumumkan perubahan kebijakan pertahanan itu, Duterte menyatakan bahwa dirinya ingin membeli persenjataan "yang murah, tanpa syarat, dan transparan."

 "Kami membutuhkan peralatan militer yang bisa digunakan untuk operasi melawan pemberontakan," kata dia. 

"Kami tidak butuh F-16 (yang diproduksi AS) karena kami tidak berniat memulai peperangan dengan negara manapun," demikian Duterte.

Presiden yang kontroversial itu telah memerintahkan Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana mengunjungi China dan Rusia untuk mengeksplorasi kemungkinan terbaik.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini