"Pada awalnya sangat sulit untuk membunuh seseorang. Namun, hal itu berangsur-angsur semakin mudah," kenang Hussein.
"Tujuh, delapan atau 10 orang dalam satu ketika. Di lain waktu 30-40 orang. Kami membawa mereka ke gurun dan membunuh mereka," tambah Hussein.
Lama kelamaan, lanjut Hussein, dia semaki efektif dan tak ragu untuk membunuh manusia.
"Saya akan perintahkan mereka duduk, menutup mata mereka dan menembak kepala saja. Semua itu normal," kata dia dengan ringan.
Para petugas kontra-terorisme Irak mengatakan Hussein memberi mereka masalah saat pertama kali ditangkap.
"Dia begitu kuat sehingga dia bisa memutuskan borgol plastik di pergelangan tangannya," ujar seorang petugas.
Hussein sendiri melihat dirinya sebagai korban dari kerasnya kehidupan, produk dari rumah tangga berantakan, dan kemiskinan di kampung halamannya, Mosul.
"Saya tak punya uang. Tak ada pekerjaan. Tak ada seseorang yang menasihati saya. Saya punya teman tapi tak ada seorang pun yang menasihati saya," kenang Hussein.
Hussein, yang kini berusia 21 tahun, sudah bergabung dengan kelompok militan sejak dia berusia 14 tahun.
Awalnya dia mengikuti jejak seorang ulama di Mosul, lalu dia bergabung dengan Al Qaeda, dan kini menjadi anggota ISIS penerus Al Qaeda Irak.
Sejak Oktober Hussein kini mendekam sebuah sebuah sel yang hanya dilengkapi sebuah jendela kecil.
Di tembok terlihat coretan-coretan slogan keagamaan. Sedangkan di lantai terlihat sebuah piring dengan nasi dan sedikit lauk.
Kini Hussein menunggu nasib yang akan ditimpakan kepada dia. Setelah membunuh dan memerkosa ratusan orang tanpa sesal, apakah Hussein masih berpikir semua ini normal baginya?
Sumber: Al Arabiya