News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Setelah China, Virus Corona Muncul Lagi di Korea Selatan

Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kegiatan penyemprotan disinfektan di sebuah sekolah di Korea Selatan.

TRIBUNNEWS.COM, CHINA - Pemerintah Korea Selatan meyakini saat ini negara sedang menjalani gelombang kedua wabah corona, meskipun kasus infeksinya hanya sedikit.

Negeri Gingseng banyak menulis cerita sukses dalam penanganan wabah Covid-19.

Namun Korea Selatan diprediksi masih akan melalui hari-hari wabah hingga beberapa bulan ke depan.

Kepala Pusat Pengendalian Penyakit Korea (KCDC), Jung Eun-kyeong mengatakan gelombang pertama berlangsung hingga April.

Namun sejak Mei, klaster-klaster kasus infeksi baru mulai berkembang.

Baca: Korea Selatan Berusaha Membatalkan Aplikasi Jepang ke UNESCO

Robot Barista di Korea Selatan. (Kolase Tribunnewsmaker - REUTERS/Kim Hong-Ji)

Salah satunya adalah penyebaran Covid-19 di sejumlah klub malam di Seoul.

Jung menilai kenaikan kasus kemungkinan karena relaksasi selama minggu-minggu libur di Mei.

"Selama kontak dekat antara orang-orang terus berlangsung, tren coronavirus di dalam dan sekitar Seoul memiliki potensi untuk gelombang besar berikutnya," kata Jung dikutip dari Vox

Di antara periode itu, kasus Covid-19 harian menurun dari nyaris seribu menjadi nol infeksi yang tercatat selama tiga hari berurutan.

Pemerintah pada Senin (22/6/2020) lalu mengatakan bahwa selama 24 jam terakhir ada 17 infeksi baru.

Kebanyakan dari kasus ini terjadi di kantor dan pabrik yang besar.

Angka ini turun dari 48 dan 67 kasus harian dalam dua hari ke belakang.

Jung mengatakan beberapa kasus terbaru ini menandakan Korea Selatan saat ini sedang mengalami gelombang kedua wabah.

Menurut perkiraannya, gelombang kedua ini masih akan bertahan di Korsel hingga waktu yang tidak diketahui.

Di sisi lain, KCDC secara resmi mengatakan Korsel belum melewati gelombang pertama.

Namun Jung menegaskan bahwa liburan di penghujung Mei lalu adalah awal gelombang Covid-19 yang baru.

Terlebih klaster baru yang muncul berada di lingkungan yang luas di Seoul, padahal ibukota sebelumnya hanya memiliki beberapa kasus infeksi.

Beberapa kasus baru ditanggapi Kota Daejeon, selatan Seoul, dengan melarang kerumunan di museum dan perpustakaan.

Dikutp dari BBC, bila penambahan kasus mencapai 30 dalam tiga hari ke depan, Wali Kota Seoul berjanji akan melakukan aturan jarak sosial ketat di ibukota. 

Seorang pria berbicara kepada seorang perawat selama tes virus corona di sebuah bilik pengujian di luar RS Yangji, Seoul, Selasa (17/3/2020). Sebuah rumah sakit di Korea Selatan telah memperkenalkan "bilik telepon" - fasilitas pengujian coronavirus agar staf medis tidak perlu menyentuh pasien secara langsung dan mengurangi waktu disinfeksi. (AFP/Ed JONES)

Baca: BTS Jadi Satu-satunya Artis Korea yang Masuk Daftar Album Terbaik Rolling Stone 2020

Terlebih bila nanti kasus Covid-19 terbaru memenuhi 70 persen tempat tidur di rumah sakit kota.

Korea Selatan berhasil mengendalikan pandemi corona tanpa lockdown, seperti negara dengan kasus Covid-19 yang banyak.

Sebaliknya Negeri Gingseng mengandalkan kesadaran masyarakat untuk menjaga jarak sosial, tes, serta pelacakan kontak secara masif.

Selain tes dengan cara drive-thru dan walk-up, pemerintah Korea Selatan rajin memberikan informasi tentang lonjakan kasus dan himbauan menjaga jarak sosial via pesan singkat.

Aplikasi smartphone juga membantu warga Korea Selatan menerima diagnosa awal melalui telemedicine.

Sebanyak 280 orang di Korea Selatan telah meninggal sejak kasus pertama pada 20 Januari silam.

Secara keseluruhan ada lebih dari 12.000 infeksi dengan 1.277 perkiraan kasus aktif di negara ini.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini