TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat menanggapi serius ancaman terselubung Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menggunakan senjata nuklir dalam perang di Ukraina.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pers Departemen Pertahanan AS John Kirby kepada BBC.
Rabu kemarin (21/9/2022), Putin memperingatkan bahwa Rusia akan menggunakan semua cara yang ada untuk melindungi wilayahnya di Ukraina.
Pejabat tinggi Gedung Putih itu menanggapi dengan menyebut ucapan Putin sangat sembrono.
Lebih lanjut, Putin menyatakan seruannya setelah empat wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia akan mengadakan referendum.
Ukraina dan sekutunya menyebut aneksasi sebagai latihan palsu, yang dirancang untuk memberikan legitimasi palsu untuk aneksasi ilegal.
Baca juga: UPDATE Perang Rusia-Ukraina: Putin Perintahkan Mobilisasi Parsial, Lalu Lintas Perbatasan Padat
"Ini adalah preseden berbahaya bagi Putin untuk menggunakan retorika semacam ini dalam konteks perang yang jelas bahwa dia kalah di Ukraina," kata Kirby.
"Kami harus menanggapi ancaman ini dengan serius dan kami melakukannya," imbuhnya.
"Kami telah memantau, sebaik mungkin, kemampuan nuklirnya, saya dapat memberi tahu Anda bahwa kami tidak melihat indikasi bahwa kami perlu mengubah postur pencegahan strategis kami. pada saat ini."
DK PBB kecam tindakan Rusia
Tindakan Rusia di Ukraina dikecam keras pada pertemuan khusus Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis.
"Pekan ini, Presiden Putin mengatakan Rusia tidak akan ragu untuk menggunakan 'semua sistem senjata yang tersedia' sebagai tanggapan atas ancaman terhadap integritas teritorialnya," ucap Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken.
Sementara. mantan pemimpin Rusia Dmitry Medvedev mengatakan dalam sebuah pernyataan di media sosial pada hari Kamis bahwa cara Rusia akan mempertahankan diri termasuk "senjata nuklir strategis".
Baca juga: Harga Minyak Melonjak Saat Rebound Permintaan China dan Kekhawatiran Pasokan Energi Rusia
Tapi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh beberapa anggota Dewan Keamanan mencoba untuk memaksakan narasi palsu pada operasi Moskow di Ukraina.
Dia menyatakan kembali tuduhan bahwa etnis Rusia telah dianiaya oleh pasukan pemerintah Ukraina.
"Ada upaya hari ini untuk memaksakan pada kami narasi yang sama sekali berbeda untuk menunjukkan agresi Rusia sebagai asal dari semua tragedi," kata Lavrov.
Rusia mencoba untuk membenarkan invasinya dengan mengatakan bahwa mereka memerangi neo-Nazi.
Sebuah klaim yang secara luas ditolak oleh komunitas internasional, serta menentang ekspansi NATO.
Berita lain terkait dengan Konflik Rusia Vs Ukraina
(Tribunnews.co/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan