Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, SOFIA - Jaksa Penuntut di Bulgaria telah mendakwa enam orang terkait kasus perdagangan manusia, menyusul temuan mayat di dekat ibu kota negara itu, Sofia pada Jumat (17/2/2023) lalu.
Tuntutan ini dilakukan setelah temuan satu truk terbengkalai yang berisi 18 migran Afghanistan yang tewas karena mati lemas.
Baca juga: Ribuan Imigran Gelap Asal Meksiko Padati Perbatasan El Paso di Texas
"Para korban meninggal secara perlahan dan menyakitkan," kata Kepala Badan Investigasi Nasional Bulgaria dan Wakil Kepala jaJaksa Penuntut, Borislav Safarov pada Sabtu lalu.
Ia menambahkan bahwa pengemudi mengabaikan permintaan berulang kali untuk menghentikan kendaraan, meskipun truk tersebut digedor sebelumnya dari dalam oleh para imigran.
Pengemudi dan rekannya meninggalkan truk tersebut setelah mengetahui kematian belasan migran tersebut.
"Kasus ini menunjukkan ketidakpedulian yang ekstrem dan menunjukkan bahwa migran hanya dilihat sebagai barang yang perlu dikirim dari satu tempat ke tempat lain, terlepas dari apakah mereka hidup atau mati," tegas Safarov.
Dikutip dari laman Russia Today, Senin (20/2/2023), truk tersebut mengangkut total 52 migran Afghanistan yang disembunyikan di bawah papan kayu dan dilapisi foil untuk menghindari teknologi pencitraan termal, para migran ini tiba dari Turki melalui Serbia.
Menurut penyelidikan awal, mereka melintasi Eropa Barat, dan migran yang selamat telah dibawa ke rumah sakit setempat pada Jumat lalu di mana semuanya diketahui dalam kondisi stabil.
Baca juga: 15 Imigran Tewas Kehausan di Gurun Pasir Perbatasan Sudan-Libya
Menurut Juru bicara Kantor Kejaksaan Umum Sofia, enam warga Bulgaria, termasuk tersangka pemimpin kelompok perdagangan manusia, telah didakwa oleh pihak berwenang.
Salah satunya yang masih buron, didakwa secara in absentia.
Anggota kelompok penyelundup ini menghadapi hukuman 15 tahun penjara, termasuk tuduhan pembunuhan secara tidak disengaja, partisipasi dalam kejahatan terorganisir dan penyelundupan manusia.
Safarov menambahkan bahwa 18 korban berusia antara 13 hingga 35 tahun, dan masing-masing telah membayar sekitar 7.500 dolar Amerika Serikat (AS) kepada para pedagang manusia.
Bulgaria, yang merupakan negara anggota Uni Eropa (UE), sering digunakan sebagai pintu masuk ke blok Eropa oleh para migran yang ingin mendapatkan akses ke negara-negara Eropa barat melalui perbatasan selatannya dengan Turki.
Ribuan migran mencoba melakukan perjalanan setiap tahun karena mereka melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Timur Tengah, Afrika dan Asia.
Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang berkembang di Afghanistan sejak Taliban menguasai negara itu pada 2021, dengan semakin banyak migran diperkirakan akan melarikan diri ke negara-negara Barat.