TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.270 pada Sabtu (16/8/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Dalam perkembangan politik, Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Alaska pada Jumat, 15 Agustus 2025.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat Rusia dan AS.
Donald Trump telah memberikan tanggung jawab kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, untuk mencapai gencatan senjata dengan Rusia setelah pemimpin AS tersebut mengadakan pembicaraan langsung dengan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin, di Alaska pada hari Jumat.
Trump mengatakan Zelensky dan Putin akan mengatur pertemuan untuk mencoba mencapai gencatan senjata guna mengakhiri perang di Ukraina.
"Sekarang, semuanya tergantung pada Presiden Zelensky untuk mewujudkannya," kata Trump kepada Sean Hannity dari Fox News setelah pertemuannya dengan Putin pada hari Jumat.
"Dan saya juga akan mengatakan negara-negara Eropa, mereka harus sedikit terlibat. Tetapi itu tergantung pada Presiden Zelensky… Dan jika mereka mau, saya akan hadir di pertemuan berikutnya," lanjutnya.
Trump mengatakan perundingan langsung dengan Putin pada hari Jumat tidak menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan perang di Ukraina, meskipun ia mengklaim telah mencapai "kemajuan besar" selama pertemuan puncak yang berlangsung hampir tiga jam tersebut.
"Saya yakin kami telah mengadakan pertemuan yang sangat produktif," kata Presiden AS dalam konferensi pers bersama dengan Putin setelah perundingan.
"Ada banyak sekali poin yang kami sepakati," tambahnya.
Sementara itu Putin, berbicara melalui seorang penerjemah, mengisyaratkan kedua pemimpin telah mencapai "kesepahaman".
Baca juga: Duduk Perkara Perang Ukraina: Dari Invasi Rusia hingga Pertemuan Trump–Putin di Alaska
Ia berharap Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa menerima hasil negosiasi AS-Rusia secara konstruktif dan tidak mencoba mengganggu kemajuan yang telah dicapai.
Presiden Rusia tersebut sepakat keamanan Ukraina harus dijamin – tetapi juga mengatakan akar penyebab konflik harus diselesaikan.
Perang Rusia di Ukraina yang dimulai pada tahun 2022 merupakan buntut panjang dari ketegangan antara Ukraina dan Rusia sejak pecahnya Uni Soviet pada Desember 1991.
Putin dalam pidato invasinya pada 24 Februari 2022, mengatakan ia menghilangkan kemampuan militer Ukraina yang dianggap mengancam Rusia, menyingkirkan unsur "neo-Nazi" yang dituduh ada dalam pemerintahan Ukraina, membela etnis Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk dari dugaan penindasan.
Selain itu, Rusia ingin mencegah Ukraina bergabung dengan aliansi NATO atau menjadi basis Barat, dan menolak keberadaan militer NATO di perbatasan Rusia.
Hasil Pertemuan Rusia-AS di Alaska
Media Ukraina Suspilne mengungkap sejumlah hasil pertemuan antara Putin dan Trump di Alaska pada hari Jumat.
1. Pertemuan Trump–Putin di Alaska: tanpa kesepakatan soal Ukraina
Donald Trump dan Vladimir Putin bertemu selama tiga jam di Alaska, namun pertemuan penting itu berakhir tanpa kesepakatan mengenai perang di Ukraina.
Putin menyebut konflik tersebut sebagai “tragedi” yang bisa dihindari seandainya Trump sudah menjadi presiden pada 2022.
Meski menyebut diskusi “produktif,” Trump mengakui tidak ada hasil konkret yang tercapai.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky justru menilai pertemuan itu sebagai kemenangan pribadi Putin, karena berlangsung tanpa kehadiran dirinya maupun pemimpin Eropa.
2. Format tiga lawan tiga dalam perundingan
Berbeda dari rencana awal, Trump memilih format tiga lawan tiga untuk berbicara dengan Putin.
Ia ditemani Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan utusan khusus Steve Witkoff, sementara delegasi Rusia juga membawa dua perwakilan.
Agenda makan siang bersama pejabat tinggi lainnya dibatalkan, dan Wakil Presiden J.D. Vance serta perwakilan khusus untuk Ukraina tidak masuk daftar peserta.
Keputusan ini membuat pertemuan terasa lebih terbatas dan eksklusif.
3. Wacana pertemuan trilateral dengan Zelensky
Setelah pertemuan di Alaska, Trump membuka peluang pertemuan trilateral yang melibatkan dirinya, Putin, dan Zelensky.
Ia menyebut masih ada “satu-dua perbedaan besar” dengan Putin, terutama terkait isu keamanan dan wilayah, namun yakin kompromi bisa dicapai.
Trump juga menekankan pentingnya keterlibatan negara-negara Eropa serta menyinggung perlunya kerja sama dengan Rusia untuk membendung pengaruh Tiongkok.
4. Tiga remaja kembali dari pendudukan Rusia
Di tengah dinamika politik tingkat tinggi, kabar haru datang dari Ukraina.
Tiga remaja yang lebih dari tiga tahun hidup di wilayah pendudukan Rusia akhirnya berhasil kembali ke tanah air.
Selama masa itu, mereka nyaris tidak pernah keluar rumah demi menghindari penganiayaan, bahkan ada yang sempat mencoba melarikan diri tetapi terhambat di perbatasan.
Pemulangan ini menjadi secercah harapan bagi keluarga dan masyarakat Ukraina yang masih terpisah oleh perang.
Putin Undang Trump ke Rusia
Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah mengusulkan agar Presiden AS Donald Trump bertemu di Moskow pada pertemuan berikutnya.
Trump mengakui bahwa gagasan itu akan kontroversial, tetapi tidak sepenuhnya menolaknya.
Tawaran Putin untuk mengadakan pertemuan puncak berikutnya di ibu kota Rusia — permintaan yang ia buat dalam bahasa Inggris — memicu reaksi beragam dari Trump.
Presiden Amerika mengakui bahwa menyetujui usulan ini akan sangat kontroversial, tetapi ia tidak menutup pintu sepenuhnya.
"Menarik, saya akan mengomentarinya sedikit. Tapi saya bisa membayangkan itu mungkin," kata Trump.
Kedua presiden tersebut hanya membuat pernyataan pribadi pada konferensi pers bersama, tanpa menjawab pertanyaan wartawan.
Rusia Serang Ukraina saat Putin Kunjungi Alaska
Zelensky mengatakan Rusia terus menyerang Ukraina menjelang KTT Trump-Putin, tetapi mengklaim upayanya untuk menunjukkan kekuatan dengan serangan baru di timur telah gagal.
"Pada hari negosiasi, mereka juga membunuh orang. Dan itu menunjukkan banyak hal," kata Zelensky di Telegram pada hari Jumat.
"Perang terus berlanjut. Perang terus berlanjut justru karena tidak ada perintah, atau indikasi apa pun bahwa Moskow sedang bersiap untuk mengakhiri perang ini," lanjutnya, lapor The Guardian.
Istri Trump Surati Putin
Istri Presiden AS Donald Trump, Melania Trump, mengirim surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, membahas tentang anak-anak Ukraina dan Rusia yang menderita karena perang.
Dua pejabat Gedung Putih pada hari Jumat mengtatakan Presiden Trump menyerahkan surat tersebut langsung kepada Putin selama pertemuan puncak mereka di Alaska, menurut laporan para pejabat kepada Reuters.
Melania Trump, wanita kelahiran Slovenia, tidak ikut dalam perjalanan ke Alaska pada hari Jumat.
Para pejabat tidak mau mengungkapkan isi surat itu selain mengatakan bahwa surat itu menyebutkan penculikan anak-anak akibat perang di Ukraina.
Ukraina Serang Kapal Pasokan Senjata Iran
Ukraina menyatakan telah melancarkan serangan pesawat nirawak jarak jauh terhadap sebuah kapal pasokan yang diklaim membawa komponen pesawat nirawak dari Iran, beberapa jam sebelum KTT Trump-Putin.
Foto-foto menunjukkan sebuah kapal kargo yang sebagian tenggelam di Olya, dekat Astrakhan, di utara Laut Kaspia.
Militer Ukraina mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan pengeboman semalam terhadap sebuah kilang minyak di Samara di Sungai Volga, jauh di dalam wilayah Rusia.
Staf umum Ukraina menyatakan bahwa kapal tersebut dimuat dengan komponen untuk pesawat nirawak jenis Shahed dan amunisi dari Iran.
Rusia Luncurkan Rudal Balistik ke Dnipro
Rusia meluncurkan rudal balistik ke wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina, beberapa jam sebelum KTT Trump-Putin, menewaskan satu orang dan melukai setidaknya satu orang lainnya, serta menyebabkan kebakaran.
"Sebuah truk dan sebuah minibus rusak dalam serangan bermusuhan di distrik Dnipro. Seorang pria tewas. Satu orang lainnya terluka," ujar gubernur wilayah tersebut, Serhiy Lysak, di Telegram.
Kota Dnipro merupakan pusat logistik bagi pasukan Ukraina.
Ukraina Rebut Enam Desa di Wilayah Timur
Militer Ukraina menyatakan telah merebut kembali enam desa di wilayah timur yang direbut Rusia dalam operasi gabungan minggu ini.
Pada hari Selasa, Rusia bergerak cepat menuju kota Dobropillia, menembus pertahanan Ukraina.
"Serbuan musuh dihentikan oleh pasukan Korps 1 Garda Nasional Ukraina (NGU) 'Azov', bersama dengan unit-unit di sekitarnya dan di bawahnya, selama tiga hari terakhir," menurut pernyataan staf umum Ukraina pada hari Jumat.
Kota tersebut kini terus-menerus diserang drone dan granat Rusia.
Inteljien Ukraina: Rusia Uji Coba Rudal Jelajah Nuklir Terbaru
Intelijen militer Ukraina mengklaim bahwa Rusia sedang mempersiapkan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir barunya dan, jika berhasil, berencana menggunakan hasilnya untuk memperkuat posisi negosiasinya dengan Barat.
Juru bicara intelijen militer Andriy Yusov mengatakan kepada Reuters bahwa Moskow memandang uji coba tersebut sebagai daya ungkit diplomatik.
"Rusia sedang mempersiapkan putaran uji coba berikutnya untuk 9M730 Burevestnik," bunyi pernyataan tersebut pada hari Jumat.
"Tujuan uji coba ini adalah untuk memvalidasi solusi ilmiah dan teknis yang diterapkan oleh rudal tersebut. Jika berhasil, Rusia akan memanfaatkan hasil uji coba tersebut untuk mempertahankan kepentingannya dalam negosiasi," lanjutnya.
139 Bentrokan Terjadi di Garis Depan dalam 24 Jam Terakhir
Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina melaporkan pada hari ini bahwa kemarin terjadi 139 bentrokan di garis depan dalam sehari.
Pada hari Jumat, pasukan Rusia melancarkan dua serangan rudal dan 111 serangan udara terhadap unit dan permukiman Ukraina, menggunakan tiga rudal dan menjatuhkan 213 bom berpemandu.
Selain itu, mereka melancarkan 6.045 serangan, termasuk 98 serangan dari beberapa peluncur roket, dan menggunakan 5.659 pesawat tanpa awak kamikaze untuk menghancurkannya.
Serangan udara dilakukan, khususnya, di wilayah pemukiman Zhykhove dan Boyaro-Lezhachi di wilayah Sumy; Krasny Khutir di wilayah Chernihiv; Bilogirya di wilayah Zaporizhia; dan Mykolaivka di wilayah Kherson, lapor Suspilne.
Selama 24 jam terakhir, pasukan penerbangan, pasukan rudal, dan artileri Angkatan Pertahanan telah menyerang sepuluh area konsentrasi personel, senjata, dan peralatan militer, tiga pos komando, satu depot amunisi, dan tiga sistem artileri pasukan Rusia.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan