Perserikatan Bangsa-Bangsa memasukkan Israel dan Rusia ke dalam daftar hitam pelaku kekerasan seksual dalam konflik bersenjata untuk pertama kalinya. Langkah itu tertuang dalam laporan tahunan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres yang dijadwalkan dirilis Jumat (29/05) waktu setempat.
Laporan tersebut menempatkan 77 aktor negara maupun non-negara dari belasan negara dalam daftar pelaku yang diduga terlibat kekerasan seksual terkait konflik. PBB mencatat jumlah kasus pada 2025, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.
Dalam laporan itu, pasukan keamanan dan militer Israel dituduh melakukan pola kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Bentuk pelanggaran yang disebut antara lain pemerkosaan, termasuk menggunakan benda, pemerkosaan berkelompok, percobaan pemerkosaan, kekerasan terhadap alat kelamin, penelanjangan paksa, hingga ancaman pemerkosaan.
PBB menyebut pelaku berasal dari unsur militer Israel, aparat keamanan, dan petugas penjara.
Israel tolak laporan PBB
Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengakui negaranya resmi dimasukkan ke dalam daftar pelaku kekerasan seksual di wilayah konflik, sejajar dengan kelompok Hamas. Dia mengecam laporan tersebut sebagai "memalukan dan absurd”.
Dia menuding Antonio Guterres menyamakan Israel dengan Hamas, ISIS, dan organisasi teroris paling brutal di dunia. "Kami selesai dengan Sekretaris Jenderal PBB ini,” ujar Danon melalui media sosial.
"Ini keputusan politik, terlepas dari fakta dan realitas,” tulis Danon melalui platform X, merujuk pada laporan tahunan PBB yang segera dipublikasikan. Menurut misi Israel di PBB, informasi itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui sambungan telepon.
Hamas—yang oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Israel dikategorikan sebagai organisasi teroris—juga tetap berada dalam daftar hitam PBB sejak serangan 7 Oktober 2023 ke wilayah Israel.
Namun, laporan itu menyebut banyak tuduhan terhadap Hamas belum dapat diverifikasi secara independen karena Israel belum memberi akses penuh kepada penyelidik PBB.
Laporan PBB itu terbit hanya beberapa hari setelah The New York Times mempublikasikan investigasi mengenai dugaan pelecehan seksual sistematis terhadap tahanan Palestina di penjara Israel. Dalam pernyataan terpisah pada Kamis, Danon menilai penyamaan Israel dengan Hamas sebagai "titik terendah baru” dalam hubungan dengan PBB.
Rusia: "Kebohongan tanpa dasar"
Di sisi lain, PBB juga mencatat 310 kasus kekerasan seksual yang dilakukan pasukan Rusia terhadap tahanan perang dan warga sipil Ukraina. Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "kebohongan tanpa dasar” untuk terus menggambarkan Rusia sebagai pihak jahat.
Nebenzia mengatakan Moskow tengah menyiapkan laporan tandingan mengenai perlakuan Ukraina terhadap tawanan perang Rusia.
Meski tidak dimasukkan ke daftar hitam, laporan PBB turut mencatat 31 kasus yang melibatkan aparat keamanan Ukraina, sebagian besar terjadi sebelum 2025.
Selain Israel dan Rusia, daftar tersebut juga mencakup Sudan, Haiti, Republik Demokratik Kongo, Myanmar, Suriah, dan Mali.
Laporan ini terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
Baca tanpa iklan