News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Rusia Tolak Klaim Trump soal 'Macan Kertas', Tegaskan Perang Akan Berlanjut

Penulis: Farrah Putri Affifah
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DMITRY PESKOV - Foto Dmitry Peskov diambil dari kantor berita Rusia TASS pada hari Kamis (13/3/2025) yang menunjukkan juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. Foto ini diambil oleh Sergey Karpukhin pada November 2023. Kremlin menyatakan tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan serangan militernya ke Ukraina, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Rusia sebagai 'macan kertas'.

TRIBUNNEWS.COM - Kremlin menyatakan tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan serangan militernya ke Ukraina, setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut Rusia sebagai 'macan kertas'.

'Macan kertas' adalah istilah yang mengisyaratkan kekuatan yang tampak menakutkan, namun sebenarnya lemah.

Istilah paper tiger atau macan kertas sendiri berasal dari kosakata politik Tiongkok, dan telah lama digunakan untuk menggambarkan entitas yang terlihat kuat secara militer atau politik, namun sebenyarnya rapuh dan tidak efektif.

Dalam konteks ini, Trump menggunakan istilah tersebut untuk menganggap remeh efektivitas militer dan ekonomi Rusia dalam perang yang telah berlangsung lebih dari 3 tahun.

Pernyataan Trump ini disampaikan setelah ia bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky di sela-sela sidang umum PBB, pada Selasa (23/9/2025).

Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Ukraina berada dalam posisi untuk "berjuang dan memenangkan kembali seluruh wilayahnya".

Ini adalah sebuah pernyataan yang menandai perubahan tajam dari sikap sebelumnya yang lebih netral terhadap konflik tersebut.

Trump menyebut Rusia sebagai 'macan kertas', dengan mengatakan bahwa Presiden Vladimir Putin dan Rusia sedang mengalami masalah ekonomi besar, dan inilah saatnya bagi Ukraina untuk bertindak, dikutip dari Al Jazeera.

Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina dimulai pada Februari 2022, ketika Moskow menginvasi Ukraina dengan dalih 'operasi militer khusus'. 

Rusia telah merebut hampir 20 persen wilayah Ukraina sejak invasi pada Februari 2022. 

Moskow mencaplok Semenanjung Krimea milik Ukraina pada tahun 2014 dan menganggapnya berada di luar cakupan invasinya.

Baca juga: Trump Yakin Ukraina Bisa Rebut Kembali Semua Wilayah dari Rusia, Desak NATO Stop Impor Minyak

Sejak saat itu, perang terus berlangsung dan memicu ketegangan global.

Trump, yang kembali menjabat Presiden AS pada Januari lalu, sebelumnya mencoba meredakan hubungan dengan Kremlin, bahkan sempat bertemu Presiden Vladimir Putin dalam sebuah pertemuan puncak di Alaska. 

Kremlin Tolak Klaim dan Tegaskan Tidak Ada Alternatif Selain Perang

Menanggapi komentar Trump, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan pada Rabu (24/9/2025) bahwa Rusia akan tetap melanjutkan serangannya ke Ukraina.

"Kami melanjutkan operasi militer khusus kami untuk memastikan kepentingan kami dan mencapai tujuan yang ditetapkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, dikutip dari Arab News.

"Kami melakukan ini untuk masa kini dan masa depan negara kami. Untuk banyak generasi mendatang. Oleh karena itu, kami tidak punya alternatif lain," tambahnya dalam sebuah wawancara radio dengan sebuah surat kabar Rusia.

Ia juga membantah keras label 'macan kertas' yang diberikan Trump.

Ia menegaskan bahwa Rusia adalah negara kuat yang mampu menjaga stabili

“Ya, ada ketegangan dan masalah di berbagai sektor ekonomi,” ujarnya. 

“Namun kami menjaga stabilitas makroekonomi kami," tambahnya.

Pemulihan Hubungan dengan AS Dinilai Gagal

Kremlin juga menanggapi dengan pesimistis upaya pemulihan hubungan bilateral antara Rusia dan Amerika Serikat.

Peskov mengatakan bahwa inisiatif Trump untuk memperbaiki relasi sejak kembali ke Gedung Putih tidak membuahkan hasil apapun.

"Pemulihan hubungan yang dimulai ketika Trump kembali ke Gedung Putih pada bulan Januari telah membuahkan hasil yang 'hampir nol'," tegasnya.

"Jalur ini lamban, sangat lamban," tambahnya.

Di sisi lain, Trump sendiri telah mulai menyusun langkah diplomatik baru dengan negara-negara Eropa dan Ukraina.

Ia mengumumkan sedang mengatur pembicaraan langsung antara para pemimpin terkait konflik Ukraina.

Tetapi ia mengklaim bahwa Moskow menunjukkan sikap dingin, terutama karena putin belum menunjukkan minat bertemu langsung dengan Zelensky.

Baca juga: Trump Yakin Ukraina Bisa Rebut Kembali Semua Wilayah dari Rusia, Desak NATO Stop Impor Minyak

Ketegangan di Eropa Timur Meningkat

Sementara itu, situasi keamanan di Eropa Timur terus memburuk.

Rusia dituduh melakukan serangkaian pelanggaran wilayah udara negara-negara NATO.

Minggu lalu, Estonia melaporkan bahwa tiga jet tempur Rusia melanggar wilayah udaranya.

Ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah 20 drone Rusia terpantau di wilayah udara Polandia.

Insiden lain terjadi ketika jet militer Spanyol yang membawa Menteri Pertahanan Margarita Robles mengalami gangguan GPS saat terbang dekat Kaliningrad, wilayah kantong Rusia. 

Peristiwa ini mengingatkan pada gangguan serupa yang menimpa pesawat Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen sebulan sebelumnya.

Uni Eropa menduga kuat bahwa Rusia berada di balik gangguan ini.

Ekonomi Rusia Tertekan, Pajak Naik untuk Danai Perang

Untuk menjaga keberlanjutan operasional militernya, Rusia kini mulai mengalihkan beban ke sektor ekonomi domestik. 

Kementerian Keuangan Rusia mengusulkan kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 20 persen menjadi 22 persen, dengan alasan untuk membiayai “pertahanan dan keamanan”.

Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi Rusia akan anjlok ke sekitar 1 persen tahun ini.

Di mana ini turun drastis dari 4,3 persen pada tahun sebelumnya. 

Meski demikian, Kremlin tetap menolak anggapan bahwa ekonomi Rusia berada di ambang kehancuran, sebagaimana yang disampaikan oleh Trump.

(Tribunnews.com/Farra)

Artikel Lain Terkait Donald Trump dan Konflik Rusia vs Ukraina

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini