News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Dunia Terbelah Menyikapi Protes Iran dan Ancaman Militer Amerika Serikat

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DEMO DI TEHERAN. Gambar merupakan kolase tangkap layar dari Shorts YouTube TRT World, Rabu (25/6/2025) menunjukkan ribuan orang berunjuk rasa di Teheran menuntut pembalasan terhadap Israel. Protes nasional yang berlangsung di Iran sejak akhir Desember terus memicu perhatian dan reaksi dari dunia internasional.

Ringkasan Berita:

  • Protes nasional di Iran sejak akhir Desember memicu perhatian global, dengan AS dan sekutunya mendukung demonstran serta menuding pemerintah Iran bertindak represif, sementara negara lain menolak campur tangan asing.
  • Iran mengakui keluhan ekonomi warga dan menegaskan tak ingin perang, namun siap menghadapi ancaman militer AS.
  • Respons internasional terpecah, mulai dari ancaman sanksi dan opsi militer hingga seruan penyelesaian damai dan perlindungan kedaulatan Iran.

 

TRIBUNNEWS.COM - Protes nasional yang berlangsung di Iran sejak akhir Desember 2025 terus memicu perhatian dan reaksi dari dunia internasional.

Situasi ini semakin menjadi sorotan setelah Amerika Serikat menyampaikan ancaman kemungkinan tindakan militer terhadap Teheran.

Sikap negara-negara dan organisasi global pun terpecah dalam menanggapi krisis tersebut.

Amerika Serikat bersama sejumlah sekutunya menyatakan dukungan kepada para demonstran dan menuding pemerintah Iran merespons aksi protes dengan cara-cara keras.

Namun, di sisi lain, beberapa negara justru menyuarakan kekhawatiran adanya campur tangan pihak asing yang dinilai dapat memperkeruh situasi dan memicu kerusuhan di Iran.

Sejumlah pejabat senior Iran mengakui adanya keluhan masyarakat, khususnya terkait tekanan ekonomi dan melonjaknya biaya hidup.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pentingnya membedakan antara warga yang berunjuk rasa karena masalah ekonomi dan pihak-pihak yang disebutnya sebagai perusuh yang berupaya menimbulkan perpecahan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang.

Kendati begitu, ia menyatakan Teheran siap menghadapi berbagai kemungkinan menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terkait opsi militer terhadap Iran.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan sedikitnya 109 personel keamanan tewas sejak gelombang protes berlangsung.

Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban dari kalangan demonstran.

Baca juga: Trump Perintahkan Warganya Angkat kaki dari Iran, Sinyal Serangan Semakin Dekat?

Namun, kelompok oposisi di luar negeri mengklaim jumlah korban jiwa mencapai ratusan, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Situasi di Iran masih menjadi perhatian dunia, dengan respons internasional yang menunjukkan perbedaan pandangan terkait dinamika politik dan keamanan di negara tersebut.

Amerika Serikat

Trump memperingatkan para pemimpin Iran agar tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran.

Trump juga menyatakan Washington tengah mempertimbangkan berbagai langkah, termasuk opsi militer.

“Pihak militer sedang mempertimbangkannya, dan kami sedang melihat beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan membuat keputusan,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, Minggu (11/1/2026) malam.

Pekan lalu, melalui Truth Social, Trump menulis bahwa Iran tengah mengincar kebebasan dan Amerika Serikat siap membantu.

Israel

Israel menyatakan dukungan kuat terhadap para demonstran di Iran.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memuji “kepahlawanan luar biasa warga Iran” dalam rapat kabinet.

Militer Israel menyebut protes sebagai urusan internal Iran, namun menegaskan kesiapan merespons dengan kekuatan bila diperlukan.

Britania Raya

Seorang menteri Inggris tidak menutup kemungkinan mendukung aksi militer terhadap Iran.

Peter Kyle mengatakan kepada Sky News bahwa terdapat banyak faktor yang masih dipertimbangkan.

Pemimpin oposisi Konservatif Kemi Badenoch mengatakan kepada BBC bahwa langkah tegas bisa dibenarkan melihat ancaman yang muncul.

Uni Eropa

Uni Eropa menyatakan siap mengusulkan sanksi baru terhadap Iran.

Inggris, Jerman, dan Prancis sebelumnya mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras pembunuhan demonstran.

Jerman

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan rezim yang bertahan dengan kekerasan pada dasarnya telah menuju akhir.

Baca juga: Takut Diamuk Teheran, Netanyahu Perintahkan Parlemen dan Menteri Bungkam soal Perang Iran VS AS

Jerman sebelumnya menyebut respons keras Iran sebagai tanda kelemahan, bukan kekuatan.

Jepang

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyerukan penghentian kekerasan secara segera.

Tokyo berharap situasi di Iran dapat diselesaikan secepat mungkin melalui cara damai.

China

Pemerintah China menentang campur tangan eksternal dalam urusan internal Iran.

Beijing menegaskan bahwa kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi oleh hukum internasional.

Rusia

Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu mengutuk apa yang disebutnya sebagai upaya kekuatan asing mencampuri urusan Iran.

Pernyataan itu disampaikan usai pembicaraan dengan pejabat keamanan nasional Iran, Ali Larijani.

Turki

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menuding protes di Iran dimanipulasi oleh pihak luar.

Ia menuding dinas intelijen Israel terlibat dalam mendorong aksi perlawanan melalui media daring.

Baca juga: AS Ancam Tarif 25 Persen untuk Negara yang Berdagang dengan Iran, Airlangga Tidak Khawatir

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan terkejut atas laporan kekerasan terhadap demonstran di Iran.

Ia menyerukan pemerintah Iran menahan diri dan menjamin hak warga untuk menyampaikan pendapat secara damai tanpa rasa takut.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini