News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

AS vs Iran Memanas, Trump Ancam Gempur Teheran Jika Keselamatannya Terancam

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Garudea Prabawati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

AMERIKA VS IRAN - Kolase foto Presiden AS Donald Trump saat memberikan pidato dari Gedung Putih pada 18 Desember 2025 (kiri) dan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bertemu dengan sejumlah pimpinan dan fakultas Universitas Shahid Motahari di Teheran pada 3 Juli 2024 (kanan). AS–Iran di ambang eskalasi. Trump ancam gempur Teheran jika keselamatannya terancam, Iran balas keras. Risiko perang regional kian nyata.

Ringkasan Berita:

  • Presiden AS Donald Trump mengancam akan menggempur Iran secara total jika dirinya menerima ancaman pembunuhan, menandai eskalasi serius konflik AS–Iran.
  • Dukungan Washington terhadap demonstran Iran dituding Teheran sebagai intervensi asing, sementara AS menyebutnya pembelaan hak asasi manusia.
  • Retorika keras kedua pihak dan pergerakan militer AS meningkatkan risiko konflik terbuka yang dapat menyeret sekutu regional dan mengguncang stabilitas global.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan gertakan, ancam akan menggempur wilayah Iran jika dirinya mendapat ancaman pembunuhan dari Teheran.

Pernyataan tersebut menandai eskalasi serius dalam perang kata-kata kedua negara, di tengah pergerakan kekuatan militer AS di kawasan strategis.

Dalam wawancara dengan News Nation,Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mentoleransi ancaman terhadap dirinya.

Trump bahkan telah memberikan instruksi yang sangat tegas kepada militer AS untuk menanggapi semua ancaman serius bagi pihak yang terlibat.

Ia menyebut respons Washington akan bersifat total dan menghancurkan, jika Iran berani melancarkan atau menjalankan ancaman pembunuhan.

“Apapun yang terjadi, seluruh negara itu akan lenyap dari muka bumi,” kata Trump, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera. 

“Tentu saja saya akan menyerang mereka dengan sangat keras. Saya punya instruksi yang tegas,” imbuhnya.

Demo Iran Jadi Pemicu Perpecahan

Ancaman Trump ini muncul di tengah dinamika politik dan sosial yang genting di Iran, termasuk gelombang protes yang mengguncang negeri tersebut selama beberapa minggu terakhir akibat krisis ekonomi dan depresiasi rial Iran.

Pasca ketegangan meningkat, Washington memberi dukungan moral kepada demonstran dan memperingatkan kemungkinan intervensi jika pemerintah Iran terus melakukan tindakan kekerasan.

Baca juga: 5 Populer Internasional: Kontroversi Nobel Perdamaian Trump - Demo Besar-besaran di AS Terkait Iran

Dukungan ini dipandang sebagai bagian dari komitmen Washington terhadap kebebasan berekspresi dan hak untuk berkumpul secara damai. 

Mereka menilai bahwa rezim Iran telah merespon protes dengan kekerasan berlebihan, penangkapan massal, dan pemutusan internet.

Posisi ini sejalan dengan sejarah pernyataan AS yang sering menekankan pentingnya hak asasi dan menentang penindasan terhadap warga sipil di negara lain.

Iran Tuding AS Biang Kerok

Namun, pemerintah Iran menolak keras dukungan Amerika Serikat dan melihatnya sebagai bentuk campur tangan langsung dalam urusan dalam negeri.

Otoritas Teheran menuduh Washington dan sekutunya, termasuk Israel, berusaha mengubah protes yang dimotivasi oleh masalah domestik menjadi kekacauan yang dapat melemahkan pemerintah Iran.

Menurut pernyataan pejabat Iran, dukungan AS terhadap demonstran merupakan upaya memanfaatkan ketidakpuasan rakyat Iran untuk tujuan politik luar negeri yang lebih luas.

Menteri Warisan Israel Amichai Eliyahu bahkan terang-terangan mengaku agen-agen intelijen Israel menyusup ke demo Iran seperti pada Juni 2025 kala Iran-Israel perang 12 hari.

Tuduhan campur tangan ini semakin memperumit hubungan bilateral yang sudah lama tegang antara Iran dan Amerika Serikat.

Sementara itu merespon ancaman AS, pejabat Iran juga melontarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat, khususnya terkait tindakan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Parlemen Iran menyatakan bahwa serangan terhadap Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang penuh, memicu respon nasional yang luas termasuk kemungkinan jihad atau serangan balasan.

Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, juga memperingatkan Amerika bahwa jika ada tindakan agresi terhadap pemimpin mereka, Iran tidak hanya akan membalas tetapi akan “membakar dunia mereka,” menggambarkan kesiapan Teheran untuk melakukan serangan balasan yang signifikan.

Ancaman saling balas ini terjadi di tengah pergerakan militer Amerika Serikat yang signifikan.

Para analis mengatakan retorika ekstrem dari kedua belah pihak mencerminkan eskalasi dramatis hubungan bilateral yang rentan terhadap misinterpretasi.

Terutama di tengah situasi domestik yang tegang di Iran dan politik luar negeri AS yang agresif.

Jika salah satu dari ancaman tersebut berubah menjadi tindakan nyata, konsekuensinya dapat membuka babak baru konflik militer yang jauh lebih luas di kawasan yang sudah rapuh.

Dalam kasus AS dan Iran, eskalasi ini berpotensi menyeret sekutu dan proksi regional, seperti Israel, kelompok milisi di Timur Tengah, negara-negara Teluk, serta jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Karena kawasan Timur Tengah sudah lama berada dalam kondisi rapuh dan penuh konflik, satu tindakan militer tambahan dapat membuka babak baru perang yang lebih luas, lebih lama, dan lebih sulit dikendalikan.

Dampaknya bukan hanya pada keamanan regional, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global, harga energi, dan keselamatan warga sipil lintas negara.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini