Ringkasan Berita:
- Trump mengunggah video rasis yang menggambarkan Barack dan Michelle Obama sebagai kera.
- Video itu dihapus setelah menuai kritik, tetapi Trump menolak meminta maaf.
- Trump memiliki sejarah panjang membuat unggahan bernada rasis di media sosial.
TRIBUNNEWS.COM – Di minggu pertama Black History Month, yakni peringatan tahunan di AS untuk menghormati sejarah, perjuangan, dan pencapaian masyarakat kulit hitam, Presiden AS Donald Trump justru mengunggah video rasis terhadap mantan Presiden Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama di media sosial.
Dalam video tersebut, terlihat dua ekor kera, namun bagian kepalanya diganti dengan wajah Barack dan Michelle Obama.
Unggahan itu kemudian dihapus setelah bertahan setidaknya selama 12 jam, Jumat (6/2/2026) siang waktu setempat.
Mengutip NPR, Gedung Putih menyalahkan seorang staf karena keliru mengunggah video tersebut.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sempat membela video itu sebelum dihapus dengan mengatakan, "Tolong hentikan kemarahan palsu ini."
Leavitt menyebut video tersebut berasal dari "meme internet" yang menggambarkan Trump sebagai raja hutan, sementara Demokrat digambarkan sebagai karakter dari film The Lion King.
Namun, klip Trump tidak menyertakan versi video yang lebih panjang seperti yang disebutkan Leavitt, yang juga menampilkan Demokrat lain, seperti Rep. Alexandria Ocasio-Cortez dan Wali Kota New York Zohran Mamdani, yang digambarkan sebagai hewan.
Klise rasis yang menggambarkan orang kulit hitam sebagai kera atau hewan secara historis telah digunakan untuk merendahkan martabat mereka dan membenarkan perbudakan.
Kritik terhadap Trump dan unggahannya pun muncul dengan cepat, termasuk dari sejumlah sekutu Trump sendiri dari Partai Republik.
Senator Carolina Selatan, Tim Scott, seorang Republikan yang merupakan warga kulit hitam, mengatakan:
"Ini adalah hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini. Presiden harus menghapusnya."
Baca juga: Trump Kembali Bikin Ulah: Posting Video Obama dan sang Istri Bak Kera
Trump Tidak Mau Minta Maaf
Meski menuai kemarahan dari banyak pihak, Presiden AS Donald Trump menolak untuk meminta maaf.
Trump mengatakan dirinya hanya melihat sekilas video tersebut sebelum meminta staf untuk mengunggahnya.
“Saya melihat bagian awalnya. Baik-baik saja,” katanya, merujuk pada bagian pertama video yang berisi klaim yang telah dibantah mengenai kecurangan mesin pemungutan suara, mengutip CNN International.
“Itu adalah unggahan yang sangat kuat terkait kecurangan pemilu,” lanjutnya.
“Pada akhirnya, tidak ada yang tahu. Jika mereka melihat, mereka akan melihatnya, dan mungkin mereka akan cukup bijaksana untuk menghapusnya.”
Trump menyatakan bahwa setelah menonton bagian pertama video itu, ia meneruskannya kepada seorang staf, yang menurutnya seharusnya menonton klip tersebut hingga selesai.
“Seseorang lalai dan melewatkan bagian yang sangat kecil,” ujarnya.
Namun, ketika ditanya secara langsung apakah ia akan meminta maaf di tengah seruan dari Partai Republik untuk melakukannya, Trump menolak.
“Tidak,” katanya.
“Saya tidak melakukan kesalahan.”
Ketika didesak lebih lanjut, apakah ia mengutuk bagian rasis dari klip tersebut, ia menjawab, “Tentu saja."
Saat ditanya apakah video itu dapat merusak posisi Partai Republik di mata pemilih kulit hitam, Trump mengatakan tidak dan membela rekam jejaknya.
“Ngomong-ngomong, saya adalah presiden yang paling tidak rasis yang pernah Anda miliki dalam waktu yang lama,” katanya.
Rangkaian Kontroversi Unggahan Media Sosial Trump
Trump memiliki sejarah panjang membuat pernyataan bernada rasis terhadap orang kulit hitam dan kelompok ras lainnya.
Selama bertahun-tahun, ia menyebarkan narasi palsu bahwa Obama tidak lahir di AS.
Trump juga pernah menggunakan bahasa merendahkan untuk menggambarkan negara-negara di Afrika.
Trump juga secara keliru mengklaim bahwa mantan Wakil Presiden Kamala Harris, “berubah menjadi orang kulit hitam” selama kampanye presiden.
Harris mengidentifikasi dirinya sebagai orang kulit hitam dan keturunan India-Amerika.
Tahun lalu, Trump mengunggah video yang tampaknya dibuat oleh kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan Barack Obama ditangkap di Ruang Oval.
Meski begitu, sangat jarang bagi seorang presiden untuk menghapus unggahan media sosial, dan bahkan lebih jarang lagi untuk mengeluarkan permintaan maaf atau bertanggung jawab atas unggahan yang telah menyinggung banyak orang, menurut CNN.
Saat berkampanye untuk pemilihan presiden pada Oktober 2015, Trump pernah me-retweet sebuah unggahan yang mempertanyakan kesehatan mental warga Iowa.
Unggahan itu dihapus beberapa jam kemudian, dan Trump menyalahkan seorang pemuda yang sedang magang.
"Magang muda yang secara tidak sengaja melakukan retweet meminta maaf," ungkap Trump.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan