News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Ukraina Kirim Ahli Drone ke Timur Tengah Minggu Ini, Bantu AS Hadapi Iran

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Whiesa Daniswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ZELENSKY DAN TRUMP - Gambar diambil dari Facebook The White House, Rabu (16/7/2025), memperlihatkan Presiden Ukraina Zelensky (kanan) dan Presiden AS Donald Trump (kiri) bertemu di Gedung Putih pada 28 Februari 2025.-- Militer Ukraina akan mengirim ahli dronenya ke Timur Tengah minggu ini untuk bantu AS menghadapi drone Shahed Iran. Bantuan itu akan diberi imbalan rudal pertahanan AS.

Ringkasan Berita:

  • Zelenskyy mengirim ahli drone Shahed untuk membantu AS dan negara di Timur Tengah menghadapi serangan rudal Iran.
  • Iran membalas serangan AS-Israel dengan menargetkan pangkalan militer AS-Israel dan fasilitasnya di negara-negara Teluk termasuk Arab Saudi, Qatar, Bahrain.
  • Ukraina berpengalaman dalam menghadapi drone Shahed Iran yang digunakan Rusia, jenis drone yang juga digunakan Iran untuk membalas serangan AS-Israel.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1475 pada Senin (9/3/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pada hari Minggu bahwa para ahli drone Kyiv akan berada di Timur Tengah "minggu depan".

Bantuan ini akan ditukar dengan rudal pertahanan udara AS sebagai imbalan atas keahlian drone.

Ukraina menghadapi kekurangan amunisi pertahanan udara PAC-3 AS yang mahal dan Kyiv khawatir perang Timur Tengah yang lebih lama dapat mengganggu pasokan lebih jauh. 

Ketika ditanya bagaimana tepatnya ia ingin membantu Amerika Serikat dan sekutu Teluknya untuk menangkis drone, Zelenskyy berkata, "Terlalu dini untuk mengatakan hal lain pada tahap ini."

"Saya pikir minggu depan, ketika para ahli berada di lokasi, mereka akan melihat situasinya dan membantu," ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Permintaan akan teknologi pertahanan drone Ukraina dapat mengarah pada kemitraan pertahanan baru bagi Kyiv dengan negara Teluk.

Ukraina memiliki pengalaman signifikan dalam memerangi drone Shahed yang sekarang digunakan oleh Iran untuk menyerang pangkalan militer AS dan fasilitasnya di negara-negara tetangganya termasuk Arab Saudi, Qatar, Israel, dan Bahrain.

Serangan Iran merupakan tanggapan atas serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Sebelumnya, Zelenskyy mengatakan Ukraina menerima permintaan langsung dari AS dan mitranya di Timur Tengah untuk mengirimkan ahli drone Shahed karena Ukraina berpengalaman dalam menangkis drone tersebut dalam perang dengan Rusia.

“Kami siap membantu, dan berharap bahwa rakyat kami juga akan menerima dukungan yang diperlukan,” katanya pada akhir pekan lalu. 

Baca juga: Zelenskyy Klaim Siap Bantu Saudi Hancurkan Drone Iran, tapi Ukraina Minta Imbalan

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Russia dan Ukraine secara terbuka dimulai pada 24 Februari 2022. Pada hari itu, Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai kota di Ukraina. Serangan tersebut menandai peningkatan tajam dari ketegangan yang sebenarnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Akar konflik ini dapat ditelusuri sejak runtuhnya Soviet Union pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina secara bertahap memperkuat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk European Union dan United States. Kedekatan tersebut dipandang oleh Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan bekas wilayah Uni Soviet.

Ketegangan semakin meningkat pada 2014 setelah gelombang demonstrasi besar terjadi di ibu kota Kyiv, yang dikenal sebagai Revolution of Dignity atau Revolusi Maidan. Perubahan pemerintahan Ukraina yang lebih condong ke Barat memicu reaksi keras dari Rusia. Tidak lama kemudian, Rusia mencaplok wilayah Crimea, yang sebelumnya merupakan bagian dari Ukraina.

Pada saat yang sama, konflik bersenjata juga pecah di kawasan Donbas, di Ukraina timur. Pasukan pemerintah Ukraina terlibat pertempuran dengan kelompok separatis yang mendapat dukungan dari Rusia. Sejumlah upaya diplomatik sempat dilakukan untuk meredakan situasi, namun ketegangan tidak pernah benar-benar berakhir.

Situasi akhirnya mencapai titik puncak pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar terhadap Ukraina. Rusia menyatakan langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah Donbas serta mencegah perluasan NATO.

Namun, serangan tersebut memicu kecaman luas dari banyak negara. United States bersama negara-negara Barat kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan meningkatkan bantuan militer serta keuangan bagi Ukraina. Konflik ini pun berkembang menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir.

AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan di tengah perang yang masih berlangsung.

Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.

  • Perdana Menteri Belanda Bahas Produksi Senjata di Ukraina

Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan bahwa ia dan Perdana Menteri Belanda Rob Jetten membahas produksi senjata bersama selama kunjungannya ke Kyiv pada hari Minggu.

Ia menekankan pengalaman unik Ukraina dalam mempertahankan diri dari drone buatan Iran yang digunakan oleh Rusia. 

“Kami sangat ingin ini menjadi peluang bagi kedua belah pihak,” kata Zelenskyy dalam konferensi pers setelah pertemuan dengan Jetten. 

“Penting bagi kita untuk memproduksi senjata bersama dengan Belanda – dan kita pasti akan melanjutkan dan memperluas kerja sama ini,” kata Zelenskyy, menambahkan bahwa mereka telah membahas investasi dan kemungkinan volume produksi secara rinci. 

Belanda adalah donor penting untuk program PURL di mana Eropa membeli senjata AS untuk Ukraina, sejauh ini telah menyumbang $870 juta, lapor The Guardian.

  • Aliran Senjata Global Meningkat

Laporan yang dirilis pada hari Senin menunjukkan bahwa aliran senjata global telah meningkat hampir 10 persen dalam lima tahun terakhir, dengan Eropa meningkatkan impornya lebih dari tiga kali lipat setelah perang di Ukraina.

"Lonjakan ini dapat dijelaskan, setidaknya sebagian, oleh fakta bahwa negara-negara Eropa membeli senjata untuk memasok ke Ukraina dan karena mereka berupaya meningkatkan kemampuan militer mereka sendiri terhadap ancaman yang dirasakan dari Rusia," kata Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). 

Meskipun impor senjata ke Eropa masih belum mencapai tingkat yang terlihat selama Perang Dingin, Eropa sekarang menjadi penerima senjata terbesar [secara global], menurut Mathew George, direktur Program Transfer Senjata SIPRI, kepada AFP.

  • Pertahanan Udara Rusia Mencegat Ratusan Drone

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Minggu bahwa unit pertahanan udaranya telah mencegat 234 drone di berbagai bagian Rusia tengah dan selatan selama periode sembilan jam.

Enam drone di antaranya menuju Moskow. 

Kementerian melaporkan tidak ada kerusakan atau korban jiwa selama periode tersebut, yang berlangsung dari pukul 14.00 hingga 23.00 waktu setempat.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini