News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Mesir Khawatir Israel Tak Terkendali Jika Iran Runtuh

Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Mesir khawatir runtuhnya Iran dalam perang kawasan justru membuat Israel semakin dominan secara militer.
  • Analis keamanan di Kairo menilai Iran selama ini menjadi salah satu penyeimbang kekuatan Israel di Timur Tengah.
  • Jika Iran melemah atau kolaps, keseimbangan geopolitik kawasan dikhawatirkan berubah drastis.

 

TRIBUNNEWS.COM - Kekhawatiran baru muncul di Timur Tengah seiring eskalasi perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah Mesir memperingatkan bahwa runtuhnya Iran justru dapat membuka jalan bagi Israel untuk semakin bebas menggunakan kekuatan militernya dan membentuk ulang peta kekuatan kawasan.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah operasi militer besar-besaran Israel di berbagai wilayah Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Yaman, dikutip dari The National.

Sejumlah analis menilai rangkaian operasi tersebut menunjukkan kemampuan Israel memperluas pengaruh militernya di kawasan.

Di mata para pengamat keamanan Mesir, melemahnya Iran—yang selama ini menjadi salah satu kekuatan penyeimbang terhadap Israel—dapat membuat negara Yahudi itu semakin dominan di kawasan.

Beberapa politisi dan analis di Kairo bahkan memperingatkan bahwa jika Iran benar-benar runtuh akibat perang, Israel bisa menjadi kekuatan militer yang nyaris tanpa penantang di Timur Tengah.

Sejumlah analis militer Mesir menilai Israel saat ini tengah memanfaatkan momentum konflik untuk memperluas pengaruh strategisnya di kawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel berhasil menghancurkan sebagian besar kemampuan militer Hamas di Gaza, melemahkan Hizbullah di Lebanon, serta melakukan serangan terhadap target militer di Suriah dan kelompok Houthi di Yaman.

Serangkaian operasi tersebut menimbulkan kekhawatiran di Mesir bahwa Israel dapat menggunakan kekuatan militernya untuk membentuk ulang tatanan geopolitik Timur Tengah.

Sebagian analis bahkan memperingatkan kemungkinan Israel memperluas kehadiran militernya di kawasan strategis, termasuk wilayah Laut Merah atau kawasan yang berdekatan dengan Mesir.

Seorang mantan jenderal Mesir, Samir Farag, mengatakan jika Iran runtuh, Israel dapat menjadi kekuatan militer yang tidak lagi memiliki pesaing utama di kawasan. Ia bahkan menyebut Mesir bisa menjadi satu-satunya negara yang tersisa untuk menyeimbangkan kekuatan Israel di Timur Tengah.

Kekhawatiran Soal “Greater Israel”

Baca juga: Media Israel: Tel Aviv Jajaki Cara untuk Mundur dari Perang Lawan Iran, UEA Sudah Gabung Perang?

Di tengah ketegangan tersebut, pernyataan sejumlah politisi Israel mengenai konsep “Greater Israel”—wilayah yang secara historis disebut membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat—turut memicu kecemasan di Mesir.

Wacana tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa Israel memiliki ambisi geopolitik yang lebih luas jika rival-rival regionalnya melemah.

Meski demikian, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi berusaha menenangkan publik dengan menegaskan bahwa keamanan negaranya tetap terjaga.

“Tidak perlu khawatir tentang Mesir. Tidak ada yang berani menyentuh negara ini,” kata Sisi dalam sebuah acara publik saat ketegangan regional meningkat.

Selain risiko keamanan, perang Iran juga mulai memukul ekonomi Mesir.

Pemerintah Mesir menyatakan negara itu berada dalam kondisi “hampir darurat ekonomi” akibat gejolak kawasan yang memicu kenaikan harga energi, pelemahan mata uang, serta gangguan jalur perdagangan global, dikutip dari Arab news.

Konflik juga berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran di Terusan Suez yang merupakan salah satu sumber devisa terbesar Mesir.

Beberapa perusahaan pelayaran internasional bahkan mulai mengalihkan rute kapal dari kawasan Timur Tengah untuk menghindari risiko konflik.

Mesir Berupaya Menjadi Penengah

Di tengah ketegangan yang meningkat, Mesir berusaha memainkan peran diplomatik untuk meredakan konflik.

Pemerintah di Kairo menyerukan penghentian perang dan menawarkan diri menjadi mediator dalam upaya menghentikan eskalasi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

AGRESI MILITER - Pasukan Israel (IDF) dalam agresi militer ke Jalur Gaza. IDF membombardir Gaza sejak melanggar gencatan senjata untuk menekan Hamas melepaskan sandera tanpa menghendaki mundur dari wilayah kantung Palestina tersebut. (Anews/Tangkap Layar)

Namun para analis menilai posisi Mesir berada dalam situasi sulit. Jika Iran kalah, Israel bisa menjadi kekuatan dominan di kawasan. Sebaliknya, jika Iran bertahan atau menang, jaringan sekutunya di Timur Tengah juga berpotensi semakin kuat.

Karena itu, bagi Mesir, konflik Iran–Israel tidak hanya soal perang antarnegara, tetapi juga pertarungan yang dapat menentukan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dalam jangka panjang.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini