News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.488, Zelensky: Tim Ukraina-AS Bertemu di Miami

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Sri Juliati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PRESIDEN UKRAINA ZELENSKYY - Foto diunduh dari laman Presiden Ukraina, Sabtu (14/1/2026), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat melakukan panggilan telepon dengan Putra Mahkota Negara Kuwait Sheikh Sabah Al-Khaled Al-Hamad Al-Mubarak Al-Sabah pada 5 Maret 2026. Pada 21 Maret 2026, Zelensky mengatakan pembicaraan Ukraina-AS berlanjut di Amerika pada 22 Maret 2026. Rusia tidak hadir dalam pertemuan itu.

Ringkasan Berita:

  • Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.488 saat Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan pertemuan delegasi Ukraina dengan perwakilan AS di Amerika.
  • Pertemuan ini membahas upaya lanjutan untuk mencapai perdamaian dan akan berlanjut ke hari berikutnya.
  • Ukraina menekankan pentingnya mengetahui kesiapan Rusia mengakhiri perang secara serius.
  • Namun, Kremlin menegaskan pihak luar tidak akan dilibatkan dalam penentuan syarat perdamaian.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.488 pada Minggu (22/3/2026).

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa delegasi Ukraina telah menggelar pertemuan dengan perwakilan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Amerika Serikat pada 21 Maret.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya lanjutan untuk mencari jalan damai dalam konflik Rusia-Ukraina.

Dalam pidatonya, Zelensky menyampaikan bahwa tim Ukraina telah bertemu dengan Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta akan melanjutkan pembicaraan pada hari berikutnya, Minggu, 22 Maret 2026.

"Tim kami sekarang berada di Amerika, sudah ada pertemuan hari ini. Dari pihak Amerika – Steve Witkoff dan Jared Kushner. Penting bagi kita semua di dunia bahwa diplomasi terus berlanjut dan kita berusaha mengakhiri perang ini – perang Rusia melawan Ukraina. Tidak ada yang menginginkan perang," kata kepala negara tersebut.

Zelensky menegaskan bahwa komunikasi antara kedua pihak akan terus berlanjut, dengan fokus pada kesiapan Rusia dalam mengakhiri konflik secara serius dan bermartabat.

"Dan yang terpenting adalah memahami seberapa siap pihak Rusia untuk benar-benar mengakhiri perang dan seberapa siap mereka melakukannya dengan jujur dan bermartabat. Terutama sekarang, ketika masalah geopolitik semakin meningkat karena situasi di Iran. Akan ada laporan terperinci dari tim tersebut," tambahnya.

Sementara itu, kepala tim negosiasi Ukraina Rustem Umerov mengungkapkan bahwa pembahasan dengan pihak Amerika menitikberatkan pada koordinasi langkah-langkah strategis menuju hasil nyata dalam proses negosiasi.

"Kami terus membahas isu-isu kunci dan langkah-langkah selanjutnya dalam jalur negosiasi... Kami melaporkan hasil hari pertama pertemuan kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky," ujarnya.

Delegasi Ukraina yang dipimpin Umerov tiba di Miami pada 21 Maret.

Baca juga: Rusia Dukung Iran, Putin Tegaskan Tetap Jadi Teman Setia dan Mitra yang Dapat Diandalkan

Rombongan tersebut juga mencakup sejumlah pejabat penting, di antaranya Kyrylo Budanov, Serhiy Kyslytsia, serta David Arakhamia.

Di sisi lain, Kremlin sebelumnya menegaskan bahwa pihak non-Rusia tidak akan dilibatkan dalam perundingan damai terkait syarat-syarat penghentian perang Rusia melawan Ukraina yang berlangsung di Amerika Serikat.

Pertemuan ini menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi masih terus diupayakan di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, dikutip dari Suspilne.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina mulai pecah pada 24 Februari 2022, ketika Rusia melancarkan serangan militer ke sejumlah kota di Ukraina. Serangan ini terjadi setelah hubungan kedua negara lama berada dalam kondisi tegang.

Latar belakang konflik sebenarnya sudah muncul sejak runtuhnya Uni Soviet bubar pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang membuat Rusia merasa kehilangan pengaruh di kawasan bekas wilayahnya.

Situasi semakin memanas pada tahun 2014 saat terjadi aksi demonstrasi besar di Kyiv. Peristiwa yang dikenal sebagai Revolusi Maidan ini mengubah arah pemerintahan Ukraina menjadi lebih pro-Barat. Sebagai respons, Rusia kemudian mencaplok wilayah Krimea dari Ukraina.

Di waktu yang sama, konflik bersenjata juga pecah di kawasan Donbas di Ukraina timur. Pasukan pemerintah Ukraina terlibat pertempuran dengan kelompok separatis yang diyakini mendapat dukungan dari Rusia. Meski berbagai upaya damai telah dilakukan, konflik di wilayah tersebut tidak kunjung berakhir.

Puncak ketegangan terjadi pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, memerintahkan operasi militer besar-besaran ke Ukraina. Rusia beralasan bahwa langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas serta mencegah perluasan NATO di kawasan tersebut.

Serangan ini menuai kecaman luas dari dunia internasional. Amerika Serikat dan negara-negara Barat kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia serta memberikan bantuan militer dan finansial kepada Ukraina.

Sejak itu, perang Rusia–Ukraina menjadi salah satu konflik global paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Hingga saat ini, perang masih berlanjut dan AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan.

Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.

  • Negosiasi Damai Ukraina–AS Berlanjut, Rusia Tidak Hadir

Perwakilan Ukraina dan Amerika Serikat kembali menggelar pembicaraan di Florida untuk mencari jalan damai atas konflik dengan Rusia.

Pertemuan ini merupakan lanjutan dari beberapa putaran negosiasi sebelumnya yang dimediasi AS di berbagai negara.

Meski sempat menghasilkan kesepakatan pertukaran tahanan, hingga kini belum ada terobosan besar terkait penghentian perang.

Dalam pertemuan terbaru ini, kedua pihak membahas langkah-langkah lanjutan dalam proses negosiasi, meskipun Rusia tidak ikut serta, seperti diberitakan The Guardian.

  • Gedung Putih Nilai Pembicaraan Semakin Dekati Kesepakatan Damai

Gedung Putih menilai pertemuan terbaru dengan Ukraina berlangsung secara konstruktif dan menunjukkan perkembangan positif.

Diskusi yang dilakukan difokuskan pada upaya menyelesaikan berbagai poin yang masih menjadi hambatan dalam perundingan damai.

Pemerintah AS berharap pembahasan ini dapat mempersempit perbedaan antara pihak-pihak terkait, sehingga membuka jalan menuju kesepakatan damai yang lebih komprehensif dalam waktu dekat.

  • Serangan Rusia Tewaskan Warga dan Picu Pemadaman Listrik

Serangan militer Rusia di wilayah tenggara Ukraina menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil, termasuk anak-anak.

Di wilayah Zaporizhzhia dan Dnipropetrovsk, beberapa orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.

Selain itu, serangan drone juga merusak fasilitas energi, yang mengakibatkan pemadaman listrik di wilayah utara seperti Chernihiv serta sebagian Kyiv.

Pemerintah Ukraina kini berupaya memperbaiki infrastruktur yang terdampak.

  • Ukraina Luncurkan Serangan Balasan ke Belgorod

Pasukan Ukraina melancarkan serangan ke sebuah gedung publik di wilayah perbatasan Belgorod, Rusia.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan empat orang, termasuk dua wanita yang ditemukan di bawah reruntuhan bangunan.

Belgorod merupakan salah satu wilayah Rusia yang kerap menjadi target serangan sejak konflik berlangsung, mengingat lokasinya yang dekat dengan perbatasan Ukraina.

  • Pemerintah Rusia Batasi Demonstrasi Soal Sensor Internet

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah Rusia membatasi berbagai rencana demonstrasi yang menentang kebijakan sensor internet dan pemblokiran aplikasi Telegram.

Banyak aksi unjuk rasa dibatalkan dengan berbagai alasan administratif.

Karena khawatir terhadap penindakan, para aktivis memilih tidak mengambil risiko menggelar demonstrasi besar tanpa izin. 

Sebagian dari mereka kemudian menempuh jalur hukum atau mengadakan diskusi dalam kelompok kecil sebagai bentuk protes.

  • Puluhan Ribu Warga Ceko Gelar Demo, Kritik Sikap Pemerintah terhadap Ukraina

Puluhan ribu warga di Praha, Republik Ceko, menggelar aksi demonstrasi besar menentang pemerintahan Andrej Babiš.

Mereka mengkritik sikap pemerintah yang dianggap meremehkan ancaman invasi Rusia ke Ukraina serta menolak memberikan bantuan militer.

Para demonstran juga menilai kebijakan tersebut berpotensi mendekatkan negara ke Rusia dan melemahkan posisi Ceko di Uni Eropa.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini