Update terbaru situasi di Timur Tengah pagi ini:
- Babak baru pembicaraan: Delegasi AS dan Iran diperkirakan akan tiba di Pakistan akhir pekan ini untuk melanjutkan negosiasi 'damai' pada hari Senin, menurut sumber Iran kepada CNN.
- Poin-poin yang masih menjadi kendala: Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya pada hari Jumat bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan tetapi seorang pejabat senior Iran meragukan konsistensi AS.
- Selat Hormuz: Hanya segelintir kapal yang melewati Selat Hormuz beberapa jam setelah dibuka Iran. Ketua parlemen Iran mengatakan selat tersebut akan ditutup kembali jika AS tidak mencabut blokade angkatan lautnya di wilayah tersebut.
- Gencatan senjata di Lebanon: Sementara itu, gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Hizbullah tampaknya sebagian besar tetap berlaku, meskipun Lebanon menuduh Israel melakukan beberapa pelanggaran gencatan senjata.
- Hegseth Mengancam Infrastruktur Iran: Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kembali mengancam akan menyerang infrastruktur listrik Iran jika gencatan senjata gagal. Berdasarkan hukum internasional, menargetkan infrastruktur energi suatu negara secara sengaja dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
TRIBUNNEWS.COM, IRAN - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” kata Araqchi dalam sebuah unggahan di akun X-nya pada Jumat, 17 April.
Beberapa jam setelah pengumuman itu, harga minyak dunia turun hingga 11 persen.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun 11 Persen Setelah Iran Buka Selat Hormuz
Pembukaan Selat Hormuz dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump 'memaksa' Israel melakukan gencatan senjata di Lebanon.
Setelah pengumuman itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan tiga syarat kapal boleh melewati Selat Hormuz.
Sumber Tasnim News yang dilansir, Sabtu (18/4/2026) menyebutkan tiga syarat tersebut yakni:
1. Kapal-kapal tersebut haruslah kapal komersial dan pelayaran kapal militer dilarang, serta kapal maupun muatannya tidak boleh terkait dengan negara-negara musuh.
2. Kapal harus melewati rute yang ditentukan oleh Iran.
3. Pelayaran kapal harus dikoordinasikan dengan pasukan Iran yang bertanggung jawab atas pelayaran tersebut karena CENTCOM, sebelum perang, telah mengkonfirmasi pengelolaan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sumber yang mengetahui informasi tersebut lebih lanjut menekankan bahwa penerapan beberapa prasyarat, termasuk gencatan senjata di Lebanon, merupakan kunci keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
21 Kapal AS
Dua puluh satu kapal telah berbalik arah dan kembali ke Iran sejak blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman dimulai pada 13 April, kata Komando Pusat AS pada Jumat malam.
“Sejak dimulainya blokade, 21 kapal telah mematuhi arahan dari pasukan AS untuk berbalik dan kembali ke Iran,” kata CENTCOM pada X.
Hal itu dilakukan setelah Iran mengatakan telah membuka kembali Selat Hormuz untuk semua kapal komersial , meskipun ketua parlemen Iran mengatakan jalur air tersebut akan ditutup jika AS tidak mencabut blokade angkatan lautnya di wilayah tersebut.
Perusahaan pelayaran tetap berhati-hati dalam melintasi selat tersebut, hanya segelintir kapal yang melewati jalur air penting itu pada hari Jumat.
Baca tanpa iklan