News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Analis: Target Tersembunyi dari Perang Iran-AS Mungkin China

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Analis menilai konflik Iran dan Amerika Serikat berkaitan dengan kepentingan China.
  • China sangat bergantung pada minyak Iran dan jalur Selat Hormuz.
  • Pengaruh China terhadap Iran dinilai terbatas dalam konflik ini.


TRIBUNNEWS.COM - Saat AS dan Iran berupaya mencapai gencatan senjata, salah satu pertanyaan terbesar yang membayangi konflik ini mungkin bukan tentang Iran saja, melainkan tentang China, menurut analis.

Mengutip Forbes, pada 20 April, pemimpin China Xi Jinping secara terbuka menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz, sebagai tanda bahwa Beijing mengamati peristiwa tersebut dengan cermat.

Zineb Riboua, seorang peneliti di Hudson Institute yang mengkhususkan diri dalam pengaruh China di Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan dalam sebuah podcast Iran International pada 25 April bahwa signifikansi yang lebih luas dari serangan AS-Israel ke Iran mungkin terletak pada pelemahan posisi strategis China.

“Saya termasuk dalam kelompok yang berpikir bahwa ini tentang melemahkan China,” kata Riboua.

“Saya rasa pemerintah tidak mengatakannya seperti itu, tetapi saya pikir ini sangat penting.”

Selama berminggu-minggu, China menghindari komentar publik langsung tentang krisis Hormuz, meskipun sangat bergantung pada aliran energi dari Teluk Persia.

Riboua mengatakan, pernyataan Xi Jinping mencerminkan kecemasan China dan mungkin juga mengungkap keterbatasan pengaruh China terhadap Iran.

Riboua menambahkan bahwa intervensi Xi Jinping menunjukkan AS mungkin sedang mengubah status quo yang sebelumnya menguntungkan China.

Ia juga menambahkan bahwa China tetap bergantung pada kehadiran AS di Selat Hormuz dan mungkin tidak memiliki pengaruh yang cukup untuk menekan Iran secara langsung.

PERANG IRAN - Tangkap layar YouTube Iran International 25 April 2026, menampilkan Peneliti di Hudson Institute, Zineb Riboua. Ia menguraikan kekhawatiran China yang semakin meningkat terkait Selat Hormuz. (Youtube)

Mengapa Iran Penting bagi China

Mengutip Iran International, China merupakan pembeli utama minyak mentah Iran dan telah lama diuntungkan dari isolasi negara tersebut.

“China diuntungkan di tiga bidang,” kata Riboua.

Baca juga: Dari Pakistan, Menlu Iran Abbas Araghchi Terbang ke Rusia Temui Putin

“Yang pertama adalah minyaknya. Sebanyak 90 persen minyak Iran diekspor ke China dengan harga diskon.”

China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, dengan impor sekitar 11 juta barel per hari.

Oleh karena itu, China rentan terhadap gangguan apa pun di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global.

Pembeli dari China dilaporkan mengambil lebih dari 80 persen ekspor minyak mentah Iran pada tahun 2025, sering kali dengan diskon 8 hingga 10 dolar AS di bawah harga Brent, sehingga memberikan pasokan murah yang bernilai tinggi.

Setiap kebuntuan AS-Iran yang berkepanjangan atau blokade angkatan laut di Hormuz, dapat memaksa China mengganti minyak Iran yang lebih murah dengan alternatif yang lebih mahal, sementara biaya pengiriman dan asuransi yang meningkat akan menambah tekanan lebih lanjut.

Riboua mengatakan, Iran juga berfungsi sebagai tempat uji coba untuk penghindaran sanksi dan pengembangan saluran keuangan alternatif.

“Apa yang dilakukan Iran bagi China pada dasarnya adalah menjadi laboratorium penghindaran sanksi.”

Jaringan yang terkait dengan China telah menggunakan perusahaan fiktif, transfer antarkapal, pelabelan ulang kargo, serta saluran pembayaran alternatif untuk menjaga aliran minyak Iran tetap berjalan meskipun ada pembatasan Barat.

‘Ingin AS Terjebak di Timur Tengah’

Upaya Iran untuk mempersenjatai Selat Hormuz mungkin juga merugikan salah satu mitra terpentingnya, China.

“Iran mengira bahwa dengan mempersenjatai Selat Hormuz, mereka dapat memaksa presiden AS,” kata Riboua.

“Namun, dalam prosesnya, mereka justru merugikan China.”

Dengan ketergantungan China yang tinggi terhadap aliran energi regional, setiap gangguan yang berkepanjangan akan meningkatkan risiko bagi Beijing.

Riboua berpendapat bahwa persaingan global yang lebih luas tetap berpusat di Asia.

“China ingin Amerika terjebak di Timur Tengah,” katanya.

“Itu adalah skenario yang sempurna ketika China mempertimbangkan kemungkinan serangan terhadap Taiwan.”

Pengaruh China atas Iran

Dalam konteks konflik perang Iran-AS, China berupaya mempertahankan hubungan dengan Iran yang lebih kompleks.

Mengutip Forbes, hal ini sebagian karena hubungan tersebut didorong oleh keinginan China untuk memperkuat Iran sebagai penyeimbang pengaruh AS di kawasan Timur Tengah.

Karena itu, China terus menjalin hubungan ekonomi dengan Iran, termasuk membantu negara tersebut menghindari sanksi Barat.

Kedua negara juga menandatangani kemitraan strategis selama 25 tahun pada 2021 untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan teknologi.

Meskipun China tidak memiliki perjanjian pertahanan formal dengan Iran, baru-baru ini China dilaporkan menawarkan satelit pengintai komersial kepada Iran untuk membantu mengidentifikasi lokasi fasilitas militer AS.

China juga disebut-sebut tengah mempersiapkan kemungkinan pengiriman senjata ke Iran.

Namun demikian, hubungan diplomatik antara Iran dan China tidak terlalu mendalam.

Meskipun China merupakan mitra dagang terbesar Iran, kedua negara memiliki perbedaan signifikan secara budaya dan ideologis.

Selain itu, tidak jelas seberapa besar pengaruh China terhadap Iran.

China pernah berdiskusi dengan Iran untuk meredakan serangan Houthi di Laut Merah pada Januari 2024, tetapi dalam konflik saat ini, pengaruh tersebut masih belum terlihat signifikan.

Sebagai contoh, Iran tetap memblokir kapal-kapal China yang melintasi Selat Hormuz tanpa memberikan perlakuan khusus.

Paling jauh, China mungkin hanya mampu mengamankan pembukaan sebagian jalur pelayaran bagi negara-negara yang dianggap netral atau bersahabat oleh Teheran.

Namun, bahkan dengan pengaruh ekonomi yang besar, China kemungkinan tidak dapat memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz secara penuh, yang kini dianggap sebagai alat tawar strategis utama Iran.

Iran Menawarkan Kesepakatan kepada AS untuk Membuka Kembali Selat Hormuz dan Menunda Pembicaraan Nuklir

Dalam perkembangan terbaru, Iran menawarkan kesepakatan kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan membantu mengakhiri perang, sambil menunda pembicaraan tentang program nuklirnya ke tahap selanjutnya, lapor Axios.

Menurut laporan tersebut, proposal itu disampaikan kepada AS melalui mediator Pakistan setelah kegagalan pembicaraan di Islamabad.

Tawaran tersebut, akan memprioritaskan pembukaan kembali jalur air strategis dan meredakan konflik, sementara isu nuklir yang lebih kontroversial ditunda ke negosiasi berikutnya.

Trump diperkirakan akan mengadakan pertemuan di Situation Room pada Senin (27/4/2026) terkait Iran bersama tim keamanan nasional dan kebijakan luar negeri utamanya, menurut tiga pejabat AS.

Salah satu pejabat mengatakan, pertemuan tersebut akan membahas kebuntuan dalam negosiasi dengan Iran serta opsi langkah selanjutnya dalam perang.

Trump mengisyaratkan dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu bahwa ia ingin melanjutkan blokade angkatan laut.

Ia berharap blokade itu akan membuat Iran menyerah dalam beberapa minggu ke depan ketika fasilitas minyaknya berisiko runtuh akibat ketidakmampuan mengekspor minyak.

"Ketika Anda memiliki sejumlah besar minyak yang mengalir melalui sistem Anda, jika karena alasan apa pun jalur ini ditutup karena Anda tidak dapat memasukkannya ke dalam kontainer atau kapal, maka jalur itu bisa meledak dari dalam. Mereka mengatakan hanya memiliki sekitar tiga hari sebelum itu terjadi," kata Trump.

"Dan ketika meledak, Anda tidak akan pernah bisa membangunnya kembali seperti semula. Itu hanya akan menjadi 50 persen dari kondisi sekarang. Jadi saya pikir mereka berada di bawah tekanan."

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini