News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

20.000 Pelaut Terdampar di Selat Hormuz, Hidup Berhari-hari di Atas Kapal

Penulis: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KAPAL PERTAMINA DI SELAT HORMUZ - Kapal tanker milik Indonesia di Selat Hormuz. (KOMPAS.com/Seto Ajinugroho)

Ringkasan Berita:

  • Sekitar 20.000 pelaut terdampar di Teluk Persia setelah penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan AS-Israel.
  • Mereka terjebak berhari-hari di kapal dengan ancaman kekurangan makanan, udara, serta risiko serangan drone dan ranjau laut.
  • PBB menyebut situasi ini krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi, sementara banyak awak  kapal juga mengalami tekanan, intimidasi, bahkan gaji belum dibayar selama berbulan-bulan.

TRIBUNNEWS.COM, IRAN - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memperingatkan krisis 'yang belum pernah terjadi sebelumnya'  sedang terjadi di Teluk Persia, termasuk di Selat Hormuz.

Krisis itu melanda puluhan ribuan  pelaut yang terdampar karena kapal mereka yang tak bisa melewati blode Selat Hormuz.

PBB mencatat 20.000 pelaut yang terdampar terjebak di atas kapal selama berhari-hari sejak selat penting untuk transportasi minyak dunia itu ditutup Iran di awal-awal perang dengan AS-Israel.

Dikutip dari CNN, Rabu (6/5/2026), para pekerja maritim itu banyak diantaranya berasal dari negara-negara miskin dan berkembang.

Selain ancaman kekurangan bahan makanan, mereka juga berada di jalur perang antara Iran Vs AS-Israel yang secara otomatis mengancam nyawa mereka. Drone dan ranjau laut adalah ancaman nyata bagi mereka.

“Ini adalah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Damien Chevallier, Direktur Divisi Keselamatan Maritim di Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO).

“Kami memiliki sekitar 20.000 pelaut di Teluk selama hampir delapan minggu. Ini adalah krisis kemanusiaan. Kami belum pernah menghadapi situasi seperti ini.”

DITUTUP - Iran menutup Selat Hormuz buntut perang melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel. TRIBUNNEWS (TRIBUNNEWS/)

Peringatan tersebut mengungkap betapa seriusnya situasi yang dihadapi para awak kapal.

Sejak perang dimulai 28 Februari 2026, Iran berupaya memberlakukan aturan navigasi baru di Teluk Persia, yang memungkinkan kapal-kapal dari negara-negara yang disebut "sahabat" untuk melewati selat tersebut dengan imbalan biaya.

Sebagai tanggapan, pemerintahan Trump telah mengambil langkah untuk memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan kapal-kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.

“Sekitar 800 hingga 1.000 kapal ingin berlayar melalui Selat Hormuz untuk keluar dari daerah tersebut,” kata Chevallier.

Pengakuan awak kapal

Salah satu contoh kasus tersebut adalah Auroura, sebuah kapal tanker minyak yang terdampar di  Teluk Persia tak bisa melewati Teluk Hormuz.

Para awak kapal mengatakan kepada CNN dalam sebuah wawancara bulan lalu bahwa mereka telah terdampar di atas kapal selama berminggu-minggu setelah perang pecah.

Mereka mengatakan bahwa pemilik kapal menekan mereka untuk berlayar ke Iran untuk mengambil minyak meskipun risikonya semakin meningkat.

Para awak kapal, yang semuanya warga negara India, menggambarkan kondisi yang memburuk di atas kapal, termasuk kekurangan makanan dan air bersih.

Manoj Yadav, seorang koordinator serikat pekerja di Forward Seamen's Union of India, mengatakan situasinya sangat buruk.

“Para awak kapal menghadapi kekurangan pasokan kebutuhan dasar,” katanya kepada CNN saat itu.

“Mereka ingin pulang. Situasi di kapal ini tidak baik.”

Kasus Auroura bukanlah kasus terisolasi, menurut Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF), sebuah serikat pekerja global yang mewakili pelaut di seluruh dunia.

“Ini bukan hanya repatriasi, ini juga penelantaran,” kata Mohamed Arrachedi, koordinator jaringan bendera kemudahan ITF untuk dunia Arab dan Iran.

“Beberapa pelaut belum dibayar selama delapan atau bahkan 11 bulan.”

Arrachedi menggambarkan laporan-laporan luas tentang intimidasi dan tekanan dari para pemilik kapal.

“Ada banyak kasus intimidasi. Beberapa pemilik kapal menjadi sangat marah,” katanya.

“Saya memiliki kasus di mana para pelaut diancam secara verbal.”

Para awak kapal Auroura mengklaim bahwa mereka diancam akan ditahan upahnya dan diperingatkan akan "konsekuensi serius" jika mereka menolak berlayar ke Iran dan memuat minyak.

Para awak kapal mengatakan bahwa mereka berulang kali meminta untuk turun dari kapal dan dipulangkan.

“Meskipun telah berulang kali meminta, perusahaan menolak untuk mengatur pelepasan tugas atau pemulangan kami,” tulis mereka dalam laporan insiden tanggal 13 Maret kepada otoritas maritim United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), yang ditinjau oleh CNN.

“Kami pada dasarnya terdampar di atas kapal dalam kondisi yang tidak aman.”

Kekhawatiran tersebut semakin menjadi kenyataan. Setidaknya 10 pelaut telah tewas dalam serangan terhadap kapal sejak perang dengan Iran dimulai, menurut IMO.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini