TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa mereka saat ini tengah mempertimbangkan proposal yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Kabar tersebut menguat setelah sejumlah media Barat melaporkan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan.
Termasuk laporan dari Axios, menyebut Gedung Putih meyakini kedua pihak kini berada pada titik paling dekat untuk mencapai kesepakatan sejak konflik dimulai.
Meski terdapat perkembangan diplomatik, Iran menegaskan belum mengambil keputusan final.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa proposal masih dalam tahap kajian internal karena beberapa isu utama belum disepakati, terutama terkait program nuklir, pencabutan sanksi, serta mekanisme keamanan di Selat Hormuz.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala tim negosiasi, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai bahwa AS masih menggunakan pendekatan tekanan politik, ekonomi, hingga militer dalam proses perundingan.
Oleh karenanya, Iran menahan hasil putusan demi mengatur strategi agar tercapainya kesepakatan yang adil dan berimbang.
Di sisi lain, Iran juga masih menunggu hasil pembahasan internal dan jalur mediator seperti Pakistan sebelum memberikan respons resmi.
Kendati demikian, munculnya draf awal kesepahaman 14 poin serta intensitas komunikasi kedua pihak dinilai sebagai sinyal bahwa proses menuju deeskalasi mulai terbuka.
Bahkan, sejumlah laporan menyebut kedua pihak sudah mendekati kerangka awal kesepakatan untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Isi Proposal Damai AS
Adapun memorandum yang tengah menjadi sorotan ini digambarkan sebagai memo satu halaman yang akan menjadi dasar bagi negosiasi nuklir lebih mendalam di masa depan.
Dikutip dari CNN International, isi memo itu mencakup sejumlah poin utama, di antaranya penghentian aktivitas pengayaan nuklir Iran, penarikan pasukan AS, serta jaminan tidak ada serangan di masa depan terhadap Iran.
Baca juga: Proposal Perdamaian AS Dianggap Iran Tak Masuk Akal, Teheran Sentil Media Barat Sebagai Propaganda
Lebih lanjut, proposal perdamaian terbaru dari Iran yang berisi 14 poin juga berisi pencabutan sebagian sanksi ekonomi, serta pemulihan transit bebas di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.
Para sumber menyebut bahwa sebagian besar ketentuan dalam memo tersebut masih bergantung pada tercapainya kesepakatan akhir antara kedua pihak.
Meski proposal ini dinilai sebagai langkah awal penting dalam proses diplomasi, namun sejauh ini pembahasan antara kedua negara masih terus berlangsung dan belum menghasilkan keputusan akhir yang mengikat.
Baca tanpa iklan