News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Kaji Proposal Damai AS, Babak Akhir Perang Mulai Terlihat di Depan Mata

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Whiesa Daniswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Iran masih kaji proposal AS untuk mengakhiri konflik, belum mengambil keputusan final karena masih ada perbedaan pandangan terkait nuklir, sanksi, dan keamanan Selat Hormuz.
  • Negosiasi dinilai semakin dekat ke titik kesepakatan, ditandai dengan draf awal 14 poin dan intensitas komunikasi kedua pihak,.
  • AS memberi tekanan dan ancaman militer jika gagal sepakat, sementara dunia kini menunggu respons resmi Iran yang akan menentukan arah akhir konflik.

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa mereka saat ini tengah mempertimbangkan proposal yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Kabar tersebut menguat setelah sejumlah media Barat melaporkan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan.

Termasuk laporan dari Axios, menyebut Gedung Putih meyakini kedua pihak kini berada pada titik paling dekat untuk mencapai kesepakatan sejak konflik dimulai.

Meski terdapat perkembangan diplomatik, Iran menegaskan belum mengambil keputusan final. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa proposal masih dalam tahap kajian internal karena beberapa isu utama belum disepakati, terutama terkait program nuklir, pencabutan sanksi, serta mekanisme keamanan di Selat Hormuz.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala tim negosiasi, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai bahwa AS masih menggunakan pendekatan tekanan politik, ekonomi, hingga militer dalam proses perundingan. 

Oleh karenanya, Iran menahan hasil putusan demi mengatur strategi agar tercapainya kesepakatan yang adil dan berimbang.

Di sisi lain, Iran juga masih menunggu hasil pembahasan internal dan jalur mediator seperti Pakistan sebelum memberikan respons resmi.

Kendati demikian, munculnya draf awal kesepahaman 14 poin serta intensitas komunikasi kedua pihak dinilai sebagai sinyal bahwa proses menuju deeskalasi mulai terbuka. 

Bahkan, sejumlah laporan menyebut kedua pihak sudah mendekati kerangka awal kesepakatan untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.

Isi Proposal Damai AS

Adapun memorandum yang tengah menjadi sorotan ini digambarkan sebagai memo satu halaman yang akan menjadi dasar bagi negosiasi nuklir lebih mendalam di masa depan. 

Dikutip dari CNN International, isi memo itu mencakup sejumlah poin utama, di antaranya penghentian aktivitas pengayaan nuklir Iran, penarikan pasukan AS, serta jaminan tidak ada serangan di masa depan terhadap Iran.

Baca juga: Proposal Perdamaian AS Dianggap Iran Tak Masuk Akal, Teheran Sentil Media Barat Sebagai Propaganda

Lebih lanjut, proposal perdamaian terbaru dari Iran yang berisi 14 poin juga berisi pencabutan sebagian sanksi ekonomi, serta pemulihan transit bebas di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.

Para sumber menyebut bahwa sebagian besar ketentuan dalam memo tersebut masih bergantung pada tercapainya kesepakatan akhir antara kedua pihak.

Meski proposal ini dinilai sebagai langkah awal penting dalam proses diplomasi, namun sejauh ini pembahasan antara kedua negara masih terus berlangsung dan belum menghasilkan keputusan akhir yang mengikat.

Perbedaan pandangan antara AS dan Iran, khususnya mengenai program nuklir dan isu keamanan kawasan, masih menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan final.

Ancam Serangan Jika Negosiasi Gagal

Mengantisipasi gagalnya negosiasi perdamaian, Presiden Donald Trump menegaskan sikap keras sekaligus terbuka terhadap peluang kesepakatan dengan Iran.

Ia menyatakan bahwa jika Iran menerima kesepakatan yang sedang dibahas, maka konflik dapat segera diakhiri.

Namun di sisi lain, Trump juga memberikan peringatan tegas. Ia menegaskan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, maka opsi militer tetap terbuka dan serangan dapat kembali dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. 

"Dengan asumsi Iran setuju untuk memberikan apa yang telah disepakati, yang mungkin merupakan asumsi besar, maka Epic Fury yang sudah melegenda akan berakhir, dan blokade yang sangat efektif akan memungkinkan Selat Hormuz terbuka untuk semua, termasuk Iran,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social

“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai, dan sayangnya akan dilakukan pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," imbuhnya sebagaimana dilansir dari AFP.

Dengan kondisi tersebut, dunia kini menunggu respons resmi Iran terhadap proposal yang diajukan AS, yang diperkirakan akan menjadi penentu arah perkembangan konflik selanjutnya.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini