News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Drone Turki Tembak Jatuh Jet Tempur Rafale pada Pertempuran di Sudan?

Penulis: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DITEMBAK - Jet Rafale. Pesawat ini dikabarkan ditembak drone Turki di Sudan.

TRIBUNNEWS.COM – Rekaman taktis dari medan perang Sudan memicu guncangan baru dalam perdebatan global soal masa depan perang udara. 

Dikutip dari Defence Security Asia, sebuah video yang beredar luas memperlihatkan objek udara jatuh berputar setelah terkena serangan.

Masih menurut situs tersebut, hal ini memunculkan dugaan bahwa drone tempur Turki Bayraktar AKINCI berhasil menembak jatuh jet tempur Rafale buatan Prancis dalam duel udara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Jika klaim itu terbukti benar, maka insiden tersebut dapat menjadi titik balik doktrin militer modern: pertama kalinya dalam sejarah penerbangan tempur, sebuah drone nirawak menghancurkan jet tempur berawak menggunakan rudal udara-ke-udara.

Peristiwa yang diduga terjadi di Sudan itu langsung menarik perhatian analis pertahanan dunia karena bukan hanya menyangkut kehancuran sebuah Rafale, tetapi juga membuka kemungkinan lahirnya era baru superioritas udara berbasis drone tempur atau unmanned combat aerial vehicle (UCAV).

Lebih jauh lagi, dugaan keterlibatan Rafale yang disebut terkait jaringan dukungan Uni Emirat Arab (UEA) terhadap Rapid Support Forces (RSF) membuat konflik Sudan kini dipandang bukan lagi sekadar perang saudara, melainkan laboratorium geopolitik tempat teknologi perang masa depan diuji secara nyata.

Jet Rafale selama ini menjadi tulang punggung kekuatan udara sejumlah negara di Eropa, Timur Tengah hingga Indo-Pasifik, termasuk Indonesia.

Pesawat produksi perusahaan pertahanan Prancis Dassault Aviation itu dikenal sebagai jet tempur multirole generasi 4.5 dengan kemampuan peperangan elektronik canggih dan radar jaringan modern.

Harga satu unit Rafale diperkirakan melampaui 120 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,9 triliun, tergantung konfigurasi radar, persenjataan dan paket dukungan operasional.

Oleh karena itu, dugaan bahwa jet mahal tersebut bisa dijatuhkan rudal ringan dari drone memunculkan pertanyaan serius tentang efektivitas konsep superioritas udara konvensional.

Sebaliknya, rudal EREN buatan Roketsan yang diduga digunakan AKINCI hanya berbobot sekitar 35 kilogram.

Sistem ini mewakili pendekatan baru dalam perang udara modern: biaya penghancuran rendah untuk menghancurkan platform bernilai sangat tinggi.

Selama puluhan tahun, perencana militer dunia meyakini jet tempur berawak memiliki keunggulan bertahan hidup yang jauh lebih tinggi dibanding sistem nirawak. Namun perang Sudan perlahan menggoyahkan asumsi tersebut.

Di tengah perdebatan global itu, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang mengakuisisi Rafale sebagai bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Udara.

Pemerintah Indonesia sebelumnya menandatangani kontrak pembelian 42 unit Rafale dari Prancis dalam kesepakatan bertahap yang disebut menjadi salah satu transaksi pertahanan terbesar dalam sejarah modernisasi TNI AU.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini