News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Iran dan AS Sama-Sama Kukuh soal Selat Hormuz, Uranium, Pencabutan Sanksi

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • AS dan Iran masih berselisih soal Selat Hormuz, uranium yang diperkaya, dan pencabutan sanksi.
  • Donald Trump menegaskan Selat Hormuz harus tetap menjadi perairan internasional dan menolak pelonggaran sanksi bagi Iran.
  • Iran menolak mundur dari tuntutannya dan menyatakan tetap mempertahankan hak pengayaan uranium serta kendali atas Selat Hormuz.


TRIBUNNEWS.COM - Iran dan Amerika Serikat tampaknya masih jauh dari kata sepakat setelah kedua negara tetap bersikukuh pada poin-poin kunci dalam proposal perdamaian.

Mengutip Iran International, Presiden AS Donald Trump mengatakan Selat Hormuz akan terbuka untuk semua negara dalam kesepakatan apa pun dengan Iran dan tidak akan dikendalikan oleh negara mana pun.

Ia juga menolak kemungkinan pelonggaran sanksi atau pencairan aset Iran yang dibekukan.

Berbicara dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Rabu (27/5/2026), Trump mengatakan Selat Hormuz merupakan perairan internasional dan Amerika Serikat akan memantau jalur air tersebut.

“Tidak, selat itu akan terbuka untuk semua orang. Itu perairan internasional. Tidak ada yang akan mengendalikannya,” kata Trump.

“Kita akan mengawasinya.”

Trump mengatakan Iran ingin mengendalikan selat tersebut, tetapi hal itu tidak akan diizinkan.

“Mereka ingin mengendalikannya. Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu perairan internasional,” katanya.

Ditanya mengenai peran Oman, Trump mengatakan Oman harus bertindak seperti negara lain, sembari memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menggunakan kekuatan jika diperlukan.

“Oman akan berperilaku seperti negara lain, dan kita harus menghancurkan mereka. Mereka mengerti itu. Mereka akan baik-baik saja,” kata Trump.

Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki pasokan energi yang cukup dan menggambarkan krisis Hormuz sebagai masalah global karena banyak negara lain lebih bergantung pada aliran energi melalui wilayah tersebut.

Ia mengatakan harga minyak akan turun dan berpendapat bahwa tanpa serangan AS, Iran akan segera memperoleh senjata nuklir.

Baca juga: Khotbah Idul Adha di Tehran, Ayatollah Khatami Tegaskan Iran Tak Akan Tunduk pada AS, Sentil Trump

“Jika kita tidak menyerang mereka dengan pesawat pengebom B-2, Iran akan memiliki senjata nuklir dalam waktu dua minggu sejak hari itu karena mereka sudah siap,” kata Trump.

Ia juga membela keputusannya sebelumnya untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir era Obama dengan mengatakan Iran akan memperoleh dan menggunakan senjata nuklir jika hal itu tidak dilakukan.

“Itu akan menghancurkan Israel. Itu akan menghancurkan seluruh Timur Tengah. Dan itu tidak akan pernah terjadi,” kata Trump.

Secara terpisah, Trump menolak pencabutan sanksi atau pencairan dana untuk Iran sebagai bagian dari pembicaraan saat ini.

“Tidak, kita tidak sedang membicarakan pelonggaran sanksi atau pemberian uang,” katanya.

“Tidak ada sanksi, tidak ada uang, tidak ada apa pun.”

Trump mengatakan AS mengendalikan dana yang menurut Iran merupakan hak mereka dan akan tetap mengendalikannya untuk saat ini.

“Ketika mereka berperilaku dengan benar dan ketika mereka melakukan apa yang benar, kita akan membiarkan mereka mendapatkan uang mereka. Tetapi saat ini, kita tidak melakukan itu, dan satu hal tidak bergantung pada hal lain,” katanya.

Trump mengatakan Iran tampaknya mulai memberikan sebagian dari tuntutan AS, tetapi ia kembali memperingatkan bahwa kegagalan memenuhi tuntutan tersebut dapat memicu aksi militer baru.

“Saya pikir mereka mulai memberi kita hal-hal yang harus mereka berikan kepada kita, dan jika mereka melakukannya, itu bagus, dan jika mereka tidak mau, maka orang di sebelah kiri saya akan menghabisi mereka,” kata Trump, tampaknya merujuk pada Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Ketika ditanya mengenai tenggat waktu, Trump mengatakan perkembangan bisa bergerak cepat, tetapi menolak tekanan untuk menetapkan batas waktu.

Tanggapan Iran

Sementara itu, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran sekaligus anggota parlemen, Ebrahim Azizi, mengatakan pada Kamis (28/5/2026) bahwa Iran tidak akan mundur dari “garis merahnya”, termasuk hak pengayaan uranium, kepemilikan uranium yang diperkaya, kendali atas Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi.

“Iran tidak akan terdesak oleh retorika Trump dari garis merahnya: hak untuk memperkaya uranium, kepemilikan uranium yang diperkaya, otoritas atas Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi.”

“Jelas bahwa Trump, yang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini, bergantian antara mengeluarkan ancaman dan menyerukan kesepakatan,” tulisnya di X.

Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri Kani, juga mengatakan Iran tidak siap bernegosiasi mengenai persediaan uranium yang diperkaya.

Ia menambahkan bahwa prosedur pelayaran di Selat Hormuz akan berubah setelah konflik regional baru-baru ini.

“Sampai kita mencapai kesepakatan tentang semua masalah, kami percaya bahwa kita belum mencapai kesepakatan apa pun,” media resmi mengutip pernyataannya.

Ali Bagheri menambahkan bahwa kontak tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat terus berlanjut dan persediaan uranium yang diperkaya Iran tidak termasuk dalam agenda negosiasi.

“Iran dan Oman, sebagai negara pesisir bertetangga, bersama-sama menegosiasikan mekanisme baru untuk jalur pelayaran kapal melalui Selat Hormuz,” kata Bagheri.

“Kondisi dan prosedur untuk melewati Selat Hormuz akan sepenuhnya berbeda dibandingkan sebelum dimulainya konflik yang melibatkan Iran.”

Perjanjian Abraham Menambah Runyam Perundingan Perdamaian

Trump juga kembali menegaskan tuntutannya agar lebih banyak negara Arab bergabung dengan Kesepakatan Abraham, yakni perjanjian normalisasi hubungan antara sejumlah negara Arab dan Israel selama masa jabatan pertamanya.

Dilansir The Guardian, Trump mengatakan akan menjadi momen bersejarah jika negara-negara yang belum menandatangani perjanjian tersebut ikut bergabung.

“Mereka berutang budi kepada kita,” ujarnya.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengatakan dirinya mendorong hal tersebut dalam pembicaraan dengan semua pihak, sebelum Trump menambahkan:

“Saya tidak yakin kita harus membuat kesepakatan itu, jika mereka tidak menandatanganinya.”

Namun, pada saat yang sama Trump menolak mengonfirmasi bahwa kesepakatan Iran akan bergantung pada bergabungnya negara-negara lain dalam perjanjian tersebut.

Joey Hood, mantan duta besar AS untuk Tunisia, mengatakan upaya Trump mengaitkan kesepakatan AS-Iran dengan dorongan agar lebih banyak negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel di bawah Perjanjian Abraham merupakan bagian dari upayanya untuk dilihat sebagai tokoh politik yang “bersejarah”.

“Donald Trump benar-benar bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Dia bernegosiasi dengan warisannya,” kata Hood kepada Al Jazeera.

“Lebih dari segalanya, dia ingin dilihat sebagai presiden yang bersejarah, yang mengubah segalanya, yang mampu mengubah hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya selama beberapa dekade.”

“Menyingkirkan Iran yang memiliki senjata nuklir? Tentu. Tetapi jika kita bisa melakukannya, mengapa tidak menormalisasi hubungan diplomatik di seluruh dunia Arab dengan Israel?” katanya, merujuk pada pemikiran presiden AS tersebut.

Kata Pakar soal Kelanjutan Gencatan Senjata

Doug Bandow, peneliti senior di Cato Institute, mengatakan pertarungan utama antara AS dan Iran kini berada di bidang ekonomi dengan blokade ganda yang diberlakukan di Selat Hormuz.

“Trump berada dalam posisi yang sangat sulit. Dia secara tidak sengaja telah memberi Iran senjata yang sangat ampuh dengan menutup Selat Hormuz dan dia tidak mau mengambil risiko kapal-kapal AS untuk mencoba membukanya,” kata Bandow kepada Al Jazeera.

“Akan sulit baginya untuk tidak membuat kesepakatan yang memuaskan Iran,” tambahnya.

Bandow juga meragukan klaim Trump bahwa dirinya tidak peduli terhadap dampak perang pada pemilihan paruh waktu mendatang.

“Dia mungkin mengatakan itu, tetapi tidak ada yang benar-benar mempercayainya. Hal terakhir yang dia inginkan adalah kekalahan Partai Republik pada bulan November,” katanya.

“Semua orang ingin ini berakhir. Saya tidak ragu bahwa dia mendengar hal itu dan memang peduli,” kata Bandow kepada Al Jazeera.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini