News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Duka Lara Hidup Nv, Ibu "ODHA" dari Indramayu

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Gusti Sawabi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Wanita Indian berjalan melewati patung panjang 100 kaki pasir pita merah AIDS sebagai bagian dari kampanye kesadaran pada malam Hari AIDS Dunia di Chandrabhaga laut pantai di Konark. Jum at (30/11/2012) Lembaga UNAIDS mengatakan sekitar 2,5 juta orang India yang hidup dengan HIV, banyak dari mereka dikucilkan oleh komunitas mereka. (AFP PHOTO/STR/Asit Kumar)

MENGENAKAN kerudung hitam, Nv (33), seorang ibu rumah tangga terisak menceritakan kehidupan pribadinya. Bagaimana dia yang berstatus Orang dengan HIV/AIDS atau ODHA merasa terdiskriminasi dan susah mencari pekerjaan untuk kehidupannya.

"Masih ada diskrimanasi terhadap kami. Kami susah mencari pekerjaan sementara suami saya tidak sempurna," tutur Nv kepada wartawan kantor Bupati Indramayu, Jawa Barat, Senin (20/5/2013).

Untuk kehidupan setiap harinya, ia hanya mengandalkan buruh mencuci dengan penghasilan Rp 20 ribu per hari sementara sang suami kondisinya tidak sempurna dan tidak bisa bekerja.

"Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup, hidup bisa lebih layak. Apalagi saya punya anak kembar yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit," katanya.

Yang membuatnya sedih, menjadi ODHA adalah bukan karena perilaku menyimpang yang dilakukannya. "Saya seorang ibu rumah tangga biasa, bukan PSK, bukan pemakai narkoba," " tuturnya.

Nv menceritakan dirinya menjadi penyandang ODHA sepulang menjadi tenaga kerja wanita ( TKW) untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ekonomi keluarga.

"Saya pulang 2009 ingin istirahat dan bertemu keluarga. Tapi mengejutkan suami saya kena tuberkolosis (TB) dan selama 3 bulan tidak sembuh," katanya.

Sementara itu, saat diperiksa ternyata, diketahui terkena HIV positif dalam stadium 4. "ODHA itu kebutuhan hidup tinggi. Saya hanya ingin punya penghasilan tinggi untuk kehidupan kami," katanya.
Tidak hanya itu, dalam pelayanan kesehatan, mereka kurang mendapatkan pelayanan yang optimal.

Nv adalah satu di antara 120 ODHA yang berstatus ibu rumah tangga di Kabupaten Indramayu. Di Kabupaten yang berada di kawasan Pantai Utara Jawa ini, Ibu Rumah Tangga menduduki peringkat ke-3 setelah Pekerja Seks (460 orang) dan wiraswasta (141 orang) sepanjang tahun 1993-2012.

Bupati Indramayu Anna Sophanah mengakui masih ditemukan perlakuan diskirimasi terhadap ODHA. Ini terjadi karena sampai i saat ini masyarakat belum paham perlu akan disosialisasikank,.

Terkait keinginan mereka untuk mendapatkan kehidupan ekonomi yang layak, Anna menyampaikan akan memenuhi apa yang menjadi keinginan Nv yang mewakili keinginan seluruh ODHA.

Bagaimana dengan anggaran HIV/AIDS? Berdasarkan data yang ada dana KPA (2012) hanya 50 juta, sementara tahun 2013 naik menjadi Rp 336 juta. Yang bersumber dari Dinkes sebesar Rp 10 juta tahun 2012, lalu meningkat menjadi Rp 206 juta tahun 2013," katanya. (Eko Sutriyanto)

Screening Tenaga Kerja Indonesia

BERBAGAI kiat ataupun solusi mengatasi masalah terjangkitnya HIV/AIDS sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah daerah setempat. Salah satunya adalah melakukan screening kepada Tenaga Kerja Wanita (TKW) ataupun Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang hendak keluar negeri.

"Sudah ada 12 ribu TKW orang diperiksa. Saat skrenning justru ditemukan mau jadi TKW," tutur Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dedi Rohendi.

Sayangnya setelah bekerja di luar negeri dan pulang ke tanah air, mereka tidak menjalani skrenning lagi karena berkaitan dengan PJTKI. "Tapi kalau mereka berangkat lagi, biasanya baru ketahuan," katanya.

Dinas Kesehatan juga melibatkan, pengiat LSM, KPA dalam mencari dan menumbuhkan kesadaran bahayanya HIV/AIDS ini. "HIV/AIDS adalah fenomena gunung es. Satu ditemukan berarti sebenarnyua ada 100 orang lainnya," katanya.

Bagaimana dengan sistem jemput bola, dengan dokter memeriksa orang di daearah rawan HIV/AIDS? "Indramayu mempunyai Perda Anti prostitusi. Artinya daerah bebas prostitusi," katanya.

Sebelum adanya Perda ini, dokter memang datang ke lokalisasi tapi sekarag sudah tidak ada lagi karena asumsinya tidak ada lagi daerah rawan seperti kawasan prostitusi.

"Dengan perda antiprostitusi, semua lokasisasi ditutup. Jadi pekerja seks 'blarak' atau pergi kemana-mana. Kita tidak bisa memonitor lagi," katanya. (Eko Sutriyanto)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini