News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Penanganan Covid

Terapi Plasma Konvalesen untuk Pengobatan Covid-19, Sejauh Mana Khasiatnya? Dokter Bilang Begini

Pendonor menjalani donor plasma konvalesen di Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (16/2/2021). Kebutuhan plasma konvalesen meningkat hingga 200 kantong per hari, oleh karenanya diharapkan penyintas Covid-19 bersedia mendonorkan plasmanya untuk membantu penanganan pasien Covid-19 yang masih dirawat. Surya/Ahmad Zaimul Haq

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Terapi Plasma Konvalesen belakangan ramai menjadi bahan perbincangan.

Jenis pengobatan Covid-19 ini menjadi perhatian setelah Gubenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunggah video tentang sahabatnya, dr Khairul Hadi. 

Dikutip dari Kompas.com, lewat unggahan tersebut, dr Khairul Hadi mengungkapkan jika keadaannya terus membaik setelah melakukan terapi plasma konvalesen.

Baca juga: Ratusan Personel dan PNS Polri di Polda Kalsel Mengikuti Donor Darah Plasma Konvalesen 

Selain itu, di dalam video Hadi berharap akan semakin banyak penyintas Covid-19 mendonorkan plasma milik mereka. 

Pertanyaanya, apa itu terapi plasma konvalesen?

dr Navy G.H.M Lolong Wulung, SpAn- KIC mengungkapkan pengobatan ini melakukan transfer antibodi penyintas Covid-19 yang baru sembuh, kepada orang yang masih menghadapi infeksi Covid-19.

Petugas menunjukkan plasma konvalensen dari pendonor di Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (16/2/2021). Kebutuhan plasma konvalesen meningkat hingga 200 kantong per hari, oleh karenanya diharapkan penyintas Covid-19 bersedia mendonorkan plasmanya untuk membantu penanganan pasien Covid-19 yang masih dirawat. Surya/Ahmad Zaimul Haq (Surya/Ahmad Zaimul Haq)

Di sini dr Navy menekankan jika plasma atau antibodi yang diambil harus dari orang yang baru sembuh.

Karena diperkirakan, kadar antibodinya jauh lebih tinggi saat seseorang baru pulih dari sakit. Sehingga tingkat kesembuhannya juga lebih tinggi. 

Sejauh ini, dr Navy mengatakan efektivitas dari terapi ini masih terus dalam penelitian, mengingat jika Covid-19 merupakan jenis virus baru. 

Halaman
12

Berita Populer