News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Nyeri Haid yang Menyiksa, Bisa Jadi Tanda Alami Endometriosis

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PENUNDA HAID - Ilustrasi nyeri haid. Obat hormon kerapkali disarankan bagi calon jemaah haji perempuan untuk menunda haid . Amankah? 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nyeri haid yang terasa sangat hebat hingga mengganggu aktivitas harian perlu mendapat perhatian serius. 

Salah satu kondisi medis yang kerap menjadi penyebabnya adalah endometriosis, penyakit kronis pada wanita usia subur yang berkaitan erat dengan siklus menstruasi dan hormon estrogen.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Eka Hospital PIK, dr. Hardi Susanto, Sp.OG menjelaskan bahwa endometriosis merupakan pertumbuhan abnormal jaringan endometrium di luar rahim. 

Jaringan tersebut dapat tumbuh di ovarium, usus, kandung kemih, rongga perut, bahkan pada kasus tertentu menjalar hingga umbilikus, paru-paru, dan otak.

"Endometriosis merupakan pertumbuhan abnormal dari selaput dalam rahim (Endometrium), yang bisa dijumpai tumbuh di luar rahim, di organ-organ seperti ovarium, usus, kandung kemih, rongga perut, dan lain-lain,” ujar dr. Hardi Susanto, Sp.OG pada media briefing di Jakarta, Selasa (16/12/2025). 

Nyeri haid hebat atau dismenore menjadi gejala paling sering dirasakan penderita. 

Baca juga: 80 Persen Perempuan Alami Nyeri Haid, Tak Harus Tergantung Obat, Ini Cara Efektif Menguranginya

Nyeri umumnya berpusat di daerah panggul dan dapat disertai keluhan lain seperti nyeri saat buang air besar, buang air kecil, maupun saat berhubungan intim. 

Selain itu, perdarahan haid yang banyak, siklus haid yang pendek, perut kembung, mual, muntah, dan rasa lelah juga kerap muncul.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa sakit fisik, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup. 

Aktivitas sehari-hari, produktivitas kerja, hingga kehidupan sosial penderita dapat terganggu akibat nyeri yang berulang setiap siklus menstruasi.

Endometriosis bersifat bergantung pada hormon estrogen. 

Karena itu, keluhan nyeri dapat hilang timbul dan cenderung menurun ketika penderita memasuki masa menopause. 

Namun selama usia reproduktif, penyakit ini memerlukan pemantauan dan penanganan medis yang tepat.

Diagnosis dilakukan melalui wawancara medis terkait gejala dan riwayat haid, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti USG transvaginal, MRI, atau laparoskopi diagnostik bila diperlukan. 

Penanganan nyeri dapat dilakukan dengan terapi obat pereda nyeri, terapi hormonal, maupun tindakan bedah sesuai kondisi pasien.

Deteksi dini menjadi langkah penting agar nyeri haid akibat endometriosis tidak semakin berat dan menimbulkan komplikasi jangka panjang.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

 

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini