Ringkasan Berita:
- Yang paling sering luput disadari dapat mengganggu kesehatan gigi dan gusi adalah konsumsi makanan dan minuman bersifat asam
- Makanan asam dapat memicu erosi pada permukaan gigi
- Selain asam, gula juga disebut sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap masalah gigi dan gusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut kerap identik dengan kebiasaan menyikat gigi secara rutin.
Namun di balik itu, jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari memiliki peran besar dalam menentukan kondisi gigi dan gusi.
Hal ini disampaikan oleh Ahli Penyakit Gusi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D.,
Ia menekankan bahwa gigi dan mulut merupakan bagian tubuh yang pertama kali bersentuhan langsung dengan makanan.
“Makanan, apakah ada pengaruhnya terhadap kesehatan gigi dan mulut? Tentu saja, karena kita makan lewat mulut. Jadi pasti yang pertama kali terpapar makanan adalah gigi dan mulut,” jelas dr Amaliya pada diskusi media Indonesia Hygiene Forum 2025: Waspadai Beban Ekonomi dan Dampak Kesehatan dari Penyakit Gusi, Rabu (17/12/2025).
Paparan langsung tersebut membuat jenis makanan menjadi faktor penting dalam proses terjadinya kerusakan gigi.
Salah satu yang paling sering luput disadari adalah konsumsi makanan dan minuman bersifat asam.
Menurutnya, makanan asam dapat memicu erosi pada permukaan gigi.
Baca juga: Dua Menit yang Sering Terlewat, Tapi Menentukan Kesehatan Gigi dan Gusi
Jika dikonsumsi berulang dan dalam jangka panjang, lapisan terluar gigi dapat terkikis secara perlahan.
“Makanan yang asam itu juga dapat menyebabkan permukaan gigi yang terkikis. Kalau sering makan makanan asam, permukaan gigi terkena asam dan mengalami erosi,” ungkapnya.
Selain asam, gula juga disebut sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap masalah gigi dan gusi.
Gula menjadi sumber nutrisi bagi bakteri di rongga mulut. Ketika bakteri memetabolisme gula, asam akan dihasilkan dan memicu terjadinya lubang gigi.
Kondisi ini semakin relevan dengan pola konsumsi modern yang tinggi gula, garam, dan lemak.
Pola makan tersebut dinilai meningkatkan risiko peradangan pada gusi serta mempercepat kerusakan gigi jika tidak diimbangi dengan kebiasaan perawatan mulut yang baik.
Menariknya, ia menyoroti konsep pola makan alami sebagai pembanding.
Dalam sebuah pengamatan, sekelompok orang yang hanya mengonsumsi makanan alami tanpa gula tambahan selama satu bulan menunjukkan hasil yang tidak terduga.
“Setelah satu bulan mereka tidak makan makanan modern, hanya makanan alami, peradangan gusinya tidak ada, padahal tidak menyikat gigi selama sebulan,” katanya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa makanan alami yang minim gula tambahan dapat membantu menjaga keseimbangan lingkungan di dalam mulut.
Berkurangnya asupan gula membuat bakteri tidak berkembang berlebihan, sehingga risiko peradangan gusi pun menurun.
Meski demikian, contoh tersebut ditegaskan bukan untuk ditiru secara harfiah, melainkan sebagai gambaran kuat bahwa makanan memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan gigi dan gusi.
Ia juga menyinggung pentingnya asupan nutrisi tertentu dalam mendukung kesehatan jaringan mulut.
Vitamin seperti vitamin C dan vitamin E disebut berperan dalam menjaga kesehatan gusi, sementara asupan makanan alami membantu mengurangi proses peradangan.
Dengan demikian, menjaga kesehatan gigi dan mulut tidak hanya soal rutinitas menyikat gigi, tetapi juga dimulai dari pilihan makanan sehari-hari.
Mengurangi konsumsi gula dan makanan asam, serta memperbanyak makanan alami, menjadi bagian penting dalam menjaga gigi dan gusi tetap sehat.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan