TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nestle melakukan penarikan (recall) terhadap sejumlah produk susu formula bayi yang beredar di 49 negara setelah ditemukan potensi kontaminasi toksin berbahaya bernama cereulide. Produk yang terdampak mencakup merek-merek ternama seperti SMA, BEBA, dan NAN, yang selama ini dikenal luas dan digunakan oleh jutaan keluarga di berbagai belahan dunia.
Baca juga: Klarifikasi Nestle Soal Susu Formula Impor dari Swiss yang Ditarik BPOM
Meski hingga saat ini belum ada laporan kasus klinis akibat konsumsi produk tersebut, pakar kesehatan menilai langkah recall global ini mencerminkan sistem keamanan pangan yang bekerja sebagaimana mestinya, terutama untuk produk yang dikonsumsi bayi.
Dokter sekaligus epidemiolog, Dicky Budiman, menilai penarikan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian yang tepat dan sejalan dengan praktik terbaik keamanan pangan internasional.
“Penarikan global produk susu formula bayi oleh Nestle ini adalah langkah kehati-hatian yang tepat dan sejalan dengan praktik terbaik keamanan pangan internasional,” ujar Dicky Budiman saat dihubungi Tribunnews, Kamis (15/1/2025).
Dicky menjelaskan, potensi risiko muncul dari kemungkinan paparan toksin cereulide, yakni toksin emetik yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus. Secara epidemiologis dan toksikologis, toksin ini memiliki karakteristik yang membuatnya perlu diwaspadai secara serius.
Salah satu sifat paling berbahaya dari cereulide adalah tahan panas, sehingga tidak rusak melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi standar yang umum digunakan dalam industri pangan.
“Karena toksin emetik cereulide ini tahan panas, dia tidak rusak oleh proses pasteurisasi atau sterilisasi standar,” jelas Dicky.
Selain itu, cereulide bersifat mitokondriotoksik, yakni mampu merusak fungsi mitokondria dalam sel. Pada dosis tertentu, toksin ini dapat memicu muntah hebat, gangguan metabolik, hingga risiko gagal hati akut, terutama pada bayi dan anak kecil.
Menurut Dicky, penilaian risiko pada produk bayi tidak bisa disamakan dengan pangan umum. Bayi memiliki sistem imun serta fungsi hati dan ginjal yang belum matang, sehingga kemampuan tubuh untuk menetralisir racun sangat terbatas.
Baca juga: Diduga Terkontaminasi Racun, Nestle Tarik Susu Formula Bayi di Sejumlah Negara, Produk di RI Aman
Di sisi lain, susu formula kerap dikonsumsi secara rutin dan bahkan menjadi satu-satunya sumber nutrisi bayi. Hal ini membuat potensi paparan, jika terjadi, bersifat kumulatif dan berkelanjutan.
“Artinya tindakan BPOM menghentikan distribusi dan impor sementara ini adalah tindakan yang proporsional, berbasis risiko, dan tepat secara epidemiologis,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa untuk produk pangan bayi, toleransi risiko harus sangat rendah, bahkan ketika risikonya masih bersifat teoritis dan belum menimbulkan dampak klinis.
Dicky menegaskan, ada dasar ilmiah dan etis mengapa regulasi produk bayi harus jauh lebih ketat dibanding pangan pada umumnya. Selain kerentanan biologis bayi, ketergantungan penuh pada satu sumber pangan membuat kesalahan mutu berpotensi berdampak luas.
Baca tanpa iklan