TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, pentingnya pekerja memastikan istirahat yang cukup di sela pekerjaan yang menumpuk.
Hal ini merespons data Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan ada sekitar 40,3 persen pekerja di Indonesia yang dihadapkan pada keadaan bekerja lebih dari 10 jam sehari atau overtime.
Baca juga: Cara Hitung Upah Lembur Kerja di Hari Libur Nasional, Didasarkan pada Upah Bulanan
Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) juga menunjukkan bahwa sebanyak 25,47 persen penduduk bisa bekerja lebih dari 49 jam per minggu.
Menkes Budi menyebut, idealnya tidur yang cukup berkisar 7-8 jam setiap hari.
"Harus tidur yang cukup. Kalau kerja tidak masalah yang penting tidur xukup, kalau bisa 7-8 jam," kata dia saat ditemui di kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Rabu (28/1).
Ia mengatakan, overtime bisa mengakibatkan beban mental.
Baca juga: Ada Virus Nipah di India, Menkes: Indonesia Siap Antisipasi
Karena itu, masyarakat diharapkan bisa mengikuti cek kesehatan gratis (CKG) sebagai upaya mendeteksi masalah kesehatan mental atau penyakit lainnya.
"Bekerja tidak masalah asal tidur jangan kurang. Saat ada masalah mental sebaiknya segera lakukan cek kesehatan gratis," pesan dia.
Para pekerja juga diharapkan untuk menerapkan pola hidup sehat diantaranya makan bergizi seimbang dan olahraga yang cukup.
Masih dari data BPS, lebih dari seperempat pekerja terlibat dalam multiple job-holding dengan rata-rata tambahan siginifikan di luar pekerjaan utama.
Sementara data BPS per Februari 2025 menunjukkan bahwa sekitar 33,8 persen dari tenaga kerja bekerja kurang dari 35/minggu.
Artinya jam kerja mereka tidak memenuhi standar pekerjaan penuh.
Hanya ada 66 persen pekerja yang bekerja penuh waktu atau ≥35 jam/minggu.
Sedangkan sisanya sekitar 49,29 juta orang bekerja tidak penuh waktu termasuk pekerja yang jam kerjanya sangat rendah.
Dikutip dari world health organisation (WHO), lingkungan kerja yang buruk termasuk diskriminasi dan ketidaksetaraan, beban kerja berlebihan, kontrol pekerjaan yang rendah, dan ketidakpastian pekerjaan dapat membahayakan kesehatan mental.
Secara global, diperkirakan 12 miliar “hari kerja” hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan, dengan biaya US$ 1 triliun per tahun akibat penurunan produktivitas.
Baca tanpa iklan