TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setiap tahun, ratusan ribu orang di Indonesia harus menghadapi kenyataan pahit karena diagnosis kanker.
Data internasional mencatat lebih dari 408.000 kasus baru dan 242.000 kematian akibat kanker pada 2022.
Jenis yang paling banyak ditemukan adalah kanker payudara dan paru. Lebih dari 70 persen pasien baru mengetahui penyakitnya ketika sudah berada di stadium lanjut, saat pengobatan menjadi lebih sulit dan mahal.
Ketimpangan Akses Layanan
Di balik angka tersebut, ada cerita tentang kesenjangan layanan kesehatan. Indonesia hanya memiliki kurang dari 80 fasilitas radioterapi untuk melayani lebih dari 275 juta penduduk.
Baca juga: Tak Hanya Perokok: Ancaman Kanker Paru-Paru Kini Mengintai Semua Orang
Jumlah dokter spesialis onkologi radiasi pun masih sangat terbatas, sekitar 135 orang, dengan layanan yang sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Artinya, banyak pasien di luar Jawa harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan terapi.
Upaya Menghadirkan Harapan
Melihat kondisi ini, dilakukan kerja sama dengan salah satu pusat kanker terkemuka dunia, The University of Texas MD Anderson Cancer Center.
Selama satu tahun, tim internasional ini akan berbagi pengalaman dan panduan strategis untuk memperkuat layanan kanker di Indonesia.
Fokusnya bukan hanya pada pengobatan, tetapi juga deteksi dini, koordinasi terapi, hingga dukungan bagi pasien setelah selesai menjalani perawatan.
Kerjasama ini diawali di MRCCC Siloam Semanggi.
Kolaborasi ini memperkuat model layanan kanker terintegrasi melalui pengembangan pendekatan Multidisciplinary Team (MDT), yang merupakan salah satu pilar utama dalam praktik onkologi modern.
“Kami menyadari bahwa layanan kanker di Indonesia masih memiliki banyak aspek yang dapat ditingkatkan, dan kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi tersebut. Kami menantikan pengalaman serta keahlian klinis mendalam dari UT MD Anderson dalam mendukung misi kami untuk memperluas akses, meningkatkan kualitas layanan, dan memberikan harapan nyata bagi pasien yang membutuhkan," kata Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS.
Pendekatan Tim Multidisiplin
Salah satu langkah penting adalah penerapan Multidisciplinary Team (MDT). Dalam pendekatan ini, dokter dari berbagai bidang duduk bersama untuk membahas kondisi pasien dan menentukan rencana perawatan yang paling tepat.
Dengan cara ini, keputusan medis tidak lagi terpisah-pisah, melainkan terintegrasi dan lebih personal sesuai kebutuhan pasien.
Baca tanpa iklan