Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- WHO keluarkan pernyataan terkait wabah hantavirus.
- Dalam surat terbuka yang ditujukan khusus kepada warga Tenerife, Spanyol, Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengakui kasus ini seolah membuka trauma lama akan wabah covid-19 yang yang belum sepenuhnya hilang.
- WHO menegaskan bahwa situasi virus Hanta saat ini berbeda dengan pandemi COVID-19.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) angkat bicara secara langsung kepada masyarakat terkait kekhawatiran munculnya wabah baru setelah kasus virus Hanta ditemukan di kapal pesiar MV Hondius.
Dalam surat terbuka yang ditujukan khusus kepada warga Tenerife, Spanyol, Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengakui banyak masyarakat mulai takut karena teringat pandemi COVID-19 yang pernah melanda dunia.
Baca juga: WHO Ungkap Kronologis Virus Hanta Menyebar di Kapal Pesiar MV Hondius, Asal Virus Diduga Dari Sini
Menurut Tedros, kemunculan kapal dengan kasus virus di tengah masyarakat memunculkan kembali trauma lama yang belum sepenuhnya hilang.
“Saya tahu Anda khawatir. Saya tahu bahwa ketika Anda mendengar kata "wabah" dan melihat sebuah kapal berlayar menuju pantai Anda, kenangan-kenangan yang belum sepenuhnya kita lupakan akan muncul kembali. Rasa sakit tahun 2020 masih nyata, dan saya tidak mengabaikannya sedikit pun,” tulis Tedros dilansir dari website resmi WHO, Selasa (12/5/2026).
Pernyataan itu menjadi perhatian karena WHO memilih pendekatan emosional dan humanis, bukan sekadar penjelasan medis teknis seperti biasanya.
WHO Tegaskan Virus Hanta Bukan Situasi seperti COVID-19
Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat, WHO menegaskan bahwa situasi virus Hanta saat ini berbeda dengan pandemi COVID-19.
Tedros secara langsung meminta masyarakat tidak menyamakan kasus hantavirus di kapal pesiar dengan awal penyebaran virus corona beberapa tahun lalu.
“Namun saya ingin Anda mendengar saya dengan jelas, ini bukan COVID yang lain. Risiko kesehatan masyarakat saat ini dari hantavirus tetap rendah,” tegas Tedros.
WHO menyebut virus yang ditemukan di kapal MV Hondius merupakan strain hantavirus Andes.
Meski dianggap serius karena telah menyebabkan tiga orang meninggal dunia, WHO memastikan risiko penyebaran kepada masyarakat umum tetap rendah.
“Virus yang ada di atas kapal MV Hondius adalah strain hantavirus Andes. Ini serius. Tiga orang telah meninggal dunia, dan kami turut berduka cita kepada keluarga mereka. Risiko bagi Anda, yang menjalani kehidupan sehari-hari di Tenerife, rendah,” lanjut Tedros.
Penumpang Kapal Dipastikan Tidak Akan Bertemu Warga
WHO juga menjelaskan bahwa seluruh proses penanganan kapal dilakukan secara ketat agar tidak menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Menurut Tedros, saat ini tidak ada penumpang yang menunjukkan gejala penyakit di atas kapal.
WHO bahkan telah menempatkan seorang ahli di kapal tersebut dan memastikan persediaan medis tersedia.
Sementara itu, pemerintah Spanyol telah menyiapkan skenario pemindahan penumpang melalui pelabuhan industri Granadilla yang jauh dari permukiman warga.
Para penumpang nantinya dipindahkan menggunakan kendaraan tertutup melalui jalur yang sepenuhnya terisolasi sebelum dipulangkan langsung ke negara asal masing-masing.
“Anda tidak akan bertemu mereka. Keluarga Anda tidak akan bertemu mereka,” tulis Tedros.
WHO Sebut Solidaritas Jadi Hal Terpenting
Dalam suratnya, Tedros juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Spanyol dan masyarakat Tenerife karena bersedia menerima kapal tersebut.
Ia menyebut keputusan itu sebagai bentuk solidaritas dan kewajiban moral di tengah situasi kesehatan global.
Menurut WHO, Tenerife dipilih karena memiliki kapasitas medis dan infrastruktur yang memadai untuk menangani situasi tersebut.
“Tenerife dipilih karena memiliki kapasitas medis, infrastruktur, dan kemanusiaan untuk membantu mereka mencapai tempat yang aman,” tulisnya.
Tedros bahkan mengaku akan datang langsung ke Tenerife untuk melihat proses penanganan tersebut.
Ia ingin menyampaikan penghormatan secara langsung kepada tenaga kesehatan, petugas pelabuhan dan masyarakat yang dinilai menghadapi situasi ini dengan tenang.
Di akhir suratnya, Tedros kembali mengingatkan bahwa wabah penyakit tidak mengenal batas negara maupun politik.
“Seperti yang telah saya katakan berkali-kali: virus tidak peduli dengan politik, dan mereka tidak menghormati perbatasan. Kekebalan terbaik yang kita miliki adalah solidaritas,” tutup Tedros.
Baca tanpa iklan