Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Malaria knowlesi atau monkey malaria” sebenarnya bukan penyakit baru.
- Namun kasusnya mulai semakin sering ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia akhir-akhir ini.
- Mengapa sekarang hebohkan publik? Ini penjelasan dokter.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Malaria knowlesi atau yang sering disebut masyarakat sebagai “monkey malaria” sebenarnya bukan penyakit baru.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, kasusnya mulai semakin sering ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Baca juga: 9 Gejala Seseorang Menderita Penyakit Monkey Malaria, Waspada Karena Sering Dikira Flu Biasa
Malaria Knowlesi atau yang sering disebut monkey malaria adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh Plasmodium knowlesi.
Parasit ini merupakan jenis malaria zoonosis, artinya ditularkan secara alami dari hewanyaitu monyet ke manusia.
Pertanyaannya, kenapa penyakit ini baru ramai sekarang?
Dipicu Alih Fungsi Lahan
Dokter spesialis anak konsultan infeksi penyakit tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Inke Nadia Diniyanti Lubis mengatakan peningkatan malaria knowlesi sangat berkaitan dengan perubahan lingkungan yang terjadi besar-besaran dalam dua dekade terakhir.
“Kenapa baru muncul sekarang? Ini juga terkait dengan perubahan lahan dan kenapa konsep One Health tadi itu menjadi sangat penting,” ujarnya.
Menurut Dr Inke, salah satu pemicu terbesar ialah deforestasi dan alih fungsi lahan.
“Dengan terjadinya deforestasi dan juga alih fungsi lahan, contohnya setelah mengalami deforestasi, maka hutan tersebut menjadi perkebunan, bisa kebun sawit, kebun karet, ataupun lahan pertanian atau bahkan kedesaan,” katanya pada media briefing virtual, Kamis (14/5/2026).
Akibat perubahan itu, habitat hewan liar semakin menyempit.
“Maka habitat daripada hewan-hewan liar, termasuk monyet ini, menjadi hilang,” ujarnya.
Namun monyet sebenarnya tidak benar-benar pergi dari wilayah tersebut.
“Kemungkinan besar mereka masih berada di habitat tersebut,” jelasnya.
Di saat yang sama, manusia mulai masuk ke area yang sebelumnya merupakan habitat satwa liar.
“Karena terjadi alih fungsi lahan, manusia masuk ke dalam habitat yang baru, sehingga berbagi ruang yang sama dengan monyet,” kata Dr Inke.
Nyamuk Jadi Penghubung antara Hutan dan Desa
Yang menarik, penularan malaria knowlesi bukan terjadi karena manusia bersentuhan langsung dengan monyet.
Menurut Dr Inke, nyamuk menjadi “jembatan” penularan.
“Nyamuklah yang bersirkulasi atau berdistribusi di daerah hutan dan juga di pinggir hutan,” ujarnya.
Nyamuk Anopheles tertentu menggigit monyet yang terinfeksi, lalu menggigit manusia yang bekerja atau tinggal di sekitar hutan.
“Terkadang monyet ini tidak meninggalkan habitatnya, atau tidak meninggalkan hutan,” jelasnya.
Namun manusia kini semakin sering masuk ke wilayah tersebut untuk bekerja di kebun, pertambangan, ataupun membuka lahan baru.
Paparan terhadap gigitan nyamuk pun menjadi jauh lebih tinggi.
Selain itu, nyamuk penular malaria knowlesi aktif pada waktu tertentu.
“Mereka terutama aktif di waktu dari maghrib ataupun senja hingga fajar di pagi hari,” ujarnya.
Perubahan Iklim Ikut Mengubah Perilaku Monyet dan Nyamuk
Tak hanya deforestasi, perubahan iklim juga disebut berpengaruh besar terhadap meningkatnya kasus malaria knowlesi.
“Perubahan iklim dan ekologi vektor ini juga menyebabkan adanya perubahan habitat dari nyamuk dan juga perilaku monyet,” kata Dr Inke.
Penelitian di Malaysia dan Indonesia menunjukkan perubahan lahan membuat kontak manusia dan monyet semakin tinggi.
“Banyak penelitian di Malaysia dan juga di Indonesia yang sudah menunjukkan dengan perubahan lahan, perubahan iklim, kebiasaan daripada monyet yang selama ini diketahui pun menjadi berubah,” ujarnya.
Baca tanpa iklan