Ringkasan Berita:
- WHO perketat respons Ebola Bundibugyo dengan pengawasan kontak selama 21 hari
- Vaksin dan terapi belum tersedia, sistem kesehatan jadi garis pertahanan utama
- Negara diminta aktifkan isolasi, pelacakan cepat, dan kontrol ketat perbatasan global
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - World Health Organization (WHO) meminta negara-negara memperketat respons terhadap wabah Ebola Bundibugyo dengan pengawasan selama 21 hari terhadap orang-orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien terkonfirmasi atau suspek, yakni mereka yang pernah berinteraksi atau terpapar kemungkinan penularan virus tersebut.
Langkah ini menjadi kunci pengendalian di tengah kondisi belum tersedianya vaksin maupun terapi resmi untuk virus tersebut.
WHO menegaskan pengendalian wabah saat ini sepenuhnya bergantung pada sistem kesehatan masyarakat, termasuk deteksi dini, isolasi kasus, dan pelacakan kontak secara ketat.
“Tidak seperti virus Ebola yang menyebabkan penyakit virus Ebola, saat ini belum ada terapi atau vaksin yang disetujui untuk melawan virus Bundibyo,” tulis WHO dalam rekomendasi sementara terkait wabah di Republik Demokratik Kongo dan Uganda dikutip website resmi, Minggu (24/5/2026).
Respons Darurat dan Pelacakan Kasus
WHO meminta negara terdampak segera mengaktifkan pusat operasi darurat kesehatan serta memperkuat sistem surveilans hingga tingkat daerah.
Setiap kasus yang dicurigai harus segera diperiksa, diisolasi, dan ditindaklanjuti dalam waktu maksimal 24 jam.
Daftar orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien terkonfirmasi atau suspek juga harus diperbarui dan dipantau selama 21 hari untuk mencegah potensi penularan lebih luas.
Penguatan Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan diminta memperketat pengendalian infeksi, termasuk sistem triase pasien, ketersediaan alat pelindung diri (APD), serta pelatihan rutin bagi tenaga kesehatan.
WHO juga meminta setiap dugaan paparan tenaga medis terhadap pasien Ebola segera diselidiki agar langkah korektif bisa dilakukan tanpa penundaan.
Baca juga: Tak Hanya Lansia, Ibu Hamil dan Anak Muda Bisa Kena Gagal Jantung Mendadak
Pencegahan di Ruang Publik dan Perbatasan
WHO menekankan pentingnya kebiasaan dasar seperti cuci tangan di ruang publik, termasuk sekolah, pasar, rumah ibadah, hingga titik perbatasan negara.
Pemeriksaan keluar-masuk negara diperketat di bandara, pelabuhan, dan jalur darat dengan evaluasi riwayat paparan serta pemeriksaan gejala.
Pelancong yang menunjukkan gejala tidak diperbolehkan melakukan perjalanan internasional kecuali untuk evakuasi medis resmi.
Dukungan Sosial dan Perlindungan Hak Pasien
Selain aspek medis, WHO meminta negara menyiapkan dukungan psikososial bagi penyintas dan tenaga kesehatan, termasuk layanan konseling dan upaya pengurangan stigma di masyarakat.
WHO menegaskan seluruh respons harus tetap menghormati martabat manusia, hak asasi, dan kebebasan dasar setiap individu.
Baca juga: WHO: Wabah Ebola di Kongo Diduga Sudah Menyebar Selama Dua Bulan
Baca tanpa iklan