Ringkasan Berita:
- Masyarakat sering salah kaprah membedakan GERD dan IBD atau radang usus kronis karena sebagian gejalanya memang dapat tumpang tindih
- GERD umumnya memicu rasa panas di dada, nyeri ulu hati, sensasi asam di mulut, hingga mual
- Sedangkan IBD lebih sering menimbulkan diare kronis, BAB berdarah, nyeri perut, hingga penurunan berat badan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak masyarakat menganggap semua keluhan sakit perut, nyeri dada, hingga gangguan pencernaan hanyalah maag atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Padahal, gejala yang terlihat mirip itu bisa saja merupakan tanda penyakit lain yang lebih serius seperti radang usus kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD).
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi yang memimpin pusat unggulan pencernaan DIVINE Eka Hospital MT Haryono, Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FINASIM, FACG, FASGE mengatakan masyarakat sering salah kaprah membedakan GERD dan IBD karena sebagian gejalanya memang dapat tumpang tindih.
Baca juga: Radang Usus Kronis Bikin Nyeri Sendi, Ini Penjelasan Ahli
“Banyak keluhan yang sama, tapi disebabkan oleh penyakit yang berbeda-beda,” ujar Prof Murdani dalam media briefing di Tebet Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat tidak boleh langsung menyimpulkan penyakit sendiri hanya berdasarkan gejala.
“Keluhan satu hal yang penting. Tapi lebih penting adalah mengkonfirmasikan ke ahlinya, apakah keluhan ini GERD, apakah ada IBD, apakah ada jantung,” katanya.
GERD dan IBD Sama-sama Kronis, Tapi Berbeda Total
Prof Murdani menjelaskan, GERD dan IBD merupakan dua penyakit yang sangat berbeda meski sama-sama menyerang saluran pencernaan.
GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease merupakan kondisi naiknya asam lambung ke kerongkongan.
Sementara IBD adalah penyakit radang usus kronis yang menyerang saluran cerna.
“IBD ada radang di dalam usus,” jelasnya.
Pada IBD, radang dapat terjadi di usus besar maupun seluruh saluran cerna tergantung jenis penyakitnya.
Karena itu, gejala dan dampaknya juga berbeda.
GERD umumnya memicu rasa panas di dada, nyeri ulu hati, sensasi asam di mulut, hingga mual.
Sedangkan IBD lebih sering menimbulkan diare kronis, BAB berdarah, nyeri perut, hingga penurunan berat badan.
Namun dalam praktik sehari-hari, masyarakat sering bingung membedakannya. Apalagi keduanya sama-sama bisa kambuh dan dipengaruhi makanan maupun stres.
Nyeri Dada Tidak Selalu GERD
Prof Murdani mengingatkan, masyarakat juga perlu berhati-hati menganggap semua nyeri dada sebagai GERD.
Sebab ada kondisi lain yang gejalanya menyerupai sakit lambung, termasuk penyakit jantung.
“Orang banyak kesalahan kaprah. Seolah-olah nyeri dada atau sakit perut karena GERD bisa mematikan,” katanya.
Menurutnya, yang sebenarnya bisa terjadi adalah keluhan akibat penyakit jantung justru disangka GERD.
“Boleh jadi adalah ada keluhan nyeri perut yang muncul karena penyakit jantung tapi ditafsirkan sebagai GERD,” ujarnya.
Karena itu ia mengingatkan pentingnya pemeriksaan medis untuk memastikan sumber keluhan.
GERD Ada yang Luka, Ada yang Tidak
Prof Murdani menjelaskan, GERD sendiri terbagi menjadi dua jenis.
Pertama, GERD erosif atau erosive esophagitis, yakni kondisi ketika ada luka atau peradangan nyata di kerongkongan.
Kedua, non erosive reflux disease (NERD), yakni kondisi ketika pasien mengalami gejala GERD tetapi tidak ditemukan luka secara fisik.
“Yang non erosif reflux disease ini sebenarnya gangguan fungsional,” jelasnya.
Pada tipe ini, keluhan sering dipicu sensitivitas tubuh yang tinggi terhadap stres maupun makanan tertentu.
“Stres kerjaan banyak dan belum tercapai, GERD-nya muncul,” katanya.
Meski sering kambuh, GERD jenis ini umumnya tidak berbahaya.
“Umumnya GERD jenis ini enggak membahayakan, enggak bikin komplikasi apa-apa ke depannya,” ujar Prof Murdani.
Namun pada GERD erosif, ada sebagian kecil kasus yang berisiko berkembang menjadi gangguan lebih serius pada kerongkongan.
Karena itu masyarakat tetap dianjurkan melakukan pemeriksaan bila gejala sering berulang.
Sama-sama Dipengaruhi Makanan
Menurut Prof Murdani, baik GERD maupun IBD sama-sama bisa dipengaruhi pola makan.
Namun pemicunya bisa berbeda pada setiap orang.
“Untuk makanan memang terus terang ada ruang untuk negosiasi dan biasanya itu individual sekali,” katanya.
Pada GERD, makanan berlemak dan gorengan sering memicu keluhan.
Sedangkan pada IBD, makanan tertentu juga dapat memperburuk peradangan.
“Untuk IBD, alkohol, merokok, emulsifier, gula murni, enggak bagus,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat tidak asal memberikan pantangan makanan pada pasien IBD.
Sebab kondisi setiap pasien berbeda.
“Pantangan yang salah bisa justru memperburuk penyakitnya atau dampak dari penyakitnya, khususnya status nutrisinya,” ujarnya.
Pada pasien IBD yang sedang mengalami flare atau kekambuhan berat, serat biasanya dikurangi sementara untuk membantu mengurangi frekuensi diare.
Namun saat kondisi remisi, pola makan bisa lebih longgar.
IBD Bisa Berlangsung Seumur Hidup
Prof Murdani menjelaskan, IBD merupakan penyakit kronis yang dapat berlangsung lama bahkan seumur hidup.
Namun kondisi pasien bisa tetap stabil bila pengobatan dilakukan dengan tepat.
“Pada IBD, pengobatan itu ada dua tahap,” katanya.
Tahap pertama disebut terapi induksi untuk meredakan radang dan mencapai remisi.
Setelah itu pasien menjalani terapi maintenance untuk mempertahankan kondisi tetap stabil.
“Ada orang setahun, dua tahun diobati, remisi, di-stop obatnya flare. Maka obat mesti dimulai kembali,” jelasnya.
Pada sebagian pasien, pengobatan bahkan bisa berlangsung seumur hidup tergantung tingkat keparahan penyakit.
Pemeriksaan Penting untuk Pastikan Diagnosis
Prof Murdani mengatakan masyarakat tidak bisa memastikan sendiri apakah keluhannya GERD atau IBD hanya berdasarkan gejala.
Dokter biasanya memerlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis.
“Mungkin akan dilakukan EKG, endoskopi, gastroskopi untuk melihat lambungnya, esofagusnya,” katanya.
Selain itu, pada dugaan IBD dokter juga dapat melakukan pemeriksaan feses, kolonoskopi, dan biopsi.
“Untuk memilah mana yang GERD, mana yang IBD, mana yang bukan IBD,” ujarnya.
Prof Murdani mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan ketakutan ketika mengalami keluhan lambung atau pencernaan.
Namun di sisi lain, gejala yang berlangsung lama juga tidak boleh diabaikan.
“Banyak orang tambah stres karena takutnya saya dapat diagnosis GERD, waduh saya akan kanker esofagus,” katanya.
Padahal menurutnya, tidak semua GERD berujung komplikasi berat.
Karena itu ia menekankan pentingnya memahami kondisi secara tepat dan memeriksakan diri bila keluhan terus berulang.
“Lebih penting adalah mengkonfirmasikan ke ahlinya,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan