Ringkasan Berita:
- Penyakit perlemakan hati sering berkembang tanpa gejala, sehingga banyak orang tidak menyadari kondisinya hingga memburuk.
- Obesitas memicu gangguan metabolik yang merusak hati; jangan hanya fokus pada berat badan, tapi juga kesehatan organ dalam.
- Segera lakukan skrining jika Anda memiliki risiko obesitas atau diabetes untuk mencegah kerusakan hati yang permanen.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang menjalani hari seperti biasa. Bangun pagi, bekerja, beraktivitas, makan, lalu kembali beristirahat.
Tubuh terasa baik-baik saja. Tidak ada nyeri, tidak ada keluhan yang membuat seseorang merasa harus segera memeriksakan diri.
Namun, kondisi itu belum tentu menggambarkan apa yang terjadi di dalam tubuh.
Ada satu organ yang bisa mengalami perubahan secara perlahan tanpa memberikan tanda yang jelas, yakni hati.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah penyakit perlemakan hati atau fatty liver disease, yaitu ketika terjadi penumpukan lemak berlebih di hati.
Baca juga: Pernah Berbobot 100 Kg, Dokter Gia Pratama: Pencegahan Obesitas Penting agar Beban BPJS Tak Naik
Masalah ini menjadi perhatian karena sering kali baru diketahui ketika kondisinya sudah berkembang.
Dalam momentum Global Fatty Liver Day 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Novo Nordisk Indonesia mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk mulai peduli terhadap kesehatan hati.
Terutama karena salah satu faktor risiko yang semakin menjadi perhatian adalah obesitas.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen.
Sementara obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 36,8 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa kelebihan lemak tubuh menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu diperhatikan.
Sebab, lemak tidak hanya berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh yang terlihat dari luar.
Di dalam tubuh, lemak juga dapat berkaitan dengan gangguan metabolik yang memengaruhi berbagai organ, termasuk hati.
“Fatty liver merupakan salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih karena sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang jelas. Salah satu pemicu utama di balik kondisi ini adalah obesitas, yang kini menjadi tantangan kesehatan serius di tanah air,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur PTM Kementerian Kesehatan RI pada diskusi media di Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).
Ia menjelaskan, meningkatnya obesitas dapat berjalan seiring dengan meningkatnya risiko penyakit kronis.
“Seiring meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, risiko terjadinya fatty liver dan berbagai penyakit kronis lainnya juga semakin tinggi. Obesitas bahkan dikenal sebagai ‘mother of all chronic diseases’ karena dapat menjadi pemicu berbagai komplikasi kesehatan,” katanya.
Saat Hati Tidak Memberi Sinyal
Berbeda dengan beberapa penyakit yang menimbulkan rasa sakit atau keluhan jelas, perlemakan hati sering kali tidak langsung terasa.
Seseorang bisa tetap merasa bugar, menjalankan rutinitas, dan tidak menyadari bahwa ada perubahan yang sedang berlangsung.
Prof. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Cipto Mangunkusumo, menjelaskan bahwa kondisi ini memang dapat berjalan tanpa gejala pada tahap awal.
“Penyakit perlemakan hati perlu dipahami sebagai suatu spektrum. Pada tahap awal, kondisi ini dapat berupa penumpukan lemak di hati,” jelas Prof. Rino.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele.
Jika faktor risiko tidak dikendalikan, sebagian pasien dapat mengalami perkembangan penyakit menjadi MASH atau bentuk perlemakan hati yang sudah disertai peradangan dan kerusakan sel hati.
“Namun, apabila faktor risikonya tidak dikelola dengan tepat, sebagian pasien dapat mengalami progresi menjadi MASH, yaitu bentuk yang lebih berat karena sudah melibatkan peradangan dan kerusakan sel hati,” lanjutnya.
Dalam perjalanan panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati.
Berat badan bukan soal angka di timbangan
Selama ini obesitas sering dipahami hanya sebagai persoalan angka di timbangan. Padahal, yang terjadi di tubuh jauh lebih kompleks.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolisme, dan Diabetes dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, menjelaskan bahwa obesitas berkaitan dengan proses metabolik di dalam tubuh.
“Kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memicu resistensi insulin, inflamasi, dan gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk hati, jantung, dan pembuluh darah,” ujar dr. Dicky.
Karena itu, upaya menjaga berat badan bukan hanya bertujuan mengubah tampilan fisik.
Lebih penting, menjaga agar metabolisme tubuh tetap sehat.
“Tujuan tata laksana obesitas bukan hanya menurunkan angka berat badan, tetapi juga mendukung quality weight loss dan kesehatan metabolik jangka panjang,” katanya.
Masyarakat yang memiliki obesitas, obesitas sentral, diabetes tipe 2, maupun hasil pemeriksaan fungsi hati yang tidak normal perlu lebih waspada.
Sebab, hati yang tampak tenang dari luar tetap membutuhkan perhatian.
Dengan deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko, risiko perkembangan penyakit dapat dicegah lebih awal.
Baca tanpa iklan