News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Lokal Asri

Canang Sari: Tradisi Bali yang Menyatukan Doa & Harmoni Alam Indonesia

Editor: Content Writer
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

CANANG SARI - Canang Sari, persembahan harian masyarakat Bali yang menyatukan doa, spiritualitas, dan harmoni dengan alam Indonesia.

TRIBUNNEWS.COM - Indonesia memiliki kekayaan budaya lokal yang selalu menarik untuk diulas. Salah satunya adalah tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Bali, Canang Sari, persembahan yang mudah ditemukan di pura, rumah, hingga sudut jalan. Terbuat dari daun lontar, bunga warna-warni, dan berbagai unsur alam Indonesia, Canang Sari menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas masyarakat Hindu Bali.

Apa Itu Canang Sari?

Dalam jurnal "Teo Estetis Canang Sari" (2020) dijelaskan bahwa kata canang berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti sirih, yang dahulu sangat bernilai dan menjadi simbol penghormatan bagi tamu yang utama (uttama). 

Di Bali, tradisi mengunyah sirih dikenal dengan sebutan Pecanangan. Secara filosofis, ca berarti indah, sedangkan nang berarti tujuan. Dengan demikian, Canang Sari berfungsi sebagai sarana bahasa Weda untuk memohon keindahan (sundharam) di hadapan Sang Hyang Widhi.

Lebih dari sekadar tradisi, Canang Sari juga mencerminkan prinsip Tri Hita Karana, yakni menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai-nilai inilah yang membuat tradisi lokal Indonesia ini tetap relevan, sekaligus menjadi simbol keseimbangan dan keharmonisan hidup masyarakat Bali.

Sejarah Canang Sari

Sebelum Hindu masuk ke Bali, masyarakat lokal sudah mengenal persembahan untuk roh alam. Ketika Hindu berkembang, tradisi ini dibentuk ulang menjadi banten yang lebih terstruktur, hingga lahirlah Canang Sari sebagai persembahan harian. Praktik ini tumbuh di tengah kehidupan masyarakat yang hidup dekat dengan alam Indonesia yang asri.

Menurut jurnal "Canang Sari sebagai Sarana Ritual Masyarakat Hindu Bali" (2023), Canang Sari pertama kali disusun oleh Mpu Sangkulputih, penerus Danghyang Sri Markandeya di Pura Besakih pada abad ke-8 hingga ke-14. Ia merumuskan bentuk Canang Sari agar mudah dibuat oleh setiap keluarga, sehingga menjadi bagian dari tradisi lokal Indonesia yang terus diwariskan sampai sekarang.

Baca juga: Dari Lokal Asri untuk Alam Indonesia: Gerakan Kolektif dan Inisiatif Menjaga Keberlanjutan

Komponen Canang Sari 

1. Ceper

Ceper adalah alas anyaman dari janur atau bambu yang menjadi dasar seluruh rangkaian. Bagian ini melambangkan fondasi harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.

2. Porosan

Porosan berisi sirih, pinang, dan kapur sebagai simbol tiga kekuatan utama Tuhan. Unsur ini dianggap inti kesucian dan selalu diletakkan pertama untuk menyucikan persembahan.

3. Wija (Bija)

Wija berupa butir beras yang melambangkan benih kehidupan dan kesuburan alam Indonesia. Kehadirannya mengingatkan manusia pada asal-usul kehidupan dan kedekatan dengan alam yang asri.

4. Panca Warna (Bunga Lima Warna)

Panca Warna terdiri dari bunga putih di timur untuk Dewa Iswara, merah di selatan untuk Dewa Brahma, kuning di barat untuk Dewa Mahadeva atau Siwa, dan biru/ungu di utara untuk Dewa Wisnu. Setiap warna mewakili arah mata angin sekaligus kekuatan dewa penjaga, mencerminkan harmoni dan keseimbangan kosmis dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali.

5. Sampian / Hiasan Janur

Sampian adalah hiasan dari janur yang dianyam untuk mempercantik persembahan. Bagian ini mencerminkan kreativitas lokal dan ketelatenan masyarakat Bali.

6. Sari

Sari merupakan isi tambahan seperti bunga lain, jajan, atau buah kecil yang melambangkan ketulusan pemberi. Elemen ini menjadi wujud syukur yang paling esensial dalam Canang Sari.

7. Dupa

Dupa dihadirkan sebagai penyempurna, dengan asap yang dipercaya membawa doa menuju alam niskala. Aromanya membantu menciptakan suasana hening dan khusyuk saat sembahyang.

Makna Canang Sari 

Selain menjadi simbol spiritual, Canang Sari juga berfungsi sebagai momen hening bagi masyarakat Bali di tengah kesibukan sehari-hari, lho! Proses merangkainya memberikan ruang untuk menata pikiran dan menghadirkan ketenangan batin, sehingga seseorang bisa sejenak melepas hiruk-pikuk kehidupan.

Makna Canang Sari pun sangat personal. Setiap persembahan membawa doa dan niat yang berbeda, membentuk komunikasi batin yang unik bagi setiap individu. Praktik ini menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan lingkungan, sehingga spiritualitas yang berasal dari Canang Sari bukan hanya hadir dalam ritual besar di Bali, tetapi juga menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Lebih dari sekadar simbol, keindahan dan kerapian setiap unsur Canang Sari, mulai dari daun lontar hingga bunga warna-warni, menegaskan cinta masyarakat Bali terhadap tradisi. Setiap detail menciptakan harmoni yang menyatu dengan kehidupan, sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya menghargai dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya.

Baca juga: Fakta Kemenyan: Bukan Aroma Mistis, tapi Keajaiban dari Alam Indonesia

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini