Aku meminjam naskah ini dari sebuah cerita Persia “Parsipoor”:
Jika aku hamil, semuanya akan lebih baik buat, pikir Mahdocht. Kakak laki-lakiku akan membunuhku sampai mati.
“Hilangnya keperawananku terjadi karena sebatang pohon,” gumam Machdocht. “Karenanya kulitku berwarna kehijauan.” Keperawanan tipis seperti halnya helai bulu burung, helai tipis dari daging, jelas nenek selalu; jika kau loncat dari ketinggian, keperawananmu akan rusak.
“Itu tidak benar, Nek. Bukan selaput, tetapi sebuah lubang kecil, jika satu kali kau memakainya, dia akan membesar,” kata Mahdocht.
“Ihh, menjijikkan,” teriak nenek. “Pergi jauh-jauh dariku.”
“Aku tidak mengatakan sesuatu yang salah. Aku membacanya dari sebuah buku. Aku membaca banyak buku. Dia adalah sebuah lubang.”
Macdocht duduk di dekat jendela dan menatap ke arah kebun, duapuluh delapan tahun lamanya ia terus memikirkan keperawanan. Ia masih berusia sekitar delapan tahun, ketika orang-orang mulai bicara bahwa jika seorang gadis kehilangan keperawanannya, Tuhan tak akan pernah memaafkan. Dia menatap ke arah pepohonan, dan menghela nafas. Ia selalu ingin memanjat pohon, tetapi dia takut keperawanannya akan rusak.
Tetap perawan dan tetap mempertahankannya, adalah penting dalam negeri-negeri Islam. Para lelaki yang mengimport mempelainya dari tanah kelahirannya, adalah penjaga utama tradisi ini. Kendati mereka hidup dalam sebuah negara yang demokratis di Eropa, toh ketika mereka hendak menikah mereka tetap bersikutat dengan ide ini.
Mereka tetap mempertahankan perilaku macho tadi. Yang jelas menghujat inti kebebasan perempuan. Padahal di sini di Eropa, mereka mengkonsumsi kebebasan habis-habisan, dan memanfaatkannya. Namun jika bicara tentang hak kaum perempuan, mereka tidak mau tahu.
Ini adalah sebuah kendala besar bagi kebebasan kaum perempuan beragama. Kalung rantai berat yang diikatkan kaum lelaki pada kaki para perempuan.
Padahal kaum lelaki, bisa seenaknya menentukan di ranjang mana mereka bisa berguling-guling. Tetapi manakala mereka hendak menikah, mereka mencari kaum perempuan yang belum pernah melihat tubuh lelaki. Kaum migran Muslim dari generasi kedua atau ketiga ini, ketakutan dengan kaum perempuan yang kesadarannya sudah terbangun. Karenanya mereka mencari mempelai dari tanah kelahirannya sendiri. Yang penurut.
Lalu begitulah, peristiwanya kembali berulang : para lelaki kembali mengalungkan rantai di pergelangan kaki para perempuan migran baru ini. Mengencingi tiang-tiang demokrasi, lalu pergi sambil bersiul-siul. Sementara para mempelai perempuan, tak bisa lain selain menerima perilaku para suaminya. Mereka duduk tak bergerak seperti tikus kena perangkap lem. Ironis.
Dalam dunia sastra atau film, tema ini kerapkali dihadapkan ulang. Sering kiita mendengar, tentang seorang gadis yang bunuh diri. Atau para lelaki berduel dengan pedang di tangan. Dan tentang para orang tua yang tidak bahagia. Juga tentang para dukun dan dokter, yang mereparasi keperawanan. Tetap perawan adalah sebuah pasport, kartu penduduk bagi seorang gadis, jika tidak dia illegal.
Pada musim rontok berikutnya, pohon Mahdocht ditanam di sepanjang tepi sungai. Lalu pada musim semi, tak lama setelah hujan pertama turun, tumbuh pucuk-pucuk daun dari jari jemari tangannya. Dan dari telapak kakinya muncul akar-akar lembut menembusi tanah.
(Dari : Vrouwen zonder mannen, Karavan, Kader Abdolah: De Geus,2003)
Kader Abdolah adalah seorang kolumnis migran terkemuka di Belanda. Tahun 1988, ia lari ke Belanda sebagai pelarian politik masa transisi Rezim Syah Pahlevi dan Ayatullah Khoimeni. Dua orang karibnya dihukum gantung, karena aktif dalam pergerakan klandestin yang berorientasi sosialis-komunis.
*)Lea Pamungkas, penulis, kini bermukim di Belanda
Para Perempuan tanpa Lelaki
Penulis: Prawira
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan