News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Anda Gila Belanja?Awas Ini Gangguan Psikologis

Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pengunjung Plaza Medan Fair memilih aksesori di satu tenant, Medan, Senin (6/6/2011). Aksesori seperti bros dan aneka perhiasan imitasi dijual mulai harga Rp 30 ribu hingga Rp 500 ribu. (TRIBUN MEDAN/TAUFAN WIJAYA)

Laporan: Rio Batubara, Wartawan Tribunnewsbatam.com

TRIBUNNEWS.COM - JALAN-jalan ke mal, masuk satu butik ke butik lain sambil menenteng barang-barang belajaan pasti sangat menyenangkan. Sepatu branded keluaran terbaru, tas dengan model yang lagi happening, baju, aksesori dan barang fashion lainnya.

Saat belanja sih nggak terasa kalau uang sudah terkuras dan berubah jadi aneka barang. Apalagi, kalau pakai sistem gesek. Entah itu pakai kartu debit maupun kartu kredit. Setelah sampai ke rumah dan dihitung-hitung, rupiah yang keluar ternyata lumayan fantastis.

Kalau pakai kartu debit mungkin masih bisa mengetatkan ikat pinggang sampai akhir bulan, beda dengan kartu kredit yang tentu saja masih harus mencari cara mendapatkan uang untuk membayar tagihan.

Menurut Evy Rakryani, psikolog Batam Medical Centre, pada dasarnya wanita adalah makhluk yang selalu ingin tampak menarik. Kecenderungan ingin menarik perhatian dan keinginan tampil beda seringkali berdampak berbeda pada wanita.

"Secara natural wanita itu pecinta keindahan. Jadi bila berhadapan dengan barang-barang yang indah sering terpengaruh. Hal tersebut tak masalah asalkan masih dalam batas normal," ujarnya.

Wanita yang akrab dipanggil Evy ini menjelaskan, apabila wanita belanja di luar kendali maka hal tersebut harus diwaspadai. "Gangguan perilaku ini sering disebut shopaholic. Dalam istilah psikologinya orang tersebut menderita obsesif kompulsif. Orang tersebut baru bisa nyaman apabila diwujudkan dengan tindakan yaitu belanja," jelasnya.

Lalu bagaimana agar tak terjebak dengan ritme shopaholic? Evy menyarankan sebaiknya ada komitmen dari diri sendiri untuk bisa mengatasi gangguan tersebut. "Buatlah rancangan keuangan dan sesuaikan dengan budget dan berkomitmen untuk terus mematuhinya," kata dia.

Selain itu, Mbak Evy melanjutkan orang shopaholic butuh bantuan orang sekitar untuk mengontrol dirinya seperti sahabat atau pun suami. "Kecenderungan orang shopaholic tidak bisa mengontrol diri. Karena itu untuk sementara dibutuhkan bantuan dari orang-orang sekitarnya," ungkapnya.

"Temani mereka ketika berbelanja atau sedang memilih barang. Sehingga mereka bisa diingatkan apabila tidak terkontrol. Hal ini harus dilakukan untuk sementara waktu. Hingga Anda bisa mengontrolnya," tutupnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini