News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tenun Ikat Sukarara nan Memikat

Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Tenun sukarara

TRIBUNNEWS.COM - Tak, tuk, tek, tek... Di desa ini, ramai terdengar suara alat tenun di lorong-lorong jalan.Para ibu dan anak-anak perempuan tampak sibuk nyensek di beruga. Beginilah suasana sehari-hari di desa Sukarara.

Nyensek adalah kegiatan menenun. biasanya kegiatan ini dilakukan di beruga. Beruga merupakan pondok kecil untuk bersantai dan duduk-duduk di depan rumah.

Desa Sukarara terletak di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Desa ini merupakan desa penghasil tenun Lombok yang terkenal. Hampir setiap rumah di desa ini memiliki gedogan. Yaitu, alat tenun tradisional khas Lombok.

Semua perempuan asli Lombok harus bisa menenun. Sebab, menurut kepercayaan di Lombok, perempuan yang belum bisa menenun, belum boleh menikah. Jadi, seorang anak perempuan di desa ini, biasanya sudah diajarkan menenun sejak berusia 7 tahun.

Tenun ikat Sukarara masih dibuat dengan cara tradisional. Biasanya, perajin tenun menenun tanpa membuat pola. Semua motif, corak, atau pola hanya ada dalam imajinasi sang perajin.

Lihatlah hasil tenunan warga desa Sukarara! berwarna-warni seperti pelangi, bukan?Selain harus pandai berimajinasi, sang perajin tenun juga harus memiliki kesabaran yang tinggi.   

Bayangkan saja! Penenun harus menjalin lembar demi lembar benang hingga menjadi sehelai kain. Apalagi, dengan menggunakan gedogan, kain yang dihasilkan hanya bisa selebar 60 cm saja.

Jadi, kalau si penenun ingin membuat sarung selebar lebih dari 60 cm, dia harus menenun lagi. Setelah itu, barulah tenunan-tenunan itu digabungkan. Tentu saja, semua itu membutuhkan waktu yang cukup lama.

Ohya, bahan pewarna kain tenun di desa ini pun masih dibuat dengan cara alami. Misalnya untuk warna oranye dibuat dari batang asam. Warna ungu dibuat dari batang talas. Karena itu, tak heran kalau harga tenun ikat Sukarara jadi mahal. Sebab, untuk membuatnya, dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang luar biasa.

Tenun ikat Sukarara memiliki beraneka motif khas Lombok. Ada motif tokek, kuda terbang, paresean, dan yang paling terkenal adalah motif subahnale.

Kata subahnale berasal dari bahasa Arab, subhanallah . Yang artinya, Maha Suci Allah.
Subahnale merupakan lambang kekaguman dan keheranan.

Ini karena pada zaman dulu, orang Lombok hanya bisa membuat tenun dengan motif sederhana. Sedangkan subahnale adalah motif yang rumit.

Sehingga, orang-orang terkagum-kagum pada motif tersebut, dan menyebut, subhanallah. Hehehe... Selain pandai berimajinasi dan memiliki kesabaran tinggi, para penenun di Sukarara juga kreatif memberi nama, ya! (Dwi)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini