Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Sedang tren putih insantan dengan memakai krim pemutih abal-abal.
- Di balik hasil yang cepat itu, terdapat proses merusak kulit yang berbahaya bagi tubuh.
- Dokter menjelaskan mengapa krim abal-abal bisa memberikan efek putih seketika.
TRIBUNNEWS.COM – Fenomena “putih instan” kembali ramai di media sosial. Banyak yang memamerkan hasil yang seolah sempurna setelah memakai krim racikan atau krim tanpa izin edar.
Padahal di balik hasil yang cepat itu, terdapat proses merusak kulit yang berbahaya bagi tubuh.
Baca juga: Hobi Beli Krim Pemutih Online? Awas! Tak Hanya Picu Jerawat Parah, Bisa Ancam Kesehatan Ginjal
Dokter spesialis dermatologi dan venereologi (Kulit dan Kelamin) Dr. Idrianti Idrus SpDVE, menegaskan bahwa krim abal-abal memang didesain untuk memberikan efek putih seketika, namun dengan cara menggerus lapisan pelindung kulit.
“Kenapa kita concern sekali sama krim-krim yang tidak bertanggung jawab ini, karena pertama, mereka menawarkan hasil yang singkat, langsung putih,” ujarnya pada acara Media Interview Session & Doctor Appreciation yang diselenggarakan oleh ISISPHARMA bersama Regenesis Indonesia di Tangerang, Kamis (5/12/2025).
Fenomena ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena mayoritas produk tersebut beredar secara online.
Tanpa pengawasan bahan, tanpa uji keamanan, dan mengandung zat kimia keras seperti merkuri atau hidrokuinon dosis tinggi.
Efek ‘Langsung Putih’: Ternyata Bukan Kulit Sehat
Krim abal-abal memberikan tampilan putih hanya dalam beberapa hari. Namun menurut dr. Idrianti, efek tersebut terjadi melalui mekanisme berbahaya.
“Itu kenapa bisa langsung putih? Nah, itu karena terjadi over-exfoliasi, pigmentnya dikasih turun, sehingga tidak terjadi hyperpigmentasi,” jelasnya.
Proses ini bukan membuat kulit lebih sehat, melainkan:
Mengikis lapisan kulit terlalu cepat (over-exfoliation)
Menurunkan pigmentasi secara paksa
Memaksa kelenjar minyak bekerja berlebihan
Akibatnya kulit tampak cerah, tetapi sesungguhnya sangat rapuh dan sensitif.
Efek Singkt, Kulit Merah, Tipis, dan Jerawat Berulang
Efek singkat yang sering dianggap sebagai “purging” sebenarnya tanda kerusakan.
Menurut dr. Reiva, akibat over-exfoliasi kulit menjadi:
- Merah-merah
- Mudah iritasi
- Tipis sampai pembuluh darah terlihat
- Muncul jerawat berulang
“Walaupun memang nampak putih, tetapi pembuluh darahnya akan nampak (kulit tipis), sehingga akan memicu jerawat yang terjadi berulang,” tuturnya.
Ketika pemakaian dihentikan, kerusakan makin terlihat, flek menjadi jauh lebih gelap dan merata.
Bisa Picu Flek Hitam yang Justru Semakin Parah
Pemakaian krim berbahaya juga dapat memicu okronosis, yaitu penggelapan kulit yang terjadi terus-menerus bahkan setelah berhenti memakai krim.
“Jadi yang kalau kita bilang itu okoronosis. Nah, okoronosis itu ada dua, bisa dia di luar, exogen sama endogen,” kata dr. Idrianti.
Bahkan pada kasus endogen, pigmen berbahaya bisa masuk sampai ke organ tubuh, ditandai dengan munculnya bintik hitam di area seperti lidah.
Risiko Jangka Panjang: Gagal Ginjal hingga Cacat Janin
Ketika krim abal-abal digunakan terus-menerus, zat berbahaya akan terserap ke dalam darah. Dampaknya bukan hanya pada kulit.
Ia mengingatkan, banyak laporan menyebutkan risiko:
-Gagal ginjal akibat paparan logam berat
-Cacat janin jika digunakan oleh ibu hamil
-Gangguan pertumbuhan tulang dan otak pada janin
“Kalau jika dipakai jangka lama, dan juga cacat, jika dipakai oleh ibu hamil, bisa menjadi cacat janin,” tegasnya.
Pemakaian satu badan (full body whitening) bahkan meningkatkan paparan logam berat setiap hari, sehingga risiko sistemik menjadi lebih besar.
Bahaya Lain: Potensi Kanker dan Kerusakan Kulit Permanen
Paparan berulang bahan iritatif dan pemutih keras dapat membuat sel-sel kulit lebih rentan terhadap kerusakan.
Dr. Idrianti menjelaskan bahwa iritasi berkepanjangan dapat memicu sel menjadi lebih agresif, terutama ketika terpapar sinar matahari berlebih.
Baca juga: Kasir Minimarket di Tangerang Cabuli Bocah Modus Top Up Gratis, Ajak ke Toilet Bawa Krim Pelicin
Pada kondisi ekstrem, pasien datang dengan:
Kulit melepuh
Luka bernanah
Pigmentasi hitam pekat setelah berhenti memakai krim
Kulit sangat tipis hingga pembuluh darah tampak jelas
“Dok, saya habis pakai ini 2 minggu saja bagus, tapi kemudian tiba-tiba flek” ujarnya menirukan keluhan pasien.
Mengapa Banyak yang Tetap Tergoda?
Efek putih cepat memang sangat menggoda, terutama ketika produk dijual dengan narasi “instan”, “glowing dalam 3 hari”, atau “hasil permanen”.
Namun krim yang aman tidak bekerja instan. Perubahan kulit membutuhkan waktu, dan hanya bisa dicapai dengan formula yang teruji klinis.
Dr. Idrianti menegaskan, pihak yang menjual krim berbahaya ini “zalim”, karena merusak kesehatan banyak orang demi keuntungan.
Baca tanpa iklan