TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Liong Lenny Erwati Nogosannyono (45 tahun) tewas dihabisi sekelompok bandit bersenjata api. Sudah 12 hari berlalu ia diberondong timah panas. Malam naas itu, Selasa (23/10/2012), korban duduk di samping Sin Harjo Budiarta (44), suaminya, yang mengemudikan mobil boks bernopol B 9091 VJ.
Hingga kini, kejadian tersebut masih gelap, misterius. Polisi belum juga menemukan titik terang motif dan pelaku. Betulkah ada kemungkinan pembunuh bayaran (PB) yang mencabut nyawa wanita pengusaha itu?
Polisi masih berupaya menguak misteri pelaku penembakan brutal tersebut. Untuk mendapat keterangan lebih lanjut, polisi memeriksa tujuh saksi baru, yaitu sopir, pembantu, dan karyawan toko milik Lenny.
"Diperiksa tujuh saksi lain, tiga pegawai toko, satu sopir korban, sisanya pembantu korban," ujar Kasubag Humas Polres Jakarta Selatan Kompol Aswin di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Jumat (2/11/2012).
Di malam kejadian itu, sekitar empat orang yang mengendarai dua sepeda motor tiba-tiba menghadang laju mobil boks Mitsubishi hitam yang dikemudikan Harjo Budiarta, saat melintas di Jalan Raya Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Satu dari empat pengendara motor, memalang jalan dan melepaskan tembakan ke arah mobil. Usaha pertama ini, Harjo maupun istrinya luput dari sasaran. Mobil yang dikemudikan Harjo itu dapat menghindari hadangan pelaku.
Belum jauh pasangan suami istri itu menyelamatkan diri, dari samping kiri mobil, sebuah sepeda motor memepet dan langsung memecahkan kaca pintu mobil dengan sebilah golok. Selintas kemudian, peluru dimuntahkan dari pistol. Punggung kiri Lenny terkena tembakan. Peluru tembus ke leher kanan. Timah panas itu membuatnya sekarat.
Pelaku yang tak satu pun mengenakan penutup wajah itu kemudian melarikan diri, tanpa mengambil harta korban. Hampir setiap hari, korban dan suami melintas jalan tersebut dari toko mereka di kawasan Pasar Kebayoran Lama menuju kediaman di kawasan Cidodol.
Jasad Liong Lenny Erwati Nogosannyono sempat disemayamkan di Holy Funeral Home RS Atma Jaya, Lantai 1, Ruang J-K-L, Jalan Pluit Raya No. 2, Jakarta Utara. Jenazahnya dikebumikan Minggu (28/10) di pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Mendiang meninggalkan tiga anak, Andrew Budiarta, WiIly Budiarta, dan Edward Budiarta.
Selasa pekan ini, atau seminggu setelah kematian istrinya, Harjo Budiarta diperiksa di Mapolres Jakarta Selatan. Tidak ada kemajuan signifikan karena Harjo sama sekali tidak mengenali penembak. Walaupun polisi memperlihatkan sketsa wajah pelaku, Harjo tetap tak kenal. "Sketsa wajah enggak dikenal, suami korban juga tidak mengenali. Dia kan waktu kejadian dalam keadaan panik," ujar Aswin.
Aswin menuturkan belum jelas apa motif yang melatarbelakangi aksi penembakan. Begitu juga dengan dugaan adanya motif pribadi, belum bisa dibuktikan. "Motif masih dipelajari, karena dari keterangan saksi belum mengarah ke motif pribadi, masih dalam penyelidikan," ucapnya.
Seberapa sulit menelusuri kasus ini? Apakah pelaku sungguh profesional dan terlatih sehingga tidak meninggalkan jejak yang menjadi pintu masuk polisi mengungkap pelaku? Bagaimana kemungkinan dugaan adanya keterlibatan pembunuh bayaran?
"Makanya untuk menjawab itu (termasuk kemungkinan pembunuh bayaran), penyidik masih menelusuri dan menghimpun berbagai keterangan dari saksi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Jumat (26/10/2012), tiga hari pascapenembakan.
Rikwanto mengaku tidak menutup kemungkinan penyidik mendalami adanya peran pembunuh bayaran (PB) dalam kasus koboi jalanan tersebut. "Itu (peran pembunuh bayaran) juga perlu didalami. Bisa juga motifnya upaya perampokan namun gagal sehingga si pelaku marah tapi ada kemungkinan juga keluarga atau korban terlibat konflik atau sengketa sebelumnya. Makanya semuanya masih perlu pendalaman," tutur Rikwanto.
*Silakan Klik di Sini untuk update Tribun Jakarta Digital Newspaper
Baca tanpa iklan