News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ujian Nasional

Pengawas Ujian Nasional Kebingungan Cari SMA 19 PGRI

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Petugas bongkar 1.701 kotak berisi soal Ujian Nasional (UN) 2013 di Dinas Pendidikan Kota Semarang, Jalan Dr Wahidin, Kota Semarang, Jateng, Sabtu (13/4/2013). Soal ujian akan didistribusikan ke seluruh rayon pada Minggu (15/4/2013) dan akan dibagikan ke 29.522 peserta SMA, SMA dan MA se Kota Semarang selama ujian berlangsung pada 15-18 April mendatang. (TRIBUN JATENG/Wahyu Sulistiyawan)

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Theo Yonathan Simon Laturiuw

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekolah Menengah Atas 19 PGRI yang sudah tutup empat tahun lalu, masih terdaftar mengikuti Ujian Nasional (UN). Akibatnya pengawas sekolah dari Universitas Indonesia kebingungan mencarinya.

Rosya (24), Mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Indonesia, mengaku kebingungan mencari SMA 19 PGRI itu.

Perempuan berjilbab itu mengaku, sebelumnya mencari sekolah itu sejak Jumat (12/4/2013) mulai pukul 11.00 - 13.00 WIB, tetap tak ketemu. Dia baru mendapat lokasi sekolah tutup itu pada Sabtu (13/4/2013).

"Saya telepon ke informasi telkom 108, ternyata kata operator tak ada sekolah tersebut. Lalu saya cari di internet hanya ada alamatnya saja, yaitu di Kemayoran Gempol," kata Rosya kepada Wartakotalive.com (Tribunnews.com Network), Sabtu (13/4/2013) ketika ditemui di SMAN 35 Jakarta.

Kemudian, Rosya baru melanjutkan mencari lagi Sabtu (13/4/2013). Dia mendapatkan SMA 19 PGRI itu di bangunan SD 09, 10 Kebon Kosong. Ternyata, kata Rosya berdasarkan informasi dari security sekolah, SMA 19 PGRI sudah tak disitu sejak empat tahun lalu.

"Kok masih terdaftar ya," kata Rosya kepada Wartakotalive.com.

Sementara itu, Kasudin Pendidikan Menengah Jakarta Pusat, Zainal Abidin, mengatakan, SMA 19 PGRI bukannya tutup, tetapi sekolahnya tak layak menyelenggarakan Ujian Nasional secara mandiri. Namun Zainal membenarkan bahwa sekolah tersebut sudah pindah dari alamat di Kemayoran Gempol yang terdaftar di Sudin Dikmen Jakarta Pusat.

Tak layak menyelenggarakan UN sendiri, lantaran SMA itu tak memiliki bangunan sendiri, sehingga selalu menumpang dan berpindah-pindah. Makanya, kata Zainal, selama UN, siswa-siswi SMAN tersebut dititipkan di sekolah lain.

"Nanti guru pengawas akan kami sebar ke sekolah-sekolah lain di sekitar kemayoran," kata Zainal kepada Wartakotalive.com, ketika dihubungi.

Sementara itu, untuk pengawas sekolah dari mahasiswa Pasca Sarjana akan menjadi cadangan dan dikerahkan ke sekolah yang kekurangan pengawas sekolah.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini