News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pilgub DKI Jakarta

Dampak Tak Hadir Debat Bisa Turunkan Elektabilitas Anies-Sandi Secara Drastis

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Calon Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat, melakukan flash mob dalam acara Rosi dan Kandidat Pemimpin Jakarta yang disiarkan langsung oleh Kompas TV di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Minggu (2/4/2017). Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno tidak hadir dalam acara debat yang digelar Kompas TV, pada Minggu malam (2/4/2017).

Pengamat Politik, Sebastian Salang menilai ketidakhadiran pasangan Anis-Sandi dalam forum yang disediakan Kompas TV tadi malam, sangat merugikan dirinya.

Pasalnya, pasangan ini telah menyia-nyiakan kesempatan gratis yang disediakan TV tersebut.

Lebih parahnya lagi, Anies-Sandi bisa dinilai sebagai pasangan yang takut berdebat, tidak punya program yang jelas, takut ketauan programnya tidak realistis dan menawarkan angin.

"Penilaian seperti ini tidak terhindarkan, lantaran mereka mengurungkan niatnya di saat terakhir dan justru menawar bentuk acara yang berbeda bukan debat," ujar Kordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) itu kepada Tribunnews.com, Senin (3/4/2017).

Meskipun Anies-Sandi memiliki alasan untuk membatalkan kehadiran dalam debat tersebut, tetapi publik pasti punya penilaian sendiri.

Sebastian Salang melihat, dampaknya bisa menurunkan elektabilitas Anies-Sandi secara drastis. Sebab lebih dari 75% pemilih Jakarta adalah kaum terdidik.

"Secara teori, Kelompok ini memilih berdasarkan pertimbangan rasional, yakni visi dan program calon. Semakin banyak debat semakin mempengaruhi penilaian dan keputusan mereka untuk memilih," kata Sebastian Salang.

Selain itu, 22% Golput pada putaran pertama juga adalah kaum terdidik yang belum mampu diyakinkan oleh calon pada putaran pertama.

Sebab itu, Anies telah membuang kesempatan berharga itu untuk meyakinkan pemilih.

"Dan sangat aneh buat pasangan ini, sebab Anis seorang intelektual mestinya sangat mendukung jika dialog atau debat sering dilakukan. Apalagi hal ini diselenggarakan oleh televisi yang ditonton begitu banyak orang, tidak hanya Jakarta tapi seluruh Indonesia," ujarnya.

"Jadi efek psikologisnya sangat tinggi bagi masyarakat."

Sebaliknya, bagi pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, acara debat di program Rosi di Kompas TV, merupakan kesempatan emas yang dimanfaatkan secara maksimal untuk menyampaikan secara detail dan gamblang programnya serta mengklarifikasi berbagai isu sesat di masyarakat.

"Program kompas tv itu menjadi kampanye gratis bagi Ahok-Djarod," kata Sebastian Salang.

Bisa jadi penjelasan yang panjang lebar pasangan ini tentang pengembangan program mereka kedepan, imbuhnya, pemilih mengambang jadi punya kepastian dalam memilih.

Bahkan pemilih Anies-Sandi bisa saja kecewa, karena jagonya tidak hadir debat dan kecewa lalu beralih ke pasangan nomor dua.

"Akhirnya, kita serahkan pada pemilih Jakarta untuk menentukan pilihannya. Dari kampanye dan pemaparan program selama ini, pemilih dapat menilai mana yang lebih pantas menjadi pemimpin Jakarta utk membawa Jakarta lebih baik," ujarnya.

Sebelumnya ‎pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, tidak hadir pada acara debat di program Rosi di Kompas TV.

Ketika acara dimulai pada sekitar pukul 19.10 WIB, hanya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor pemilihan dua, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat, yang muncul di panggung.

Rosi mengatakan, awalnya acara debat itu dirancang untuk dihadiri oleh dua pasangan cagub-cawagub DKI.

"Namun acara ini tidak sesuai rencana. Hingga siang tadi kami mendapat konfirmasi calon nomor tiga tidak hadir," kata Rosi, di acara yang digelar di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, itu.

Meskipun salah satu pasangan calon tidak hadir, namun acara tersebut tetap berlangsung. Tidak adanya satu pasangan calon membuata format acara berubah menjadi talkshow.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini