News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga BBM Naik

Harga BBM Naik, Kelas Menengah Kembali Mengeluh: Pajak Tinggi, Pertamax Ikut Melambung

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Muhammad Zulfikar
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

HARGA BBM NONSUBSIDI - Antrean kendaraan roda dua atau sepeda motor tampak mengular panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2026) siang.

Ringkasan Berita:

  • BBM jenis Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan cukup signifikan, dari harga sebelumnya Rp12.300 kini menjadi Rp16.250 per liter.
  • Kenaikan harga yang menyentuh angka sekitar 25 persen ini dinilai sangat memberatkan, khususnya bagi masyarakat kelas menengah.
  • Kelompok masyarakat kelas menengah kembali menjadi pihak yang paling merasakan beban dari rentetan kebijakan penyesuaian tarif, mulai dari pajak hingga bahan bakar.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Antrean kendaraan roda dua atau sepeda motor tampak mengular panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2026) siang.

Pemandangan tersebut terlihat kontras di area pengisian BBM. Antrean panjang didominasi oleh para pengendara motor yang mengantre di mesin pompa bensin berjenis Pertalite.

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Kendaraan Antre Isi Pertalite di SPBU Kemang

Sementara itu, di mesin pompa Pertamax, kondisi cenderung lengang dan hanya terlihat beberapa pengendara sepeda motor yang melakukan pengisian.

Kondisi antrean Pertalite pada pagi hari ini tidak lepas dari imbas kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi jenis Pertamax RON 92 dan Pertamax Green RON 95.

Pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) secara resmi menaikkan harga kedua jenis BBM tersebut mulai Rabu, 10 Juni 2026 pukul 00.00 WIB.

BBM jenis Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan cukup signifikan, dari harga sebelumnya Rp12.300 kini menjadi Rp16.250 per liter.

Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) juga mengalami kenaikan dari harga sebelumnya Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Kenaikan yang dinilai cukup mendadak ini mengejutkan sejumlah pengendara yang biasa mengisi bahan bakar di SPBU Lenteng Agung.

Tri (30), seorang warga Lenteng Agung, mengaku baru mengetahui adanya kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut saat hendak mengisi bahan bakar pada pagi hari.

Ia pun langsung memutuskan untuk berpindah antrean ke jalur Pertalite guna menghemat pengeluaran hariannya.

"Saya baru tahu kalau hari ini naik harganya. Karena naik, otomatis saya langsung pindah ke Pertalite. Ya tidak apa-apa mengantre panjang hari ini, mumpung masih ada waktu senggang sebelum beraktivitas," ujar Tri saat ditemui di lokasi, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Sejumlah Pengendara Syok: Naiknya Nggak Pelan-pelan

Meski demikian, Tri menambahkan bahwa dirinya tidak akan memaksakan diri mengantre Pertalite, jika sedang dalam kondisi terburu-buru.

"Tapi kalau memang kondisinya sedang kepepet atau buru-buru, ya terpaksa beli Pertamax saja tidak masalah, asal tidak habis waktu mengantre di SPBU," tambahnya.

Di lokasi yang sama, keluhan mengenai tingginya kenaikan harga BBM non-subsidi ini juga disuarakan oleh pengendara lain.

Kenaikan harga yang menyentuh angka sekitar 25 persen ini dinilai sangat memberatkan, khususnya bagi masyarakat kelas menengah.

Septri (29), seorang warga Tanjung Barat yang juga tengah mengantre, mengkritik kebijakan ini.

Menurutnya, kelompok masyarakat kelas menengah kembali menjadi pihak yang paling merasakan beban dari rentetan kebijakan penyesuaian tarif, mulai dari pajak hingga bahan bakar.

"Naiknya lumayan tinggi ya, sekitar 25 persen. Lagi-lagi sektor kaum (kelas) menengah yang digenjot, mulai dari sektor pajak penghasilan yang makin digenjot, sampai sekarang ke BBM. Karena yang pakai Pertamax ini rata-rata kan memang kaum menengah," keluh Septri.

Kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang berada di antara kelas bawah dan kelas atas berdasarkan tingkat pendapatan, pengeluaran, aset, pendidikan, maupun gaya hidup.

Kendati merasa terbebani dengan harga baru Pertamax, Septri mengaku masih ragu untuk beralih menggunakan BBM bersubsidi jenis Pertalite demi menjaga performa mesin kendaraannya.

"Sebenarnya mau ganti atau beralih ke Pertalite juga masih agak ragu, karena takut kualitas mesin motor jadi cepat rusak kalau pakai BBM RON rendah," pungkasnya.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini